Kolom

Partai Demokrat di Bawah Nakhoda AHY

Iding Rosyidin - detikNews
Rabu, 18 Mar 2020 12:00 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi menjadi Ketum Partai Demokrat 2020-2025. Ia menggantikan ayah kandungnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
AHY ketua umum baru Partai Demokrat (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Partai Demokrat belum lama ini telah selesai menggelar salah satu hajatan politik penting, yaitu Kongres V di Jakarta. Sebagaimana diketahui, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terpilih secara aklamasi atau suara bulat sebagai ketua umum baru.

Sama sekali tak ada riak, gelombang, apalagi kegoncangan di kapal Demokrat saat perhelatan kongres tersebut. Bahkan acara kongres pun hanya berlangsung sehari saja. Dan, dengan mulus AHY berhasil menggantikan ayahnya sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pucuk pimpinan partai.

Prose perhelatan Kongres V Demokrat tampaknya cukup menarik jika dianalisis dari perspektif atau teori pemikiran kelompok (group think) dari Irving Janis. Teori ini dikembangkan untuk menganalisis fenomena komunikasi, khususnya komunikasi kelompok, termasuk di dalamnya komunikasi organisasi seperti partai politik.

Teori ini menekankan tentang pentingnya konsensus demi terciptanya kohesivitas organisasi. Pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan mainstream, sekalipun misalnya memiliki rasionalitas yang kuat, bisa ditekan sedemikian rupa demi tercapainya kohesivitas tadi. Dengan kata lain, kohesivitas organisasi menjadi sesuatu yang lebih diutamakan ketimbang persoalan lainnya.

Itulah yang tampaknya terjadi pada Partai Demokrat dengan memilih AHY sebagai nakhoda barunya. Dorongan atau mungkin juga tekanan agar terjadinya konsensus --AHY sebagai ketum-- dengan dalih kohesivitas partai pada gilirannya mengeliminasi kemungkinan munculnya calon-calon potensial lainnya di tubuh Demokrat.

Padahal, tidak menutup kemungkinan ada banyak calon potensial lainnya dari kader-kader Demokrat yang sesungguhnya layak menjadi pemimpin tertinggi, bahkan lebih layak dari AHY sendiri. Namun, peluang itu tertutup oleh kehadiran AHY yang sejak awal memang telah digadang-gadang sebagai putra mahkota pewaris tahta-kuasa sang ayah.

Plus-Minus

Pertanyaannya adalah dengan keberadaan AHY sebagai nakhoda baru, akankah Partai Demokrat menjadi lebih baik daripada era kepemimpinan SBY atau sang ayah, atau setidaknya sama levelnya? Ataukah, justru malah akan lebih buruk? Inilah yang ingin dianalisis dalam tulisan sederhana ini.

Memang tidak bisa dimungkiri bahwa AHY memiliki nilai plus atau kelebihan tersendiri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dibandingkan dengan kader-kader Demokrat yang lain. Pertama, AHY memiliki darah biru sebagai putra pertama SBY yang notabene merupakan orang yang paling berpengaruh di Demokrat.

Posisi AHY sebagai pemilik darah biru tersebut jelas memberikannya keuntungan tersendiri untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari seluruh kader Demokrat. Tentu saja hal tersebut bisa menjadi modal politik yang sangat penting bagi AHY. Tanpa dukungan dan kepercayaan yang besar, jelas ia akan kesulitan memimpin partai yang pernah menjadi salah satu partai besar di Indonesia.

Kedua, sebagai konsekuensi dari yang pertama, AHY akan dianggap sebagai simbol pemersatu di tubuh Demokrat. SBY memang merupakan tokoh penentu utama di Demokrat, tetapi tetap saja ada faksi-faksi lain di dalamnya, yang notabene berpotensi memiliki suara dan kecenderungan yang berbeda dengan arus utama.

Namun demikian, kehadiran AHY yang notabene pewaris utama SBY bisa menjadi tokoh pemersatu di kalangan faksi-faksi tersebut. Mereka yang sebenarnya tidak sefaksi dengan arus utama akan bersikap segan pada AHY karena masih menghormati SBY.

Dalam konteks ini, keberadaan AHY di Demokrat tidak jauh berbeda dengan Megawati di PDI Perjuangan. Mega begitu kuat bertahan di partai wong cilik tersebut karena memiliki darah biru, yakni trah Sukarno. Sampai beberapa kali Mega tetap didaulat sebagai ketua umum bahkan ketika usia sudah cukup lanjut.

Memiliki kelebihan tidak berarti AHY lepas dari kekurangan. Setidaknya ada dua kekurangan AHY yang harus bisa diatasinya jika ingin berhasil sebagai ketua umum. Pertama, kelebihan AHY sendiri, yakni sebagai pemilik darah biru, jika tidak mampu dikelola dengan baik, justru berpotensi menjadi kelemahannya pada saat yang sama. Sangat mungkin, AHY hanya akan menjadi bayang-bayang dari SBY.

Saat ini SBY masih segar bugar. Ia tentu saja masih menjadi "Godfather" di kapal partai yang berlambang mercy tersebut. Jika AHY, dalam berbagai pemikiran dan langkah politiknya hanya menyalintempel (copy paste) SBY, maka anggapan sebagai bayang-bayang sang ayah akan melekat kuat di dirinya.

Kedua, dari sisi pengalaman politik, AHY jelas sangat minim. Mundur dari karier militer yang sedang menanjak, lalu terjun ke dalam politik dengan tampil sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta serta Ketua Komando Tugas Bersama (Kosgama) Demokrat sebenarnya belumlah memadai sebagai seorang ketua umum partai politik sebesar Demokrat.

AHY belum cukup menghadapi ujian politik yang penuh dinamika. Padahal mengelola sebuah partai politik memerlukan pengalaman yang memadai, selain tentu saja kepiawaian dalam menghadapi beragam persoalan kepartaian. Apalagi persoalan partai politik di Indonesia merupakan salah satu yang serius, mulai dari konflik internal berujung perpecahan dan lain sebagainya.

Dengan kondisi seperti tersebut di atas, AHY mau tidak mau harus banyak melakukan pembelajaran dan adaptasi politik yang serius. Waktu pembelajaran politik selama ini di Demokrat jelas masih sangat kurang untuk bisa benar-benar menjadi seorang politisi yang andal. Lebih-lebih untuk menjadi ketua umum partai politik.

Bagaimanapun AHY telah resmi menjadi nakhoda baru Demokrat. Di tangannyalah kini kemudi kapal biru tersebut. Apakah kelebihan AHY akan mengalahkan kekurangannya, ataukah sebaliknya, kekurangannya yang lebih menonjol, waktulah yang akan menjawabnya.

Iding Rosyidin Sekretaris Jenderal Asosiasi Program Studi Ilmu Politik Indonesia (Apsipol), Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(mmu/mmu)