Jeda

Sekali Lagi, Ini Bukan Soal Takut Mati!

Mumu Aloha - detikNews
Rabu, 25 Mar 2020 14:01 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Mungkin lebih baik begini/ menyendiri di sudut kota ini ~ Walau Hati Menangis, Pance Pondaag, 1998

Hari-hari ini saya, dan mungkin sebagian dari kita, menjadi melankolis dan begitu mudah terharu. Melihat foto-foto dan video-video dengan visual-visual yang ngelangut dan narasi yang sendu saja saya mewek. Sejarawan muda asal Solo Heri Priyatomoko membagikan foto suasana Pasar Klewer yang "lengang bak kuburan". Pasar sandang terbesar kedua se-Asia Tenggara ini "nyenyet atawa melompong".

Dengan puitis tapi kelam sang sejarawan menggambarkan: hanya radio yang berisik, tiada tawar menawar penjaja-pembeli. Nyata bahwa pasar ilang kumandange.

Ya, pasar kehilangan ruhnya --kehilangan gema keriuhan dan kesibukannya yang meriah. Semua itu "jalaran pagebluk korona, bukan digusur pasar online atau mall."

Dilaporkan juga, barisan bakul mengaku, sejak wabah virus corona di Solo ditetapkan statusnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), tidak ada konsumen --para bakul "sama sekali ora kepayon". Tetapi, kenapa mereka tetap berangkat ke pasar seperti hari biasanya dan membuka kiosnya?

Menurut Heri, selain kesehatan mental, dampak lain dari virus yang kini tengah mewabah ini ialah timbulnya "seling surup" alias gesekan dalam keluarga. Anggota keluarga emoh disarankan diam di rumah, ngotot tetap bekerja meskipun "beras-lawuh masih aman untuk disantap dua purnama."

Pasar, tempat bekerja bagi mereka, adalah obat kesehatan mental; mengatasi "gerah uyang" akibat terputusnya rutinitas atau kebiasaan yang sudah mendarah daging tersebut. Sementara, anak-anak dan anggota keluarga lain yang di rumah ketar-ketir, waswas, "hanya nyangoni masker dan hand sanitizer seraya merapal doa tanpa putus."

Sementara itu, seorang warga Yogyakarta menyapa lewat sebuah video yang disebarkan di media sosial, mengabarkan kotanya yang kini sepi. Wisatawan yang biasanya ramai di sudut-sudut jalan kini hampir semua menunda kedatangan. Tempat wisata, hotel, rumah makan, toko semuanya sepi pembeli, dan banyak yang memilih tutup untuk sementara ini.

Warga di kotaku mulai bersama-sama menyadari bahwa ini harus dihadapi dengan hati-hati. Ini memang berat. Tapi aku percaya kita bisa melaluinya. Aku memahami kenapa kamu nggak perlu ke kotaku dulu untuk sementara waktu. Namun simpan dan catat di agendamu. Ketika badai ini berakhir kita pasti akan bertemu.

Dengan iringan musik instrumental lagu Yogyakarta dari KLA Project yang telah menjadi legendaris, dan memperlihatkan rangkaian gambar-gambar lorong-lorong Malioboro yang sunyi, seorang pedagang duduk sendirian menunduk, sebuah delman melintas di jalan yang sepi, video itu dengan sangat baik mewakili suasana hati kita dan kondisi sebagian kota-kota di Indonesia saat ini: muram, hampa, cemas.

Seperti bakul-bakul di Pasar Klewer yang "melawan" tekanan mentalnya menghadapi pandemi ini dengan "nekat" membuka kiosnya dan berjualan walaupun tak ada pembeli, kita pun mulai dihadapkan dengan isu yang sama. Mungkin banyak di antara kita yang mulai mempertanyakan diri sendiri, menimbang-nimbang, dan berpikir bahwa kekhawatiran kita pada virus ini --jangan-jangan-- adalah kekhawatiran yang berlebihan dan tidak perlu.

"Aku dhewe sing lebay," demikian psikolog Lya Fahmi menggambar suasana kejiwaan dirinya yang mungkin mewakili sebagian dari kita dan masyarakat Indonesia hari-hari ini. Namun, menurut sang psikolog, semakin dirinya terbuka terhadap kecemasan ini, semakin menyadari bahwa ia tidak sendirian. "Beberapa orang teman mengeluhkan bahwa mereka menjadi sulit tidur, mimpi buruk hampir setiap malam, dan sulit berkonsentrasi."

Saya sendiri tidak sampai sulit tidur ataupun mimpi buruk, tapi kecemasan itu memang nyata. Saya mulai bekerja dari rumah dan ber-social distancing sejak awal pekan lalu (Senin, 16/3) dan itu artinya sudah berjalan seminggu lebih sampai hari ini. Sementara banyak perusahaan baru menerapkan kebijakan kerja dari rumah untuk karyawannya mulai Kamis (19/3), bahkan ada yang baru mulai Senin (23/3) awal pekan ini.

