Perjalanan

Masih Ada Sagu di Ugai

Tjak S. Parlan - detikNews
Sabtu, 21 Mar 2020 12:15 WIB
sagu
Tappri atau wadah untuk menyimpan tepung sagu, terbuat dari daun sagu dirangkai dengan tali rotan (Foto: Agustinus Sapumaijat)
Jakarta -

Menjelang siang, di sebuah kawasan ladang berawa yang lengang, saya mencari-cari Aman Lari. Ladang berawa itu berada di belakang sebuah uma (rumah tradisional) di pinggiran Ugai, Siberut Selatan. Aman Lari, yang muncul beberapa saat kemudian, menapaki titian kayu di tempat pengolahan sagu, dan menyambut saya dengan ramah.

Dia bertelanjang dada. Sepotong kabit (cawat tradisional) membalut tubuh bagian bawahnya. Rupanya dia baru saja menuntaskan sebuah sesi proses pengolahan sagu. Tubuhnya masih berkeringat. Rokok di tangannya belum lama dinyalakan.

Setelah mengetahui tujuan saya, Aman Lari langsung mengarahkan saya ke sebuah perangkat, sebuah penapis berbingkai kayu yang menyerupai wadah bersegi empat. Penapis berbingkai kayu itu diletakkan di atas para-para bambu yang menyangganya dengan kukuh. Di atas tempat itulah saya menyaksikan Agustinus Sapumaijat mengentak-entakkan kakinya dengan riang.

Agustinus tidak sedang menari, tapi sedang menginjak-nginjak tumpukan serbuk sagu. Sementara dia konstan menginjak-injakan kakinya, cairan putih terus mengalir ke bawah penapis berbingkai kayu. Air cucuran berwarna putih itu ditampung dalam penampung penghubung yang berupa kayu berceruk lebar.

Ujung penampung penghubung itu bersambung dengan sebuah penapis dari kain yang digantungkan di atas sebuah wadah kayu berbentuk biduk. Di dalam wadah kayu berbentuk biduk itulah semua saripati sagu akan mengendap. Itu bukan akhir dari proses. Dibutuhkan waktu lebih lama lagi agar menghasilkan tepung sagu yang bisa dikonsumsi.

"Ditunggu kurang lebih hampir dua jam. Biar tepung (saripati) sagunya benar-benar terpisah dari air perasan," jelas Aman Lari.

Agustinus berhenti sejenak. "Sudah sangat lama saya tidak seperti ini," celetuknya. Wajar saja dia berkata seperti itu. Agustinus kini bermukim di Sipora dan bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Dialah yang menemani saya ke daerah yang masih lumayan jauh dari akses itu.

Menurutnya, saya telah memilih waktu yang tepat; ombak Selat Siberut tidak terlalu besar ketika itu dan dia sudah lama tidak menjenguk kampung halamannya.

Kesempatan berikutnya adalah saya. Di atas penapis berbingkai kayu itu saya melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan Agustinus. Kaki saya menari-nari, mengentak-entak, menginjak-injak serbuk-serbuk sagu yang menumpuk tebal. Sesekali saya mengambil jeda untuk bertanya ini-itu kepada Aman Lari. Sesekali saya berhenti untuk menimba air dengan timba berbentuk kerucut yang terbuat dari pelepah sagu.

Sagu parutan yang akan ditapis dan diperas tidak boleh dibiarkan mengering agar air cucuran berwarna putih itu mengalir lancar ke penampungan. Oleh karenanya, di tempat-tempat pengolahan sagu, selalu tersedia air yang melimpah.

Untuk menjadi tepung sagu yang siap diolah dan dikonsumsi dibutuhkan proses selanjutnya. Tepung sagu itu akan disimpan dalam sebuah wadah yang disebut dengan tappri. Tappri berbentuk bulat memanjang-sekitar satu meter, terbuat dari daun-daun sagu yang dirangkai dengan tali. Setelah sagu tersimpan penuh dan padat, tappri ditutup dengan rapat agar aman dari lumpur dan sejenisnya. Agar bisa bertahan lama, tappri kemudian direndam dalam air.

Menurut Aman Lari, sagu yang sudah disimpan di dalam tappri dan direndam dalam air bisa bertahan lama. "Satu tahun bisa lebih," ujar Aman Lari. "Tapi untuk menyimpan dalam air, harus menunggu benar-benar kering. Kalau tidak, sagu akan terasa asam."

Waktu untuk menjajal kemampuan sebagai pengolah sagu sepertinya sudah cukup. Saatnya istirahat. Saya dan Aman Lari duduk di atas penapis berbingkai kayu dan mulai mengobrol. Suara satwa khas hutan sesekali terdengar, menggenapi cerita-cerita kecil tentang manfaat sagu.

"Sagu ini sangat bermanfaat. Daunnya bisa untuk atap, bisa juga untuk bungkus makanan kapurut (jenis olahan sagu). Banyak yang bisa hidup dari sagu. Banyak binatang, babi, ayam, bisa hidup dari sagu. Pelepahnya ini bisa untuk obat. Lidinya juga. Akarnya juga. Bahkan ampasnya juga bisa untuk obat tradisional," jelas Aman Lari.

