Kolom

Mudahkan Impor Alat Medis atau Kita Harus Siapkan Ekskavator

Adian Napitupulu - detikNews
Senin, 23 Mar 2020 11:10 WIB
Polisi melakukan sidak ke distributor masker yang berada di kawasan Glodok, Jakarta. Sidak dilakukan guna mencegah terjadinya penimbunan masker.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Epidemik corona diperkirakan akan memuncak di antara Mei - Juni. Jika negara masih lambat bergerak dan penuh dengan birokrasi yang berbelit, jangan kaget jika antara Mei dan Juni nanti bisa jadi negara harus siapkan banyak ekskavator karena ribuan mungkin belasan ribu orang akan meninggal dunia, lalu ekskavator akan bekerja siang malam menggali kuburan.

Kuburan massal harus dicegah dengan segala cara, salah satunya dengan membuka keran impor untuk alat-alat medis baik utuh maupun bahan baku terkait virus corona apakah itu masker, alat pelindung diri (APD), termometer, sarung tangan, sanitizer, disinfektan bahkan hingga alat tes (rapid test). Semua pihak yang sanggup mengimpor alat-alat tersebut selama kriteria dan uji alatnya layak harus diberi ekstra kemudahan, bila perlu sementara waktu dibebaskan dari bea impor dan pajak agar alat-alat itu menjadi murah dibeli siapapun.

Membebaskan semua pihak yang akan memasukkan alat-alat medis terkait corona dari birokrasi impor akan membuat semua alat medis itu membanjiri Indomaret, Carrefour, Alfamart hingga apotek, toko obat bahkan bisa jadi membanjiri warung-warung klontong di perkampungan dan pasar pasar tradisional. Dalam situasi ini, kebanjiran lebih baik daripada kekurangan.

Tugas pemerintah menjadi lebih ringan karena peran mengadakan alat medis yang tadinya dimonopoli penuh baik anggaran maupun distribusinya oleh pemerintah, berikutnya diambil alih oleh banyak orang, dan pemerintah mengambil peran sebagai pengontrol kualitas dan membuat patokan Harga Eceran Tertinggi untuk setiap jenis alat medis itu.

Kalau negara bisa memanfaatkan para importir dan pedagang, maka alat medis itu bisa sampai ke seluruh pelosok pedalaman dengan harga murah tanpa menguras anggaran pemerintah. Selanjutnya pemerintah bisa menghemat anggaran yang ada untuk digunakan fokus pada hal lain seperti membangun rumah sakit untuk karantina serta mensubsidi obat dan alat medis untuk orang-orang yang benar-benar tidak mampu, lansia, tuna wisma dan lain-lain.

Dalam situasi darurat corona seperti saat ini biarkan saja importir mendapat sedikit untung; pedagang bahkan apotek, warung-warung juga mendapat sedikit untung, itu tidak masalah karena masalah mendesak dan terpenting saat ini adalah rakyat selamat!

Wabah corona bukan seperti tsunami atau banjir atau gempa atau jenis bencana alam yang terlokalisasi di satu tempat. Wabah corona bisa mengorbankan siapa saja, kapan saja dan di mana saja di seluruh belasan ribu pulau di Republik ini. Satu-satunya cara memenangkan perang melawan virus corona hanya bisa dilakukan dengan membangun perlawanan rakyat secara bersama-sama.

Ketika apotek, minimarket, toko obat memiliki stok berlimpah akibat keran impor alat-alat medis itu dibuka luas dan mudah, maka berikutnya bisa saja bidan dan perawat di pelosok kampung membeli APD dan rapid test lalu membuka layanan rapid test corona di teras rumahnya; warga satu RT bisa urunan membeli disinfektan untuk menyemprot seluruh RT; di kampus-kampus mahasiswa dengan APD yang mereka dapat di minimarket bisa membuka layanan rapid test yang mereka.

Para relawan dan donatur bisa urunan membeli alat medis dari importir dan membagikannya ke puskesmas-puskesmas. Jangan kaget juga ketika tukang sayur yang berkeliling dengan motor dan gerobak sayurnya berikutnya tidak hanya menjual sayur, tapi juga menjual masker dan berbagai jenis APD.

Bila situasi itu terjadi, maka gerakan melawan corona bukan lagi milik BNPB, bukan lagi milik BUMN atau Menkes, tapi menjadi milik importir, milik pedagang milik tukang sayur, milik bidan desa, perawat, dokter-dokter desa, warga seluruh RT, milik mahasiswa, relawan dan donatur-donatur; semua bergerak melawan corona, dan berikutnya menjadi gerakan rakyat di semua level, di semua profesi, di semua tempat hingga kampung yang terpencil sekalipun.

Kunci kemenangan kita adalah gotong royong, yaitu semua bergerak bahu-membahu untuk kemenangan hingga di akhir cerita nanti tidak ada menteri, gubernur atau satu-dua tokoh yang jadi pahlawan karena pahlawan sesungguhnya adalah rakyat itu sendiri.

Ketika melawan corona menjadi gerakan rakyat di mana "senjata" untuk melindungi diri bisa didapat dengan murah dan mudah, bisa jadi virus corona akan frustrasi massal karena setiap orang di mana pun sudah pakai masker, tangannya terbungkus sarung tangan lateks, badannya terbungkus APD; sanitizer ada di pintu masuk rumah, di dapur, di kantor desa, di kampus, di sekolah, di WC umum, di mana-mana ada.

Kita tahu bahwa uang negara terbatas, aparatur negara terbatas, semua terbatas apalagi ditambah krisis global yang juga datang bersamaan. Dengan seluruh keterbatasan dan situasi krisis, sepertinya mustahil negara sanggup menjadi superhero yang mampu melindungi seluruh rakyatnya dengan baik dan sempurna. Bila negara tidak mampu melindungi, maka berikan peluang agar rakyat melindungi dirinya sendiri.

Caranya dengan membuka impor alat-alat medis itu semudah mungkin, bea dan pajak semurah mungkin, dan biarkan rakyat menjual ayamnya, memecah tabungannya, urunan bergotong royong untuk melawan bersama untuk kesehatan bersama untuk kehidupan bersama dan untuk kemenangan Indonesia melawan corona.

Adian Napitupulu anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan


(mmu/mmu)