Kolom

Penundaan "Lockdown" dan Urgensi Solidaritas Global

Ersa Elfira Khaiya - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 14:03 WIB
Sudah lebih dari 125 ribu orang positif virus Corona secara global. Sementara jumlah korban meninggal telah melampaui 4.600 orang.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Terhitung sejak tulisan ini dibuat, korban yang dinyatakan positif virus corona di Indonesia bertambah menjadi 227 dengan angka kematian mencapai 19 orang. Angka yang cukup mengkhawatirkan kita semua terlebih kepada mayoritas orang yang belum mendapatkan akses untuk melakukan tes pemeriksaan corona.

Berita-berita yang beredar sejak beberapa minggu yang lalu semakin membawa kabar yang kurang menggembirakan, terlebih lagi munculnya berita hoax yang bertebaran. Negara-negara lain seperti Italia, Iran, dan Filipina pun kita ketahui sama-sama kewalahannya untuk mengontrol pandemik satu ini dan sampai sekarang juga belum menemukan cara yang efektif.

Beberapa negara dengan angka korban positif corona yang jumlahnya mencapai ratusan mulai memutuskan untuk menerapkan lockdown seperti halnya Singapura, Filipina, Malaysia, dan Italia. Sayangnya, untuk pemerintah Indonesia saat ini kebijakan lockdown agaknya masih jauh untuk direalisasikan sebab tidak ada ucapan Presiden Jokowi yang hingga tulisan ini dibuat mendukung kebijakan untuk me-lockdown Indonesia.

Kewalahan

Dunia sedang kewalahan. Setiap negara agaknya menghadapi berbagai masalah yang sama: kepanikan massal, ambruknya perekonomian, kesulitan mengatur massa, ketidaksiapan jumlah instansi dan pekerja kesehatan dan lain-lain. Hal itu pastinya juga dirasakan oleh Indonesia. Sebagai negara yang memiliki banyak pulau dan sangat banyak penduduk serta berbagai keterbatasan sarana yang kompeten cukup membuat negara kita tertinggal dalam penanganan kasus Covid-19.

Terlebih hingga saat ini, tes kesehatan masal juga masih jauh menjadi topik pembicaraan hangat di pemerintahan. Alat untuk mengetes virus corona pun masih belum tersebar secara baik ke seluruh Indonesia. Satu-satunya kebijakan yang dikeluarkan selama ini ialah kebijakan untuk tetap di rumah dan menerapkan libur selama dua minggu untuk beberapa sekolah dan kantor (tapi tentu saja masih banyak sekolah bahkan kampus serta kantor terutama kantor swasta yang tidak meliburkan siswa dan karyawannya).

Kebijakan untuk #dirumahaja dianggap kebijakan yang cukup efektif untuk menunda penyebaran virus, tapi agaknya masyarakat Indonesia masih belum terlalu punya kesadaran untuk menerapkan hal itu. Terbukti dengan masih ramainya jalan-jalan besar.

Masyarakat agaknya belum juga tersadar untuk menerapkan hidup higienis secara radikal sebab menganggap kondisi mereka tak akan separah China ataupun negara lain. Buktinya, hingga saat ini mobilitas masyarakat Indonesia belumlah berubah secara radikal. Pasar tetap buka, masyarakat tetap pergi ke pasar walaupun sedikit khawatir untuk tertular, kantor tetap buka karena takut dengan semakin lesunya perekonomian dunia bahkan sekolah-sekolah pun masih banyak yang belum meliburkan dirinya.

Orang-orang ketika berada di tempat umum belum menerapkan jarak satu meter antarorang lain, dan tak menggunakan penutup kepala padahal rambut manusia juga bisa ditempeli oleh virus. Baju yang mereka gunakan selepas membeli bahan pokok atau setelah pergi keluar untuk sekadar ke masjid pun tetap digunakan untuk masuk rumah dan menempel di kursi ataupun di lantai yang kemudian akan kita injak dan sentuh.

Arahan Presiden untuk membatasi aktivitas di luar rumah memang sudah tepat, tapi itu ternyata belum cukup. Nyatanya ada banyak celah yang tetap bisa masuk ke rumah selepas imbauan #dirumahaja dari Presiden.

