Kolom

Masa Paceklik yang Tak Diperhitungkan

Syekha Maulana Ilyas - detikNews
Jumat, 03 Apr 2020 17:12 WIB
kekeringan di aceh
Wabah corona ibarat paceklik alias kekeringan di musim kemarau panjang (Foto: Datuk Haris)
Jakarta -
"Kemarau" ini sepertinya masih panjang. Dalam pertanian, masa paceklik bisa diperhitungkan kapan datangnya dan kapan selesainya, sehingga sebelum datangnya paceklik petani-petani akan menyimpan sebagian hasil panennya di lumbung sebagai cadangan makanan ketika masa paceklik datang. Tapi, "kemarau" satu ini tidak diperhitungkan datangnya, sebagian besar (masyarakat dan negara) tidak siap akan datangnya pandemi ini dan belum bisa diduga sampai akan berakhir kapan.

Apakah kisah Flu Spanyol yang menyebalkan dan menyengsarakan akan terulang oleh Covid-19? Yang jelas kasus Covid-19 ini, sama dengan halnya Flu Spanyol, tidak terduga dan cenderung diremehkan di awal. Seperti yang dijelaskan oleh John M. Barry, penulis buku The Great Influenza bahwa pada 1918, virus pernapasan baru menyerang populasi manusia dan membunuh antara 50 juta hingga 100 juta orang --disesuaikan dengan populasi, yang akan sama dengan 220 juta hingga 430 juta orang.

Hingga 29 Maret, jumlah kasus infeksi Covid-19 yang telah dilaporkan di seluruh dunia sebanyak 669.312 kasus. Sebagaimana yang sering disampaikan, salah satu alternatif mencegah penyebarluasan virus ini adalah social distancing, mengurangi intensitas keluar rumah, bahkan mengisolasi diri lebih baik. Tentu hal ini akan memiliki dampak pada sektor ekonomi atau yang lainnya yang memerlukan pertemuan fisik.

Ada beberapa sektor yang bisa menggunakan mekanisme work from home, tapi ada juga beberapa sektor yang tidak bisa jalan kalau tidak bertemu. Ini menyurutkan aktivitas ekonomi; ketika aktivitas ekonomi turun, konsumsi ke depan pun diperkirakan akan turun juga. Berbahaya jika masyarakat dan pemerintah tidak siap.

Bukan pandangan pesimis yang ingin saya utarakan, tapi ajakan memikirkan solusi dan membaca peluang-peluang ke depan terkait pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar untuk masyarakat. Kesiapan adalah kunci untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Saat ini dan beberapa minggu ke depan mungkin kita masih aman secara ekonomi, tapi sebulan atau dua bulan ke depan kemungkinan akan ada masalah-masalah yang lebih kompleks. Jika "kemarau" ini tak kunjung usai, ke depan tidak hanya masker, APD, hand sanitizer yang kita butuhkan, tapi juga kebutuhan-kebutuhan pokok, yang disebabkan menipisnya pendapatan bagi sebagian besar masyarakat.

Menurunnya pendapatan masyarakat ini disebabkan oleh mandeknya aktivitas ekonomi di beberapa sektor. Misalnya, dengan kebijakan kuliah daring, sebagian besar mahasiswa memilih pulang ke kampung halaman. Hal ini menyebabkan tutupnya beberapa pelaku bisnis seperti tutupnya gerai-gerai kopi, makanan (yang target pasarnya mahasiswa), dan sepinya penumpang transportasi online maupun konvensional.

Walaupun di sisi lain terdapat lonjakan pembelian makanan secara online, tapi ini tidak sebanding dengan jumlah driver transportasi online yang ada. Dan, masih banyak lagi kasus-kasus di lapangan yang menyengsarakan aktivitas ekonomi.

"Kemarau" ini masih panjang. Jangan bergembira terlalu dini walaupun ada tanda-tanda akan turunnya "hujan"; kita harus tetap waspada dan berhati-hati. Penelitian Warwick McKibbin dan Roshen Fernando (2020), ekonom Australian National University yang berjudul The Global Macroeconomic Impact of Covid-19 menjelaskan ada 7 skenario berdasarkan tingkat persebaran virus corona.

Skenario 1-3 mengasumsikan peristiwa epidemiologis hanya terjadi di China. Dampak ekonomi pada China dan dampaknya ke negara lain adalah melalui perdagangan, aliran modal, dan dampak perubahan risiko di pasar keuangan global. Skenario 4-6 adalah skenario pandemi di mana guncangan epidemiologis terjadi di semua negara dengan tingkat yang berbeda.

Skenario 1-6 menganggap guncangan bersifat sementara. Skenario 7 adalah kasus di mana pandemi ringan diperkirakan akan berulang setiap tahun untuk masa depan yang tidak terbatas. Tentu, masyarakat dan pemerintah harus siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Salah satu kesiapan masyarakat dan pemerintah adalah mampu membaca tantangan dan peluang ke depan dengan ancaman Covid-19 ini.

Setiap permasalahan yang terjadi pasti ada solusinya, sebagaimana ekonomi, di satu sisi turun, di sisi lain akan mengalami kenaikan. Fakta menarik yang terjadi, over demand empon-empon karena anjuran minum-minuman sehat, beralihnya jasa-jasa jahit/konveksi ke profesi menjual masker, APD, dan sarung tangan, serta meningkatnya produksi hand sanitizer, dan lain-lain.

Fakta ini mengingatkan saya dengan film Schindler's List yang menceritakan usaha-usaha penyelamatan kaum Yahudi yang dilakukan oleh Oskar Schindler dari Holocaust. Ketika itu masa penjarahan Nazi kepada kaum Yahudi, bidang keamananlah yang menjadi problemnya, maka industri persenjataan (usaha Schindler) meningkat untuk memenuhi kebutuhan perang/penjarahan.

Tidak menutup kemungkinan dengan apa yang terjadi ini, kesehatan yang menjadi permasalahan, industri-industri di bidang kesehatanlah yang akan menjadi peluang ekonomi dan melonjak menopang perekonomian. Tidak hanya itu, masyarakat juga harus mulai memikirkan inovasi ekonomi tanpa gerak berlebih, dengan artian mengerjakan apapun di rumah yang memiliki economc value added. Itu bisa saja dilakukan, asal mau dan tidak gagap membaca kemungkinan-kemungkinan ke depan.

Masa "paceklik" ini belum jelas kapan berakhirnya, yang penting kita harus bersiap dengan tantangan ke depan. Bagi pemain bisnis besar, PNS, dan pegawai-pegawai dengan gaji tetap mungkin masih punya tabungan untuk waktu yang lumayan panjang. Tapi bagaimana nasib dari pebisnis skala UMKM, rumahan, sopir-sopir angkot, tukang becak, dan sebagainya (selain pedagang pasar, karena masih ramai), yang tidak mempunyai saving besar sebelumnya?

Ini perlu dipikirkan mulai sekarang; kemungkinan salah satu problem yang akan kita tangani bersama ke depan. Apakah terlalu berlebihan analisis ini? Mari bersama-sama bersatu mencari solusi di tengah pandemi ini. Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun harus bergerak.

Syekha Maulana Ilyas kader Himpunan Mahasiswa Islam Surabaya

(mmu/mmu)