Kolom

Evaluasi Gerakan "Di Rumah Saja": Karantina dan Pembenahan Serius

Ridwan Amiruddin - detikNews
Senin, 30 Mar 2020 13:15 WIB
Kampanye di Rumah Aja
Foto: Bored Panda/Twitter
Jakarta -

Memasuki akhir minggu kedua pelaksanaan imbauan #DiRumahSaja, laporan harian Juru Bicara Pemerintah Covid-19 melaporkan jumlah kasus di angka level kedua mencapai 1155 kasus, dengan kematian 102 jiwa, kasus baru 109, sembuh 59 orang (28/3/). Sehingga menempatkan negeri ini sebagai negeri dengan case fatality rate termasuk urutan tertinggi dunia (8,8%).

Pertumbuhan kasus ini cukup mengkhawatirkan secara regional. Kalau berkaca dari angka reproduksi Ro Corona 2.6, maka kasus Covid-19 masih akan terus melaju. Dengan jumlah kematian tersebut, maka metafora gunung es menunjukkan kasus yang beredar di populasi sudah puluhan ribu.

Menyikapi hal di atas, kompartemen yang perlu mendapat perhatian serius; pertama, mengurangi kelompok rentan dengan penguatan kekebalan kelompok atau individu. Dengan asupan booster imunitas, multi-nutrien, dan berjemur sinar matahari.

Kedua, mengurangi jumlah kelompok terinfeksi dengan perlindungan umum dan khusus. Laksanakan pengawasan OTG dan ODP, tracing kelompok berisiko, skrining, penemuan dini kasus baru untuk menghentikan laju penularan. Tentu saja petugas mutlak dilindungi dengan APD yang standar.

Ketiga, karantina untuk menghentikan peredaran orang. Selalu diingat, virus tidak bergerak sendiri; virus ikut pada pergerakan orang. Logika sederhananya, dengan tinggal di rumah, virus akan bertumbuh normal.

Keempat, meningkatkan jumlah dan percepatan kesembuhan dengan terapi pengobatan yang efektif.

Pembenahan Serius

Kita perlu mengingat bahwa sumber penular Covid-19 adalah carrier (pembawa) yang bisa berupa; pertama, orang sehat, yang belum ada gejala, ini disebut healthy carrier. Kedua, orang yang sakit, tentu ini industri virus level tinggi. Ketiga, orang yang baru sembuh, disebut convalesence carrier, mereka bisa menjadi sumber penular karena dalam tubuhnya kemungkinan masih ada virus corona.

Dari kajian sistem kesehatan di Indonesia, sistem layanan kesehatan mulai dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), serta Rumah Sakit (RS) sudah menunjukkan betapa sistem kesehatan kita sangat rapuh. Untuk itu perlu pembenahan yang serius mulai SDM, kefarmasian, teknologi, sistem informasi hingga penyiapan SDM kesehatan yang siap melacak dan mengontrol KLB.

Dalam situasi saat ini, baru terasa, kesehatan bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan semua yang ada tak berarti. Segala yang kita miliki, harta dan sebagainya tak berdaya melawan jasad renik berupa virus corona.

Menyerahkan perlindungan dari Covid-19 kepada masyarakat, itu artinya melepaskan kendali kontrol emergency ini kepada seseorang yang bukan ahlinya. Pola pikir yang selalu bermuara di hilir --menghitung korban, tempat tidur di RS, dan sebagainya-- telah menempatkan kita semua pada situasi ini. Situasi yang sangat pahit. Padahal, jauh hari sebelum ini semua terjadi, peringatan dari berbagai informasi terpercaya --untuk segera memobilisasi sumber daya, lakukan pencegahan, perkuat promosi, tutup pintu-pintu perbatasan, sampai dengan karantina penuh-- telah disuarakan.

