Analisis Zuhairi Misrawi

Dunia Islam Menghadapi Wabah Corona

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 19 Mar 2020 16:15 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Virus corona menjadi wabah yang tidak bisa disepelekan, tersebar di berbagai belahan dunia Islam. Virus ini menyebabkan kematian yang tidak sedikit jumlahnya. Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, Uni Emirat Arab, Mesir, Bahrain, Pakistan, Kuwait, Malaysia, dan Indonesia menjadi negara-negara yang sedang berjuang untuk mengatasi ketersebaran virus mematikan itu. Semua negara memberikan prioritas terhadap upaya mencegah warga yang belum terdampak dan mengobati warga yang positif corona.

Konsekuensinya, seluruh konflik politik yang menjadi pemandangan harian di Timur-Tengah berhenti total. Semua pihak sedang berjuang untuk memastikan virus corona tidak menyebabkan korban kematian dalam jumlah yang besar. Maka dari itu, setiap negara mengambil langkah yang sangat tegas dan terukur untuk memberikan perlindungan terhadap warganya.

Arab Saudi merupakan negara yang sejak awal mengambil langkah yang memberikan dampak besar bagi dunia Islam, yaitu larangan bagi jemaah umrah untuk melaksanakan ibadah dari berbagai dunia, termasuk Indonesia. Mereka yang sudah berada di dalam perjalanan, yang tersebar di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Turki, Qatar, dan Uni Emirat Arab harus kembali ke negeri masing-masing. Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi karena larangan keras bagi jemaah untuk masuk ke Tanah Suci dalam rangka melaksanakan ibadah umrah.

Sontak, sikap pemerintah Arab Saudi tersebut menimbulkan kepanikan bagi para jemaah dan biro travel umrah yang sudah merencanakan perjalanan ibadah jauh-jauh hari. Maklum, jumlah jemaah umrah terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal tersebut bisa dilihat di bandara, betapa banyaknya warga yang hendak melaksanakan ibadah umrah.

Namun, Arab Saudi tidak main-main dalam menghadapi dampak penyebaran virus corona. Pencegahan dan deteksi dini merupakan langkah yang harus diambil mengingat Mekkah dan Madinah merupakan dua kota suci yang setiap saat dibanjiri oleh jemaah yang hendak melaksanakan ibadah umrah. Maka dari itu, Arab Saudi mengambil langkah ekstrem dengan menutup pintu bagi jemaah umrah, bahkan mengosongkan Kabah dari para jemaah. Sebuah pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Padahal dengan larangan tersebut, Arab Saudi mengalami kehilangan devisa yang lumayan besar dari ibadah umrah.

Hal tersebut menunjukkan adanya kegentingan yang luar biasa untuk mencegah ketersebaran virus corona dalam jumlah yang lebih besar. Sebab jika tidak diadakan pencegahan, maka akan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar karena Arab Saudi harus menyediakan rumah sakit dalam jumlah yang besar untuk menangani pasien corona.

Langkah Arab Saudi tersebut sekarang mendapatkan pemakluman karena dianggap tepat. Padahal kita mendengar sejumlah pejabat di negeri ini yang awalnya ingin melobi Arab Saudi untuk memperkenankan jemaah umrah asal Indonesia untuk berangkat ke Arab Saudi, karena saat itu belum ada pasien positif corona dari negeri ini.

Sekarang semua dapat memahami bahwa menghadapi virus corona harus dengan sikap yang tegas. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ibadah umrah adalah ibadah yang dianjurkan bagi setiap muslim, apalagi di tengah antrean panjang ibadah haji. Warga berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai alternatif dari ibadah haji itu, terlebih dalam rangka berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Namun yang lebih penting dari ibadah adalah keselamatan nyawa setiap umat (hifdz al-nafs). Di dalam khazanah Islam, menunaikan ibadah harus senapas dengan upaya untuk menyelamatkan jiwa. Di sini, untuk memastikan keselamatan warga dalam jumlah yang lebih besar diperlukan sikap tegas, ibadah harus mengedepankan kemaslahatan bersama.

Langkah serupa diambil oleh Iran sejak kasus warga positif corona merebak, yaitu meniadakan Salat Jumat di seantero Iran. Maklum, Salat Jumat di Iran diikuti oleh puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan orang di setiap masjid. Di Iran, tidak setiap masjid dapat menyelenggarakan Salat Jumat.

Hampir tidak ada pro-kontra perihal larangan Salat Jumat tersebut karena semua paham bahwa menyelamatkan jiwa warga dari virus corona harus diutamakan. Jika Salat Jumat terus digelar, maka dampaknya akan lebih besar karena mempermudah penyebaran virus corona mengingat virus ini sangat cepat bertransmisi dari manusia ke manusia yang lainnya.

Iran juga menutup dua tempat suci yang diziarahi oleh jutaan umat dari berbagai dunia, yaitu makam Imam Ridha di Mashhad dan makam Sayyidah Ma'shumah di Qom. Padahal dua tempat suci ini tidak pernah sepi dari peziarah. Kebetulan saya sudah sering berziarah ke dua tempat suci itu. Tapi sekali lagi, demi keselamatan warga, maka langkah tidak biasa pun diambil oleh Iran untuk menekan jumlah ketersebaran virus corona.

Di Kuwait, kita melihat masjid-masjid setiap adzan secara khusus mengingatkan agar melaksanakan shalat di rumah. Warga dilarang untuk shalat di masjid, karena pada zaman wabah ini, salat di masjid bukan langkah yang tepat. Menyelamatkan jiwa harus diutamakan dengan cara melaksanakan ibadah di rumah.

Setelah melihat dampak luas dari virus corona, para ulama di berbagai belahan dunia mengeluarkan fatwa yang memerintahkan kita untuk tidak menggelar salat jemaah di masjid, termasuk Salat Jumat dalam rangka menekan penyebaran virus corona. Keselamatan warga harus diutamakan daripada ibadah kolektif yang menyebabkan malapetaka di kemudian hari.

Maka dari itu, sangat aneh jika ada sebagian kelompok dan pihak yang belakangan menyepelekan dampak virus corona dengan dalih mengutamakan ibadah. Bahkan masih ada kelompok yang menyelenggarakan acara keagamaan dengan mengundang warga dalam jumlah yang lebih besar.

Kita bisa belajar dari negara-negara lain yang mengambil langkah tegas untuk mengutamakan keselamatan jiwa warga yang lain. Beribadah di rumah saat ini merupakan solusi yang tepat untuk mencegah ketersebaran virus. Saatnya rasionalitas dikedepankan daripada egoisme dan fanatisme yang akan membawa kemudaratan dan bahaya yang lebih besar.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)