Kolom

Agus Harimurti dan Doa Susilo Bambang Yudhoyono

Yuri Ardiana - detikNews
Rabu, 18 Mar 2020 13:21 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi menjadi Ketum Partai Demokrat 2020-2025. Ia menggantikan ayah kandungnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Tidak ada orangtua yang berharap anaknya diberikan jalan yang sulit; kebanyakan berdoa ingin anaknya berada di jalan yang mudah dalam mengarungi kehidupan dan mencapai kesuksesan.

Saya teringat Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah mengutip puisi Jenderal MacArthur, dan menjadikannya doa bagi putra-putranya:

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid, one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here, let him learn to stand up in the storm, here let him learn compassion for those that fail.

Inti dari doa tersebut esensinya adalah doa seorang ayah agar anak-anaknya tidak diberikan segala sesuatunya di jalan yang mudah dan lunak, justru menginginkan anaknya di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan, belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya, tetapi juga dengan kekuatan untuk menghadapinya.

Sejak awal SBY tidak mendoakan kemudahan, tetapi kekuatan bagi anaknya untuk menjalankan tantangan. Doa orangtua rupanya menjadi kenyataan; salah satu putranya, Agus Harimurti (AHY) terus menerus ditempa berbagai tantangan, utamanya setelah memutuskan keluar dari militer dan terjun ke dunia politik, tetapi ini tidak menjadikan dia patah tetapi naik ke level berikutnya.

Pada Pilkada DKI Jakarta, elektabilitas AHY tertinggi di antara calon-calon lainnya, namun perjuangannya di pilkada belum berhasil menjelang pemungutan suara --digerilya oleh lawan politik dan menguatnya politik identitas mengakibatkan AHY kalah di pilkada. Namun setelah pilkada, AHY kemudian semakin dikenal oleh publik dan melompat menjadi salah satu tokoh nasional.

Pada Pilpres 2019 AHY masuk bursa Calon Wakil Presiden, menjadi 3 besar di berbagai survei-survei elektabilitas nasional bahkan disebut-sebut sudah dipinang sebagai cawapres dari salah satu capres. Namun, karena proses politik yang dinamis adanya kongkalikong politik peluang itu pun gagal diraih. Hal itu tidak menyurutkan AHY untuk memenangkan Partai Demokrat di Pemilu Legislatif

AHY diberikan tanggung jawab yang amat besar untuk memenangkan Pemilihan Legislatif Partai Demokrat. Di tengah elektabilitas partai yang rendah (sekitar 4,5%), AHY harus berjuang agar Demokrat dapat menaikkan suaranya, paling tidak mempertahankan suara pada 2014 karena Demokrat tidak menikmati efek ekor jas (coat tail effect) pada Pilpres 2019.

Perjuangan semakin berat ketika Ketua Umum Partai Demokrat, SBY tidak dapat turut serta turun langsung mengikuti kampanye dikarenakan harus fokus merawat Ibu Ani Yudhoyono yang sedang menjalani perawatan akibat sakit kanker di Singapura. Ini merupakan sebuah ini tantangan sekaligus ujian pembuktian kapasitas kepemimpinan politik AHY. Perolehan suara Demokrat kembali menurun pada Pemilu 2019 menjadi sekitar 7,7 persen. Namun, hasil ini tetap perlu disyukuri dan merupakan sebuah pencapaian dan buah manis dari perjuangan politik AHY dan para kader di tengah beragam keterbatasan yang dihadapi Demokrat pada Pemilu 2019.

Pileg dan pilpres berakhir, popularitas AHY bukannya menurun dan surut, tetapi makin bersinar. Berkali-kali AHY dipanggil ke Istana oleh Presiden Joko Widodo untuk berdiskusi mengenai kondisi nasional yang saat itu dinilai sedang genting pasca pilpres. AHY juga disebut-sebut masuk bursa menteri dan telah ditawari Presiden Jokowi untuk menduduki salah satu posisi menteri di kabinet. Namun karena dinamika dan situasi koalisi politik yang tidak memungkinkan AHY untuk masuk kabinet, dia kembali terlempar dari bursa.

Rentetan kejadian-kejadian itu menjadi bukti bahwa untuk menjadi seseorang yang berhasil itu tidak mudah. Ada kalanya menghadapi kerikil-kerikil, cobaan, rintangan, dan tantangan. Tetapi itu semua akan menempa seseorang menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai permasalahan.

Saat ini AHY kembali bangkit dan berjuang menghadapi tantangan ke depan yaitu Pilkada Serentak 2020 dan Kongres Partai Demokrat, di mana saat ini dia terpilih sebagai Ketua Umum. Sebelumnya AHY mulai gencar melakukan konsolidasi dan melakukan sebuah pembuktian bahwa "muda adalah kekuatan" dengan mendatangi 34 provinsi di seluruh Indonesia, dan penerimaan dari kader pun semakin kuat.

Banyak orang bilang, AHY diberikan karpet merah oleh SBY dalam terjun ke dunia politik dan untuk memegang tampuk kepemimpinan di Partai Demokrat ke depan. Padahal doa SBY dan realitas yang ada, AHY nyata-nyata menghadapi berbagai tempaan dan rintangan di dunia politik. Hal tersebut juga berbuah manis di mana AHY masuk 5 besar tokoh politik dalam berbagai survei-survei nasional yang popularitasnya tinggi dan masuk kandidat sebagai calon presiden (capres) 2024. Ini semua tentunya tidak mudah.

Dalam menghadapi jalan yang penuh hambatan, godaan, kesulitan, dan tantangan, AHY belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa memahami bahwa tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai sesuatu; semuanya butuh tempaan disertai kekuatan untuk menghadapinya. Itu semua sesuai dengan harapan SBY yang dikutip dari puisi berisi doa dari Jenderal Douglas McArthur: I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge.

Yuri Ardiana Bachelor of Government Science Padjadjaran University

(mmu/mmu)