Saat ini, negara dalam keadaan gawat darurat. Maka pemerintah harus hadir memberikan jaminan bahwa rantai perlindungan dari pandemik Covid-19 terjamin. Suplai APD bagi petugas dan masyarakat, stok logistik pangan, hingga keamanan harus tetap terkontrol.

Untuk seluruh anak bangsa, sekarang waktunya menunjukkan peran terhadap pentingnya perlindungan kesehatan. Ikuti saran dan rekomendasi WHO dengan lima langkah sederhana; pertama, pakai tangan yang bersih, rajin cuci tangan dengan sabun dengan air yang mengalir. Kedua, jaga etika bersin (pakai siku atau tutup dengan tisu). Ketiga, jangan biasakan menyentuh muka, mulai dari mulut, hidung, dan mata. Keempat, jaga jarak fisik minimal satu meter. Kelima, tinggal di rumah.

Kalau semua sudah dilaksanakan, tetaplah bahagia. Kelola stres dengan banyak berdoa. Keadaan ini tidak berdiri sendiri, Sang Maha Kuasa punya rencana, manusia punya rencana. Rencana-Nya jualah yang akan terjadi.

Garda Terdepan

Berangkat dari kerangka pikir the five level of prevention, Hendrick L. Bloom membagi tahapan upaya pengendalian sebuah masalah kesehatan (termasuk pandemik Covid-19) ke dalam lima kategori dengan variasi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi berbeda yang dibutuhkannya.

Level pertama sekaligus ujung tombak layanan adalah Health Promotion. Promosi kesehatan, konsep dasarnya bagaimana menjaga status kesehatan seseorang atau masyarakat tetap dalam kondisi terbaik, bebas dari penyakit dan gangguan kesehatan serta hidup produktif.

Perlu disadari bersama bahwa output kesehatan bukan hanya dari hasil kerja sektor kesehatan saja. Tetapi merupakan produk kebudayaan, ketersediaan mata rantai pangan, suplai air bersih, sanitasi lingkungan, kondisi flora dan fauna wilayah, kultur masyarakat, dan lain sebagainya. Akumulasi berbagai sektor yang harmoni itulah yang menumbuhsuburkan nilai positif kesehatan.

Domain aktivitas pada level promotif adalah menjaga pola hidup sehat, menu konsumsi pangan/makanan yang sehat dan seimbang berdasarkan kebutuhan. Olah raga teratur, istirahat yang cukup, mengelola strss, bebas dari perilaku berisiko, tidak merokok, tidak minum alkohol, serta hidup di lingkungan yang sehat.

Untuk menyampaikan pentingnya nilai-nilai positif kesehatan tersebut kepada seluruh masyarakat membutuhkan keahlian khusus. Butuh kompetensi khusus dan tidak bisa hanya menjadi pekerjaan sampingan. Di sinilah peran strategis kaum ilmuwan yang pernah dididik di program studi Kesehatan Masyarakat untuk mengambil peran strategis. Para Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) adalah frontliner gerakan ini. SKM adalah garda terdepan Public Health Prevention.

Kaum SKM memiliki kompetensi untuk menentukan potensi outbreak suatu wilayah, bagaimana mengontrolnya, dari fase preparedness hingga mitigasinya. Mereka memiliki kompetensi yang dinamis bergerak pada level komunitas dengan indikator populasi yang jelas. Kunci aktivitasnya pada kemampuan penggerakan komunitas.

Pada situasi pandemi Covid-19 ini, SKM di seluruh Indonesia harus segera mengkonsolidasikan diri dengan baik. Berikan informasi yang benar tentang situasi yang dihadapi. Bangun kesadaran masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dampingi masyarakat keluar dari krisis pandemi Covid-19 ini. Tunjukkan baktimu pada Ibu Pertiwi tercinta.

Prof. Dr Ridwan Amiruddin, S.KM, M.Kes, M.Sc Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Guru Besar Ilmu Epidemiologi FKM Universitas Hasanuddin

(mmu/mmu)