Jeda

Catatan Perempuan Kondangan Sendirian

Sylvia Masri - detikNews
Sabtu, 04 Apr 2020 13:00 WIB
biro jodoh
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sebagai perempuan lajang berusia 41 tahun, percayalah saya sudah biasa ke mana-mana sendirian. Ke mall, tempat-tempat wisata, restoran, bioskop, bahkan ke negara semacam Portugal, Rusia, dan Kanada melenggang solo. Biasa saja. Menjadi tak biasa jika lokasi yang dituju adalah tempat resepsi pernikahan. Berdebar-debar rasanya, seperti akan diwawancarai kerja pertama kali kala menganggur. Malah lebih mencekam.

Sebenarnya, sekali dua saya sudah pernah kondangan sendirian. Tetapi, di venue, bertemu teman-teman sehingga tidak terlalu menjadi persoalan. Kalau kemungkinan tidak ada mutual friends antara saya dan mempelai, saya kadang membawa ibu atau kemenakan saya. Minggu lalu berbeda. Ibu saya sedang sakit, dan kemenakan saya yang sudah abege tidak mau lagi di-"jinjing" ke sana-sini. Konsekuensinya, melanglang buana kondangan sendirianlah saya ini.

Mempelai perempuan adalah teman saya, sebut saja Mia. Kami pertama kali bertemu setahun lalu di Yangon, Myanmar kota tempat kami kini bekerja. Mia melangsungkan pernikahan di Tanggerang. Mia dan saya punya sedikit sekali mutual friends di Yangon, dan sepengetahuan saya di Indonesia tidak ada. Di antara yang sedikit itu, saya tidak tahu apakah mereka akan menghadiri pesta pernikahan Mia. Jadi, ketika saya diundang, saya menyimpulkan kemungkinan besar saya tidak akan bertemu sesiapa yang saya kenal di sana. Sepertinya saya bakal menyanyi "di dalam keramaian aku masih merasa sepi."

Pernikahan teman saya adalah peristiwa yang berarti, jadi saya memutuskan untuk datang. Meski pertemuan kami dalam setahun terhitung jari, setiap bertemu terasa seru. Tampaknya kita berdua punya chemistry. Apalagi, saya juga tengah cuti di Jakarta. Jadi, hadirlah saya di salah satu hotel di bilangan Bintaro. Setelah mengulur-ulur waktu dengan memoles bedak dan lipstik di restroom, naiklah saya ke venue dengan lift. Meski tak berkeringat dingin, perut terasa mulas --kemungkinan karena sedang menstruasi.

Ketika pintu lift terbuka, saya langsung melihat kedua mempelai membelakangi saya menghadap pintu masuk ruang pesta. Rupanya saya lumayan early karena mempelai sedang bersiap-siap memasuki ruangan, menunggu aba-aba dari MC. Saya langsung menepuk pundak Mia, memeluknya, mencium pipinya dan membisikkan ucapan selamat. Senyumnya merekah; dia cantik sekali. Saya merasa bersyukur memenuhi undangannya.

Lantas apa yang membuat saya begitu anxious kondangan sendirian? Saya tahu betul jawabannya: stigma perawan tua. Saya tidak bisa menentukan bahwa itu hanya ketakutan saya sendiri dan sebenarnya mereka yang hadir tidak peduli karena tentu sibuk dengan urusan masing-masing, atau justru sebaliknya mereka sibuk berbisik-bisik maupun menuding dalam hati. Tetapi, saya tahu persis bahwa saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang kalau bukan mengharuskan setidaknya merekomendasikan anggota masyarakatnya menikah jika sudah mencapai usia tertentu.

Nah! Sembilan tahun lagi saya berusia setengah abad dan belum juga menikah. Sudah "sepatutnya" saya merasa gelisah ke suatu pesta dengan aroma kental mama-papa plus bayi balita lucu bagi mereka yang "beruntung". Walaupun belum tentu orang-orang aware dengan kehadiran saya --meski biasanya sih iya akibat rambut keriting saya dan presence saya yang kuat haha-- saya merasa pasti setidaknya ada entah di sudut mana yang bertanya-tanya: masih sendiri ya? Makanya jangan pilih-pilih. Atau lebih sakit hati lagi, tudingan yang intinya menyudutkan penampilan fisik, atau karakter saya. Intinya, takut dibilang "tidak laku".

Kata sendiri tidak selalu berkonotasi negatif. Di berbagai negara maju, makin banyak mereka yang memilih untuk tidak menikah, meskipun memiliki kekasih tetap menjadi suatu kebutuhan. Tetapi, di belahan dunia lain seperti di Indonesia, mereka yang menikah masih dipandang lebih mulia. Setidaknya untuk menghindari zina.

Saya perempuan Indonesia hingga ke akar-akar saya, yang mulai "tercemar" dengan pola pikir berbeda. Ada suatu kala saya kepingin membina rumah tangga, tetapi menyaksikan sendiri bahwa pernikahan tidak menjadi kunci jawaban persoalan bahkan memperbesar masalah, lambat laun keinginan itu menyurut hingga tahap on-off.

Saya kenal pasangan yang istrinya bekerja dan suaminya tidak. Sayangnya, sang suami tidak bertanggung jawab mengurus anak dan rumah sebagaimana jika istri tak bekerja. Baby sitter atau ART harus dikerahkan. Lebih parah lagi, karena kondisi keuangan tak mencukupi, si istri harus bekerja di dalam dan di luar rumah.

