Kolom

Tidak Bersuara Juga Meresahkan

Airy Utomo - detikNews
Kamis, 19 Mar 2020 14:16 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: Andhika Prasetya/detikcom)
Jakarta -

"Dalam penanganan kita memang tidak bersuara. Kita tetap tenang, dan berusaha keras menghadapi tantangan ini," itulah kutipan pernyataan dari Presiden Joko Widodo terkait wabah virus corona. Pemerintah telah memutuskan untuk tidak banyak memberikan informasi terkait penanganan wabah tersebut, termasuk riwayat perjalanan pasien positif corona. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah masyarakat menjadi panik dan resah.

Meskipun tidak banyak bersuara, sebenarnya penanganan yang dilakukan pemerintah dapat kita ketahui. Beberapa langkah penanganan yang telah dilakukan di antaranya membuat clustering, mencari orang-orang yang pernah kontak dengan cluster, isolasi, dan lain-lain. Tetapi masyarakat sebenarnya masih haus akan informasi terkait virus ini. Hal yang ingin diketahui publik adalah daerah yang terdampak dan berpotensi terdampak, termasuk tempat-tempat yang pernah disinggahi pasien positif.

Keputusan pemerintah merahasiakan riwayat perjalanan tersebut mungkin ada sisi positifnya. Dengan merahasiakan riwayat perjalanan bisa mencegah kepanikan warga di daerah yang pernah disinggahi pasien atau bisa mencegah stigma negatif terhadap warga daerah tersebut. Namun masyarakat tetap saja resah.

Orang ingin mengetahui daerah atau tempat terdampak atau kemungkinan terdampak karena bisa jadi mereka juga pernah beraktivitas di wilayah tersebut. Daerah terdampak virus corona mungkin bisa diketahui melalui pemberitaan di TV maupun media online. Tetapi, informasi mengenai daerah berpotensi terdampak masih sangat minim.

Memang benar pemerintah telah melakukan tracking terhadap tempat dan orang-orang yang pernah kontak dengan pasien positif Corona. Tapi bukankah lebih efektif bila pemerintah memberitahukan tempat tersebut kepada publik, sehingga orang yang merasa pernah beraktivitas di sana bisa melaporkan dirinya?

Jika dikhawatirkan banyak orang yang sebenarnya tidak melakukan kontak dengan pasien, namun berbondong-bondong memeriksakan diri ke rumah sakit, yang mana melebihi kapasitas, maka dapat digalakkan mengisolasi diri di rumah masing-masing terlebih dahulu. Selain itu pemerintah daerah setempat pun bisa turut mengambil langkah penanganan untuk mencegah penyebaran virus.

Memang bisa jadi daerah tersebut atau orang yang pernah berada di sana ternyata negatif virus Corona. Namun bukankah lebih baik mencegah dari pada mengobati?

Terlebih di era informasi serba cepat, banyak hoax beredar. Bila pemerintah tidak memberitahukan informasi terkait daerah berpotensi terdampak, maka pembuat hoax yang akan melakukannya. Oknum yang tidak bertanggung jawab bisa dengan seenaknya membuat berita palsu dan menyebarkannya di masyarakat.

Masyarakat yang sebenarnya sudah resah dan (beberapa) panik tanpa mengecek kebenarannya akan mudah menerima hoax tersebut sebagai kebenaran. Bayangkan hoax tersebut berisi tempat, restoran, hotel yang pernah disinggahi pasien positif, padahal bukan; kepanikan akan timbul. Toh yang dibutuhkan masyarakat adalah informasi daerah atau tempat berpotensi terdampak, bukan identitas pribadi pasien.

Kepanikan sebenarnya dapat dicegah bila masyarakat tahu apa yang dihadapi, di manakah terjadinya, dan bagaimana menanganinya, dan penanganan oleh pemerintah. Pemerintah seharusnya dapat meyakinkan dan membuat masyarakat percaya bahwa pemerintah dapat menangani masalah ini. Tapi bagaimana bisa tahu dan percaya bila informasi mengenai penanganan tersebut tidak disuarakan?

Menurut saya keputusan untuk tidak bersuara dengan tujuan menenangkan tidak sepenuhnya baik. Perlu diingat bahwa yang bekerja tanpa suara tidak hanya pemerintah saja. Pemerintah bersaing dengan virus serta hoax yang juga tanpa suara bekerja, menyebar di antara masyarakat, meresahkan, dan ujung-ujungnya membuat kepanikan.

(mmu/mmu)