Kolom

Tiga Pelajaran dari Kesalahan Negara Lain Menghadapi Wabah Corona

Arvin Gouw - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 16:53 WIB
Italia jadi salah satu negara dengan jumlah kasus COVID-19 yang cukup tinggi di luar China. Petugas medis di negara itu bahu membahu rawat pasien virus corona.
Petugas medis di Italia merawat pasien corona (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Sebagai orang Indonesia yang berdomisili di Amerika Serikat, saya sangat prihatin dengan wabah coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang menyebar di seluruh dunia pada saat ini. Covid-19 tidak pandang bulu, baik yang kaya ataupun yang miskin semuanya bisa terkena penyakit ini. Demikian pula dengan Amerika Serikat (AS). Sekaya apapun negara ini, AS tetap khawatir menghadapi apa yang terjadi di Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia.

Saya ingin memberikan masukan bagi pengambil keputusan di Indonesia, setelah mengambil pelajaran dari berbagai negara yang telah terlebih dulu terdampak Covid-19. Pertama, Indonesia harus menyiapkan tes Covid-19 sebanyak-banyaknya. Sebagai negara anggota G-20, Indonesia juga adalah negara ke-4 terbesar di dunia dengan populasi lebih dari 260 juta. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Indonesia hanya melaporkan 134 kasus Covid-19.

Sedangkan di AS, terdapat 4.000 orang yang terdeteksi Covid-19. Mungkin Covid-19 memang belum menjadi pendemi di Indonesia, namun kemungkinan juga karena tidak sampai 1.000 pasien yang dites, sedangkan di AS telah lebih dari 20.000 orang yang dites. Sebagian besar dari tes itu dijalankan bukan oleh pemerintah, melainkan oleh rumah-rumah sakit daerah. Ini semua adalah data per 16 Maret 2020.

Tidak Sulit

Coronavirus bukanlah suatu tes yang sulit. "Resep" atau protokol untuk melaksanakan tes ini sudah ada di berbagai situs umum yang dapat dipahami dengan mudah oleh ilmuwan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Segala bahannya juga mudah diperoleh. Tidak ada perusahaan yang memiliki hak paten untuk melaksanakan tes ini, sehingga ilmuwan Indonesia dapat menjalankan tes untuk mendeteksi Covid-19 dengan bebas.

Tes Covid-19 juga tidak semahal yang disebarkan berita hoax, Rp 30 juta. Di AS, tes ini hanya 50 dolar, atau sekitar Rp 750.000. Pemerintah Indonesia sudah menjamin gratisnya tes ini. Tetapi mengapa sedemikian lama hanya Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) yang menjalankan tes Covid-19 di Indonesia? Barulah pada 16 Maret, pemerintah menambah Lembaga Eijkman dan Universitas Airlangga untuk pengetesan.

Hambatan AS dalam meningkatkan jumlah pengetesan adalah keterbatasan fasilitas dan tenaga kerja. Di Indonesia, biaya fasilitas dan tenaga kerja jauh lebih murah daripada di AS, dan hal ini memungkinkan pengetesan untuk dilakukan secara lebih masif.

Tidak Menganggap Remeh

Kedua, marilah kita belajar dari AS dan Italia untuk tidak menganggap remeh virus Covid-19 sehingga negara-negara tersebut terlambat dalam mengajukan pendekatan social distancing dan travel ban. Kekhawatiran akan merosotnya pariwisata dan ekonomi bukan alasan yang bijaksana dalam menghadapi wabah ini. Semakin banyak pasien Covid-19 yang tidak terdeteksi, maka semakin besar dampak negatif bagi perekonomian Indonesia.

Walaupun populasi Indonesia tinggi, negara kita adalah negara kepulauan, terdiri dari 17.000 pulau. Indonesia tidak seperti Amerika dan negara-negara Eropa yang letaknya berdekatan di benua yang besar. Indonesia memiliki keunggulan alami dibanding bangsa-bangsa lain, sehingga memampukan untuk menjalankan kebijakan karantina secara lebih efektif.

Mulai dari awal mula Covid-19 tahun lalu sampai minggu lalu, 12 Maret, Presiden AS masih menganggap remeh Covid-19. Akibatnya bursa saham merosot drastis. Namun setelah Presiden AS menyatakan bahwa Covid-19 adalah pandemik yang harus dianggap serius, harga bursa saham langsung naik pada 14 Maret. Walaupun sejak itu harga bursa tetap merosot, satu pidato saja dapat memberi dampak signifikan di bursa saham.

Itu menunjukkan bahwa rakyat akan lebih panik jika melihat pemerintah yang kurang transparan dan bimbang. Kepastian dari pemimpin negara untuk menangani wabah ini akan banyak meredakan kegelisahan masyarakat. Tidak seperti AS di mana karantina daerah tergantung dari setiap gubernur daerah masing-masing, wewenang pemerintah pusat di Indonesia lebih besar sehingga memudahkan proses karantina pasien yang terdeteksi positif Covid-19. Ini keunggulan struktur politik yang seharusnya dimanfaatkan.

Ketiga, keterbatasan sumber daya ekonomi dan tenaga kerja memaksa setiap negara, termasuk negara-negara adikuasa, untuk menilik sektor negara yang mana yang harus diprioritaskan dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. Maka satu hal penting adalah mencegah jatuh sakitnya para aparat kesehatan.

Dokter dari Italia dan berbagai negara lain telah menyatakan bahwa banyak dari mereka yang jatuh sakit karena tidak tahu dan kurang mengenakan PPE (personal protective equipment), yaitu alat untuk proteksi pribadi yang terdiri dari sarung tangan sampai masker seluruh tubuh. Bila aparat kesehatan tidak dijaga dengan baik, maka wabah ini tidak akan terkendalikan.

Baik rakyat maupun aparat kesehatan sering memikirkan cara penanggulangan yang mahal, seperti tabung oksigen, UV sanitizer (alat antibakteria menggunakan cahaya ultraviolet), dan lain sebagainya. Namun, banyak cara pencegahan lain yang jauh lebih murah yang sering diabaikan, seperti sabun untuk cuci tangan. Dampak positif pemerintah untuk mengedarkan sabun gratis akan jauh lebih besar daripada membeli dan mempersiapkan tabung oksigen yang harganya jauh lebih mahal.

Ketiga pelajaran ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki banyak keunggulan dan kemampuan untuk menangani wabah Covid-19. Ini adalah suatu wabah di mana yang kaya tidak lagi dapat lari ke Singapura atau Malaysia untuk berobat, karena setiap negara memiliki masalahnya tersendiri.

Inilah waktu untuk pemerintah dan rakyat Indonesia bersatu untuk introspeksi dan membangun bersama infrastruktur sistem kesehatan Indonesia. Dan, Indonesia memiliki kemampuan dan aset yang lebih dari cukup untuk itu.

Dr. Arvin Gouw instructor di Stanford University School of Medicine, Faculty Affiliate di Harvard University Center for Science, Religion, and Culture, dan founding CEO dari Bacchus Therapeutics

(mmu/mmu)