Namun, ternyata meskipun ada imbauan tentang isolasi diri pun berjalan dengan lumayan baik, persebaran epidemi tidak lantas akan berhenti juga. Tetap di rumah pun sebenarnya bukanlah solusi paling efektif, sebab menurut sejarahnya isolasi-diri memang tidak membawa manusia pada penurunan krisis virus.

Menurut Yuval Noah Harari, perlawanan manusia terhadap epidemi telah berlangsung sejak dahulu. Pada era pertengahan, tepatnya pada tahun 1520 seorang bernama Francisco de Egula membawa epidemi cacar di tubuhnya dan menyebarkannya ke penjuru Amerika (bahkan ke benua lain) meskipun pada masa itu tidak ada kereta, bus bahkan keledai. Virus tersebut membawa Eropa dalam 'maut hitam' yang menelan korban sebanyak puluhan juta orang (jumlah yang jauh lebih banyak daripada korban perang dunia).

Fakta lain yaitu pada tahun 1918, suatu penyakit sejenis flu yang ganas menyebar dalam beberapa bulan dan menginfeksi setengah miliar manusia (lebih dari lima belas persen dari spesies manusia) dan membunuh seratus juta manusia dalam waktu kurang dari setahun. Sejarah membuktikan bahwa wabah bukanlah suatu hal yang baru dihadapi manusia, dan dari sejarah juga kita bisa belajar dari nenek moyang kita mengenai bagaimana cara efektif manusia untuk bertahan melawan para pandemik baru yang bermunculan.

Pada saat era globalisasi ini, kota besar seperti Jakarta sebenarnya memiliki patogen yang lebih banyak dan kaya daripada Florence pada abad pertengahan dulu. Dan transportasi global sudah semakin canggih sehingga bisa memungkinkan bila transportasi virus berjalan lebih cepat dari yang pernah ada. Namun hal itu tidak apa-apa, karena seperti virus, imun manusia juga berevolusi untuk kebal terhadap beberapa virus tertentu.

Sains terus berkembang, vaksin-vaksin pun diciptakan oleh para ilmuwan dengan waktu yang jauh lebih cepat dari zaman dahulu. Kemajuan sains telah memungkinkan manusia untuk hidup meski dalam lingkungan penuh pandemik seperti virus dan bakteri karena antibakteri dan vaksin yang telah diciptakan oleh kemajuan teknologi.

Berdasarkan data, insiden maupun dampak dari epidemi memang telah turun secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Tidak ada lagi ancaman pandemi yang bisa menimbulkan kematian hingga angka yang bombastis seperti abad-abad terdahulu.

Namun seperti yang kita ketahui, semua berevolusi termasuk virus. Dan memang perang antaramanusia dan pandemi akan terus berlangsung mungkin juga hingga masa depan. Kedatangan pandemi memang sulit untuk diprediksi dan kita lihat, dan merupakan hal yang wajar bila kita semua tidak siap bahkan tak menduga bahwa kita sebenarnya telah terserang oleh virus tersebut.

Hal seperti itu sangat masuk akal untuk menciptakan keributan dan kebingungan dari tingkat individu hingga tingkat negara atau dunia sekalipun. Praktisi Global Health (18/3) di salah satu TV swasta mengatakan bahwa memang tidak ada satu negara pun yang siap fasilitas kesehatannya untuk menampung lonjakan korban yang sangat ekstrem ini. Dan masih banyak pemerintahan yang masuk ke dalam kebingungan bertindak seperti halnya Indonesia.

Bahkan pada awal 'kemunculan' Covid-19 di Asia Tenggara, negara kita pun diduga menyembunyikan informasi mengenai penyebaran virus ini di Indonesia dan menyatakan bahwa tingkat penyebaran Covid-19 di Indonesia sebesar nol persen alias tidak ada pada Februari. Hal inilah yang kemudian membuat warga menjadi tidak waspada dan tidak memperbaiki kualitas sanitasi diri dan lingkungannya.