Pada Kamis (19/3) saya mencoba melawan kecemasan saya dengan melakukan kenekatan kecil, keluar rumah naik bus Transjakarta menjelang sore hari. Dari hati yang paling tersembunyi saya berbisik, mencoba meyakinkan sekaligus mencari pembenaran diri, bahwa ini adalah bagian dari "naluri kewartawanan" saya yang ingin melihat "situasi dunia" di saat banyak orang lain tidak bisa melakukannya.

Dan, saya menyaksikan, Jakarta yang pada Senin (16/3) itu masih dilaporkan diwarnai dengan kekacauan antrean di halte-halte Transjakarta karena ke(tidak)bijakan pengurangan armada, pada Kamis (19/3) itu benar-benar sunyi-sepi. Saya duduk di bus Transjakarta nyaris seorang diri. Halte-halte pun lengang.

Dari balik kaca di dalam bus yang melaju tanpa hambatan, saya melihat satu-dua orang melintas di trotoar, dan rasanya seperti melihat manusia terakhir di kota yang selamat setelah bencana besar melanda. Saya seperti tokoh utama dalam sebuah film apokaliptik. Perasaan saya bergemuruh, merasa asing dengan keberadaan saya sendiri di tengah-tengah kekosongan.

Mungkin saya berlebihan. Pasti saya memang melebih-lebihkan perasaan saya. Tapi, apa artinya "berlebihan" dalam situasi yang memang sulit dipahami seperti saat ini?

Saya pergi ke tempat fitness --sekali lagi, ini semata dorongan naluri kewartawanan saya yang mendesak-ndesak; mohon pahami dan maklumilah saya-- dan menyaksikan kelas-kelas yoga, body balance ditinggalkan pesertanya. Seorang lelaki bertemu temannya di ruang ganti, saling bertukar sapaan dengan suara bergetar, lirih, dan terdengar sedih. "Sepi banget ya, parah sih ini..."

Di arena latihan, hanya tampak beberapa orang. Sebagian besar alat-alat gym membeku kesepian.

Menurut Lya Fahmi, sang psikolog tadi, manifestasi-manifestasi kecemasan yang muncul saat ini wajar adanya. Kecemasan yang kita rasakan adalah respons normal terhadap situasi abnormal. "Apanya yang abnormal? Ya wabah Covid-19 itulah," kata Lya.

Bagi Lya, segala kecemasan kita itu justru menjadi indikator dari sehat mental --otak kita masih merespons sesuatu sebagaimana mestinya. Apakah itu artinya, mereka yang "santai-santai saja" menghadapi pandemi ini tidak sehat mental? Menurut Lya, kata kuncinya terletak pada "strategi mengatasi kecemasan", yang tidak bisa sama untuk masing-masing orang.

Yang kita hadapi adalah virus yang sama, wabah yang sama, bencana yang sama, namun kecemasan yang kita rasakan bisa jadi berasal dari sumber yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, kita mulai mendengar seloroh-seloroh seperti misalnya, "Yang bikin kita sakit bukan virusnya, tapi kebosanan dan stres kita karena diam di rumah dan membaca berbagai informasi yang melimpah ruah dan tak jarang simpang siur seputar penyebaran virus tersebut."

Hari-hari ini, kita menjadi sangat sibuk me-reply atau me-retweet berbagai link berita, mengomentarinya dengan penuh emosi, bahkan mungkin caci-maki, karena kita merasa semua tampak serba salah dan tak pasti. Ada saja yang membuat kita marah, dan menambah kecemasan kita.

Sekali lagi, kita tidak bisa mengatakan dan mengulang-ulang pesan "jangan panik", "jangan berlebihan". Dan, sekali lagi, ini bukan soal takut mati. Ini soal tugas, tanggung jawab, dan fungsi negara yang lalai ditunaikan oleh para pemimpin dan pejabatnya, yang dulu telah kita pilih dengan gegap gempita dalam pemilu.

Sejak awal pemerintah kita begitu sombong, jumawa, "nantangin", sehingga salah langkah. Sikap pemerintah itu menurun kepada sebagian warganya yang cenderung menyepelekan, menganggap enteng, menjadikan bahan bercandaan, dan tak kunjung menyadari apa yang sebenarnya telah benar-benar terjadi dengan pandemi ini.

Kita ini bangsa yang beriman dan religius, dan percaya bahwa apapun yang terjadi, termasuk wabah, penyakit, bencana, virus adalah ujian dari Tuhan. Namun, ironisnya, keyakinan itu tidak mendorong kita untuk serius berikhtiar, melainkan justru dengan konyolnya menjadikannya sebagai ujian balik kepada Yang Maha Kuasa, dengan sesumbar-sesumbar salah kaprah seperti "tidak takut virus, hanya takut kepada Allah." Atau, "kayak orang nggak punya iman saja."

Justru, karena kita punya iman, atau kalau memang kita mengaku masih punya iman, maka di situ ada tanggung jawab untuk bersungguh-sungguh, sebelum menyerahkan kembali semua kepada-Nya. Berdoalah. Diamlah di rumah. Basuh tanganmu.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)