Saya tahu pasangan yang meski sang suami mengalami impotensi menahun, pernikahan mereka tetap dipertahankan demi menjaga perasaan dan nama baik keluarga. Ada beberapa contoh lainnya, tetapi tak perlulah saya berpanjang lebar seperti tubuh saya yang lamban metabolisme ini.

Intinya, bagi saya, pernikahan bukan lagi hal yang ideal. Contoh-contoh yang saya sebutkan tadi sepertinya menyudutkan pihak lelaki. Huh! Tidak adil! Eh, memangnya dunia ini adil? It's a men men's world. Karena sekarang saya tinggal di Yangon, Myanmar, ada suatu kejadian yang menurut saya menggarisbawahi fakta tersebut. Seorang teman lelaki Myanmar bertanya kepada saya, "Do you know why Sai Sai is so famous?"

Kami umumnya bercakap dalam Bahasa Inggris jadi literally itu pertanyaannya. Yang dia maksudkan adalah Sai Sai Kham Leng, salah satu artis Myanmar yang paling berpengaruh, laris, dan ikonik. Dirinya membangun kerajaan bisnis sebagai penyanyi, aktor, dan produsen kosmetik. Usianya 40 tahun. Saya melemparkan berbagai jawaban, tetapi tak ada yang benar. Akhirnya saya menyerah dan teman saya mengatakan, "Because he stays single."

Loh, kok? Menurut teman saya itu, tetap membujangnya Sai Sai mempertahankan dan melebarkan jumlah penggemarnya. Terasa kan paradoksnya? Padahal Indonesia dan Myanmar sama-sama negara berkembang di Asia Tenggara. Kok mereka yang stay single di Indonesia kena stigma negatif, sedangkan di Myanmar dipuja-puji?

Sesungguhnya sama saja. Menikah tetap diutamakan, tetapi karena Sai Sai seorang tokoh pria yang sukses, kelajangannya malah menjadi kelebihannya. Jikalau si tokoh adalah perempuan, publik menanti-nanti kapan pangeran tampan menyuntingnya. Jika tak kunjung datang, ya itu tadi, siap-siap dijuluki perawan tua.

Seperti sudah saya bilang, saya perempuan Indonesia hingga ke akar-akar saya. Bahwa perempuan sebaiknya menikah sudah telanjur saya cerna. Untungnya, ketika kita mencerna, sebagian ada yang diresap tubuh, sebagian ada yang harus dikeluarkan sebagai kotoran. Kini saya tidak menjadikan pernikahan sebagai suatu target, tetapi tidak juga seratus persen menanggalkan harapan bahwa suatu masa saya bisa berumah tangga.

Belum menikahnya saya di usia matang tidak membuat saya berjalan menunduk malu, apalagi berbagai pencapaian saya cukuplah untuk membuat saya berjalan tegak penuh percaya diri, setidaknya dalam berkarier dan dalam berlaku terhadap orangtua dan sanak-saudara.

Tetapi ternyata itu saja tidak cukup untuk mengalahkan kegelisahan saya sebagai perempuan yang kondangan sendirian. Buktinya saya bernapas lega ketika saya di sana bertemu dengan beberapa orang yang saya kenal. Dan, bahwa ada suatu kejadian yang menekankan kegelisahan dan insecurity saya. Para tamu menerima voucher untuk photo box. Saya ikut antre karena tak mau rugi. Antreannya terdiri dari rombongan keluarga atau kumpulan teman-teman, cuma saya yang sendirian.

Ketika saya memperoleh giliran, saya langsung mengambil posisi. Tetapi, sang fotografer tak kunjung beraksi. Diam menunggu. Saya yang kebingungan melirik ke antrean di sebelah kiri saya. Di baris pertama tiga perempuan muda asyik ngobrol sambil memilih-milih caption dari potongan kertas yang telah disiapkan penyelenggara untuk ditunjukkan ke kamera (caption pilihan saya adalah I came for the food).

Saya langsung berasumsi sang fotografer salah menduga bahwa mereka adalah teman-teman saya dan menunggu hingga mereka turut berpose bersama saya, baru kemudian dirinya klik memainkan kamera.

"Saya sendirian," ujar saya kepada sang fotografer, memberikan aba-aba supaya dia bisa langsung memotret. Ia menggeleng. "Voucher-nya mana?" tanyanya. Ah! Ternyata bukan karena saya sendirian, tetapi ia memerlukan voucher yang saya simpan. Kemungkinan pembayaran dilakukan per voucher. Saya terlalu sensitif, rupanya. Tetapi jangan lupa, perasaan semacam itu tidak lahir begitu saja, melainkan produk yang tumbuh berkembang karena dibesarkan oleh masyarakat.

Saya termasuk yang beruntung bisa merasakan hidup di berbagai belahan dunia yang mengajarkan saya bahwa tidak ada sesuatu yang absolut. Apa yang dianggap benar di suatu komunitas, bisa jadi omong kosong belaka di komunitas lainnya. Saya tidak perlu seumur hidup menanggung beban keinginan berpasangan secara "halal" karena sudah on-off sifatnya.

Saat mood saya sedang baik, I am a proud single. Kalau sedang moody rasanya ingin jerit-jerit saya ingin dinikahi. Anyway, pengalaman saya sebagai perempuan yang kondangan sendirian cukup membekas di hati sehingga saya merasa perlu berbagi. Saya yakin saya tidak sendirian.

Sylvia Masri diplomat

(mmu/mmu)