Sagu memang jenis tumbuhan yang lebih banyak menyumbangkan hasil dan manfaat dengan kerja yang tidak begitu banyak. Melalui tunasnya, tumbuhan sagu bisa berkembang biak sendiri di daerah rawa-rawa. Betapapun begitu, masyarakat Mentawai selalu menanam batang tunas baru di lahan-lahan yang baru saja dipanen.

Begitu pentingnya peran sagu ini, sehingga kepemilikan sagu bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Maka tidak heran jika tumbuhan berjenis palma yang satu ini bisa berfungsi sebagai alattoga (mas kawin) di kalangan masyarakat Mentawai. Melihat fungsi dan manfaatnya, hampir tidak mungkin rasanya menafikan eksistensi sagu dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Mentawai.

"Kita tidak bisa terlepas dari sagu. Tetap ada, meskipun sudah tersedia nasi," tegas Aman Lari.

Apa yang dikatakan Aman Lari bukan sesuatu yang berlebihan. Kunjungan saya selama seminggu di Ugai pada Mei 2019 lalu membenarkan semua fakta yang diceritakannya. Saya menginap di rumah orangtua Agustinus dan selama itu, setiap waktu makan tiba, yang terhidang adalah obuk --selain nasi yang tidak banyak porsinya, tentunya.

Sebagai orang yang baru pertama kali mengenyam sagu, saya senang dengan cara mereka, orang-orang Ugai, menghidangkannya. Obuk adalah jenis olahan sagu yang dimasak dalam bambu-bambu berdiameter kecil, dipanggang di atas bara api. Cara menikmatinya bisa disandingkan dengan sup ayam kampung dan sambal.

Namun, selama di Ugai saya justru lebih senang jika sagu panggang itu dihidangkan dengan gulai daun singkong. Apalagi jika gulai daun singkong itu dicampur dengan udang asap.

Masih Bertahan

Siang itu, sebelum saya dan Agustinus pamit melanjutkan perjalanan, Aman Lari menyebut sebuah tempat pengolahan sagu lainnya. Agustinus telah lebih dulu menunjukkan tempat itu kepada saya. Sebelum datang ke tempat Aman Lari, kami sempat mampir ke tempat pengolahan sagu yang letaknya tidak jauh dari balai dusun.

Namun, di tempat itu tidak ada seorang pun. Pemilik pengolahan sagu tampaknya baru saja meninggalkan tempat. Jejak-jejak tapak kaki yang masih basah, terlihat di dekat penapis berbingkai kayu yang baru saja dibersihkan dan dijemur.

Di tempat itulah, untuk pertama kalinya, saya mengamati saripati sagu yang putih dan padat tersimpan dalam wadah-wadah berbentuk bulat dan memanjang. Itulah tappri, wadah tradisional tempat menyimpan saripati sagu yang sudah kering sebelum siap direndam dan diawetkan dalam air. Ada sekitar 12 tappri berisi penuh dan padat: dua belas sumber kehidupan bagi puluhan warga sekitar.

Sekembalinya dari tempat Aman Lari, saya dan Agustinus mencoba mengintip kembali tempat pengolahan sagu tersebut. Namun suasana masih lengang. Oleh karenanya, kami langsung menuju rumah Yudas Kokoik Lakeu, salah satu kerabat Agustinus. Di beranda rumah Yudas, kami melanjutkan kembali obrolan tentang sagu.

Di Ugai masih banyak orang yang mengonsumsi sagu. Meskipun sudah ada nasi, kurang sempurna rasanya jika tidak ada olahan sagu yang terhidang sebagai makanan sehari-hari. Secara umum, sagu sudah mendarah daging bagi masyarakat Mentawai. Meskipun jumlah pengonsumsi sagu semakin berkurang, pengolahan sagu masih terus dilakukan dan diupayakan di beberapa tempat.

"Masih banyak orang yang mengolah sagu. Tapi sekarang parutannya sudah pakai mesin. Kalau dulu masih manual," ujar Yudas.

Saat saya bertanya berapa batang sagu dibutuhkan untuk menghasilkan 10 tappri, tanpa ragu-ragu Yudas menjawab, "Tergantung besar batang sagunya. Bisa saja satu batang menghasilkan delapan atau sepuluh tappri."

Kelak, ketika harus menunggu jadwal kapal di Muara Siberut, saya bertemu Heronimus Tatebburuk, seseorang pegiat lingkungan dari Siberut Selatan. Dalam sebuah obrolan sebelum saya naik kapal kayu ke Sipora, laki-laki yang penuh semangat itu juga menyinggung hal serupa.

"Secara tidak langsung, proses pembuatan sagu sudah berubah. Taprri sudah mulai jarang, orang lebih suka menggunakan karung beras. Anak-anak muda sudah tidak tahu bagaimana cara membuat tappri. Bahkan, mereka tidak pernah melihatnya sama sekali. Tapi, setidaknya sagu masih bisa bertahan sampai sekarang."

Saya setuju mengutip pernyataannya itu untuk menutup tulisan ini, seraya mengingat-ingat kembali bahwa di tengah gencarnya beras, masih ada sagu di Ugai.

Tjak S. Parlan menulis cerpen, puisi, esai; bermukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat

(mmu/mmu)