Dan, tak heran ketika beberapa hari kemudian pemerintah memutuskan untuk tak lagi menekan informasi ini dan mulai mengadakan serangkaian tes pemeriksaan, lonjakan korban yang positif corona naik secara drastis dari angka 2 menjadi angka 227 dan kematian 19 orang hanya dalam waktu sekitar dua minggu. Perhitungan data tersebut lantas membawa Indonesia menjadi negara nomor dua setelah Filipina yang memiliki Case Fatality Rate terbesar di dunia yaitu sebesar 8,37% mengalahkan Italia (7,94%) yang disebut-sebut negara paling buruk dalam menangani corona.

Penyebaran Informasi

Memang tidak ada solusi efektif dalam bagaimana cara kita menangani wabah. Setiap negara tidak siap, setiap orang kebingungan dan menjadi kurang percaya terhadap pemerintahan sebab kebijakan yang tak transparan akhirnya melahirkan lonjakan kasus yang mengkhawatirkan. Kembali pada pendapat Yuval Noah Harari, sebetulnya ada hal yang jauh lebih penting dan efektif untuk kita semua selain melakukan self-isolation.

Berdasarkan sejarah self-isolation tidaklah terlalu membantu terbukti ketika abad pertengahan di mana globalisasi tidaklah ada, pandemi tetap hidup dan menyebar hingga menimbulkan banyak korban. Justru berdasarkan sejarah, proteksi nyata yang efektif ialah melalui penyebaran informasi ilmiah yang benar dan solidaritas secara global. Suatu negara bila sedang terserang epidemi mestinya harus jujur menyebarkan informasi tersebut (dan bukan menutupi) kepada negara lain tanpa takut adanya musibah ekonomi yang terjadi, dan negara lain semestinya dapat mempercayainya dan siap untuk membantu daripada mengucilkan korban dari epidemi itu.

Karantina dan kebijakan lockdown tentu saja masih diperlukan untuk menghentikan persebaran yang lebih luas dari epidemi. Tapi ketika setiap negara memutuskan bahwa itu adalah urusan negara masing-masing dan tak ada hubungannya dengan negaraku, maka tentunya lockdown akan menuntun kita kepada kehancuran ekonomi. Sebab kita tahu bahwa tidak ada negara lain yang akan membantu kita bila negara kita memutuskan untuk lockdown, sehingga merupakan hal yang wajar bila beberapa negara termasuk Indonesia berfikir seribu kali untuk menerapkan lockdown walaupun situasinya sudah mengkhawatirkan.

Ketiadaan solidaritas global tentu akan memperparah kondisi ini, sebab manusia masih melihat isu corona sebagai isu yang bersifat politis dan lupa bahwa penyebaran pandemi di negara mana pun di dunia sebenarnya membahayakan seluruh spesies manusia. Masih ingatkah bahwa virus cacar awalnya hanya dibawa oleh satu orang dan menimbulkan puluhan juta kematian di Eropa?

Virus memang bisa beradaptasi dalam tubuh manusia dan menular kepada manusia lain. Setiap satu orang yang telah terkena virus sebenarnya telah memberikan ancaman bagi seluruh umat manusia sebab mereka memiliki kemungkinan besar pula untuk membawa virus itu sebab kita masih berada dalam satu spesies (dengan kata lain, saling bahu-membahu membantu negara seperti China, Italia Iran, dan Indonesia untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik sebenarnya juga membantu melindungi Amerika dan Israel dari serangan penyebaran virus Corona).

Maka, berdasarkan hal itu manusia saat ini memang perlu untuk menguatkan batas-batas, namun bukan batas antarnegara. Batas yang harus dikuatkan adalah batas antara manusia dengan penyebaran virus tersebut, dan hal ini tidak bisa jika dilakukan tanpa adanya kepedulian internasional, karena kasus corona bukanlah suatu kasus yang bisa dihadapi sendirian oleh masing-masing negara.

Krisis saat ini menantang kita semua untuk menjalin solidaritas yang kuat antarmanusia. Bila krisis ini menghasilkan berbagai perpecahan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain, maka itu adalah kemenangan untuk virus. Tapi jika krisis ini bisa menciptakan solidaritas global yang baik, tentunya itu adalah ancaman untuk Covid-19 dan untuk patogen-patogen lain di masa depan. Semoga kita semua bisa melampauinya.

Ersa Elfira Khaiya peneliti dalam bidang sosial, kepala bagian riset dan pengembangan laboratorium Filsafat Hikmah

(mmu/mmu)