Kolom

Jenderal Gatot, Wabah Corona, dan Nikita Mirzani

Sudrajat - detikNews
Kamis, 19 Mar 2020 11:38 WIB
TransJakarta Ragunan
Pemeriksaan suhu tubuh penumpang di halte Transjakarta (Foto: Ilman/detikcom)
Jakarta -

"Kematian itu Pasti Dan Saya Tidak Takut Corona Lebih Baik Mati Di Dalam Masjid itu Lebih Mulia Jadi Buat Apa Takut Ke Masjid," kalimat itu ditulis agungsusetyo77 merespons pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo di akun Instagram-nya, @nurmantyo_gatot.

Di situ Gatot menggaungkan gerakan memakmurkan masjid dan salat berjemaah di tengah meningkatnya wabah virus Corona (Covid-19) di Indonesia. Dia melengkapi narasinya dengan menyatakan, "Sepertinya ada yang keliru..?? Di negeri asalnya covid-19-cina, yg penganut paham komunis dan sebagian besar tdk beragama beramai-ramai mendatangi Masjid dan Belajar Berwudhu hingga mengikuti Sholat Berjamaah."

Hingga kemarin petang, posting-an Jenderal Gatot tersebut mendapat lebih dari 36 ribu like dan sekitar 2.200 komentar.

Mudah ditebak, pernyataan itu ditujukan sebagai reaksi atas fatwa MUI. Sebelumnya otoritas keagamaan yang terdiri dari para ahli lintas ormas Islam itu menyampaikan fatwa bahwa Salat Jumat dapat diganti dengan Salat Dhuhur di tempat kediaman.

Menurut MUI, Salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Fatwa ini mengiringi kebijakan pemerintah yang menerapkan social distancing sebagai salah satu upaya menangkal penyebaran virus corona.

Tak cuma MUI. Konferensi Waligereja Indonesia dan Persekutuan Gereja Indonesia pun telah menyerukan umat Nasrani untuk beribadah secara jarak jauh, melalui fasilitas internet.

Setahu saya, Gatot Nurmantyo memang pernah disebut-sebut sebagai "Jenderal Santri" jelang pilpres lalu. Tapi itu lebih karena selama menjadi Panglima TNI dia kerap blusukan ke pesantren-pesantren. Bukan karena kesalehan ritualnya. Juga bukan karena pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya yang mumpuni. Sama sekali tidak.

Karena itu menjadi tanda tanya besar ketika dia seolah mengkritisi Fatwa MUI. Apalagi dengan merujuk informasi bahwa warga China yang komunis beramai-ramai mendatangi masjid dan belajar berwudhu hingga mengikuti salat berjemaah.

Saya tidak tahu persis sumber informasi Jenderal Gatot. Tapi beberapa waktu lalu memang ada beredar foto dan video warga China sedang salat di jalan-jalan. Mereka adalah jemaah Salat Id di kota Yiwu, Provinsi Zhejiang. Pengunggahnya adalah Mak Mohamed di akun Facebook pada 5 Juni 2019. Posting-an itu untuk menepis kabar bahwa kebebasan beragama di China dihambat.

"Lalu lintas dan jalan dialihkan dan polisi berusaha memastikan orang-orang beriman menjalankan ibadahnya bahkan di jalan," tulis Mak Mohamed.

Saya tidak tahu apakah Jenderal Gatot mengikuti berita soal penutupan ibadah umrah oleh Arab Saudi. Juga penutupan area Kabah, mempersingkat waktu ibadah Jumat menjadi cuma 15 menit. Belakangan negeri itu juga memutuskan untuk meniadakan salat berjemaah di semua masjid. Kumandang azan di Saudi dan Kuwait telah dimodifikasi dengan menyerukan kepada warga untuk sebaiknya salat di rumah.

Saya juga tidak tahu apakah Jenderal Gatot tahu bahwa di Korea Selatan itu semula adem ayem soal corona. Sampai pasien #31 ngeyel tak mau diperiksa. Dia memaksa ke tempat ibadah. Akibatnya, sekitar 70 jemaah di Negeri Ginseng itu tertular tanpa mereka sadari kalau mereka tertular.

Di Singapura pun demikian. Ada pasien #94 yang nekad datang ke Festival SAFRA di Jurong pada 15 Februari. Grafik Covid-19 pun melonjak. Begitu juga di Malaysia. Pasca-tabligh akbar di Sri Petaling, dalam sehari bertambah 119 orang positif Covid1-9. Kini angkanya sudah naik di atas 500.

Belajar dari kasus-kasus di negara lain itu, pemerintah kita lalu membuat kebijakan untuk menerapkan social distancing. Caranya antara lain bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah untuk mencegah penyebaran virus corona lebih masif lagi.

Semula saya membayangkan sebagai pensiunan panglima, jenderal bintang empat, Gatot ikut membantu pemerintah, yang oleh sebagian kalangan dicap lamban, memberikan jurus-jurus penanganan wabah yang lebih sigap, misalnya. Atau, sumbangsih lain yang bisa dinilai cerdas dan penuh empati sesuai kapasitas dan kompetensinya. Bukan sebaliknya.

Sayang, sejumlah media malah tergoda untuk mengamplifier pernyataan Gatot tersebut. Padahal pelajaran dasar jurnalistik sudah membuat kategori dan syarat siapa yang layak menjadi narasumber. Salah satunya adalah kompetensi, kredibilitas, dan integritas.

Di luar itu, andai media punya komitmen dan kesadaran yang penuh bahwa wabah corona itu perlu dihadapi bersama dengan serius, tentu tak akan tergoda untuk memberi panggung kepada orang yang berbicara di luar kompetensinya.

Alih-alih sekedar copy paste tulisan Gatot, media mestinya memeriksa akurasi atau validitas data yang disampaikan Gatot seperti telah saya uraikan di atas.

Menurut saya, aksi sejumlah selebritas seperti Atta Halilintas, Rachel Vennya, Afgan lebih layak diberi panggung lebih. Mereka menggalang dana untuk melawan Virus Corona lewat situs donasi Kitabisa.com. Hingga Rabu (18/3) kemarin, dana yang terhimpun sebanyak Rp 2 miliar.

Sebelumnya, artis peran dan pembawa acara Nikita Mirzani turut berpartisipasi dalam penanggulangan virus corona, bertepatan dengan ulang tahunnya ke-34.

Ajakan mereka dapat terus digaungkan ke lintas kalangan, seperti para pengusaha dan konglomerat, misalnya. Saatnya mereka ikut bahu-membahu membantu pemerintah memerangi wabah ini. Jangan lagi bicara rugi, demi kepentingan yang lebih besar: menghentikan penyebaran wabah yang sudah di pelupuk mata.

Sudrajat wartawan

(mmu/mmu)