Kolom

Wabah Corona, "Moral Panic", dan Masyarakat Risiko

Abdul Rahim - detikNews
Senin, 16 Mar 2020 17:39 WIB
Moral panic dalam Masyarakat Resiko
Ilustrasi: IG @jokowi
Jakarta -

Apa yang menjadi ketakutan di masyarakat atas penyebaran suatu wabah tidak terlepas dari peran media yang menyajikan framing atas itu sebagai momok. Hal ini menunjukkan nalar kritis audiens atas sajian itu pun seolah bungkam dan menerima itu apa adanya atas realitas yang dinarasikan sedemikian rupa melalui sudut framing tersebut. Hal ini sebenarnya tidak membantu apa-apa atas penanganan wabah, justru semakin memunculkan kekhawatiran-kekhawatiran berlebih dari realitas semu yang di-framing tersebut.

Pentingnya edukasi dari media atas pemberitaan penyebaran suatu penyakit merupakan hal yang sangat vital untuk digalakkan saat ini. Pasalnya saat ini, alih-alih sebagai corong untuk itu, media semakin menonjolkan sisi eksploitatif dalam bentuk komodifikasi atas sajian-sajian mereka tentang penyakit tersebut. Apa yang Stanley Cohen sebut sebagai moral panic di bukunya Folk Devils and Moral panic (2002), dalam pemberitaan itulah yang terjadi saat ini.

Moral panic merupakan efek dari pemberitaan yang dijejalkan secara masif atas hal-hal yang mengkhawatirkan dari suatu kejadian sehingga memunculkan kepanikan juga bagi siapa yang mengkonsumsi pemberitaan tersebut. Begitu juga dengan efek dari pemberitaan virus corona hari-hari ini.

Moral panic yang muncul kaitannya dengan kekhawatiran berlebih akan dampak yang ditimbulkan oleh penyebaran virus tersebut, lalu masyarakat merespons itu dengan kepanikan yang menyebabkan mereka seolah merasa perlu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi itu, salah satunya dengan menyiapkan masker ataupun stok makanan yang mereka perkirakan akan mengalami kelangkaan.

Moral panic
yang muncul dari efek pemberitaan menjadikan masyarakat kita semakin khawatir akan dampak yang akan terjadi alih-alih untuk semakin waspada. Hal ini menjadi pemicu atas ketidaksadaran masyarakat sehingga berupaya mempersiapkan apa-apa yang menurut mereka perlu sebelum terjadinya kemungkinan terburuk. Tetapi bukannya bersikap wajar, malah masyarakat kita semakin terprovokasi untuk menimbun kebutuhan-kebutuhan pokok tanpa berpikir akan dampak ketika semua melakukan hal tersebut, terutama kenaikan harga.

Masyarakat Risiko


Apapun yang muncul dari risiko yang diakibatkan oleh produk modernitas, sistem kapitalisme hadir melihat itu sebagai akumulasi untuk profit yang bisa diraih di balik risiko-risiko tersebut. Ulrich Beck (1992) dalam bukunya Risk Society: Towards a New Modernity menyebutkan bahwa masyarakat risiko yang muncul sebagai akibat dari kemajuan teknologi menjadikan kita seolah tunduk akan kultur risiko yang bisa diprediksi kemunculannya di masa yang akan datang.

Maka, risiko-risiko yang seolah bisa diprediksi tersebut menjadi bagian dari akumulasi kapital bernilai profit yang ditawarkan kepada masyarakat yang lekat dengan kultur risiko. Risk society yang dikonsepkan Beck merupakan upaya memanajemen risiko dengan menghadirkan tawaran-tawaran bernilai ekonomis untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan muncul.

Sistem asuransi kesehatan, kecelakaan kerja, ataupun asuransi-asuransi lainnya bekerja dengan mekanisme risk society yang menyasar terutama masyarakat kelas menengah dengan dalih untuk menangkal risiko ke depannya. Tetapi risiko-risiko yang masih abstrak tersebut dicoba jadikan sebagai bagian dari penciptaan ketundukan masyarakat untuk mengikuti alur berpikir kapitalisme dengan akumulasi profit yang menjadi tujuan.

Modernitas yang menciptakan masyarakat risiko menjadikan nalar kritis masyarakat justru terbelenggu mengikuti apa yang disajikan kapitalisme untuk menangkal risiko-resiko yang dikhawatirkan. Dikontekstualisasikan dengan fenomena wabah corona saat ini, risk society bisa menjadikan masyarakat kita terselubung dalam moral panic atas penjejajalan media terkait penyebaran virus tersebut.

Alhasil, kepanikan itu pun semakin mengukuhkan kultur risiko dalam masyarakat yang di baliknya termasuk modernitas teknis yang menyelubungi kesadaran kita yang hanya menerima apa adanya atas sajian media. Alih-alih menyajikan hal-hal edukatif ataupun merahasiakan identitas korban, media justru menjadi detektif yang menyelidiki keberadaan korban bahkan diumbar secara detail identitasnya.

Kepanikan pun semakin menjadi di lingkungan masyarakat sekitar korban, yang akhirnya pun memunculkan tekanan yang berat bagi mereka dengan stigma pengidap penyakit. Padahal ketika semuanya dirahasiakan secara baik dan ditangani secara cepat pastinya tidak akan terjadi kepanikan. Kepanikan dari tetangga dengan stigma itu pun tidak membantu apa-apa untuk kesembuhan si korban.

Komodifikasi Risiko


Kultur masyarakat risiko yang menyelimuti kita dengan modernitas tahap lanjut, dalam tesisnya Beck, bahwa semua bentuk modernitas mempunyai risiko yang menjadi bayang-bayang atas ketundukan kita untuk mengikuti logika kapitalisme. Salah satunya dengan menyajikan janji untuk menangkal risiko-risiko abstrak yang kemungkinan bisa muncul, bisa juga tidak.

Tawaran-tawaran untuk penangkal risiko itu pun bagian dari bentuk komodifikasi yang bisa saja kita terima sebagai produk modernitas. Tetapi siapa yang paling diuntungkan atas risiko-risiko tersebut itulah yang dilihat Beck ketika mengkonseptualisasikan masyarakat risiko dalam tesisnya. Kultur risiko dalam tawaran kredit liang lahat pemakaman, asuransi kesehatan, asuransi properti dan lainnya merupakan bagian dari komodifikasi atas risiko-risiko yang kemungkinan besar pun bisa tidak terjadi.

Namun, dalam konteks masyarakat risiko yang diselimuti virus corona saat ini, kekhawatiran atas risiko itulah yang menjadi celah untuk munculnya produk-produk modernitas lainnya terutama yang berkaitan dengan hal medis. Tentu saja ketika medis sebagai produk modernitas lebih bernilai eksploitatif lagi ketika hanya boleh didefinisikan secara sistematis melalui legitimasi medis modern dengan klaim sebagai pemilik pengetahuan.

Pun dalam proses identifikasi, pengobatan, dan hal lainnya, medis modern seolah hanya satu-satunya yang dijadikan rujukan untuk penanganannya, dengan mengabaikan model-model pengobatan alternatif lainnya yang bisa diupayakan.

Penyakit sebagai bagian dari risiko pun merupakan sasaran untuk akumulasi profit dari kapitalisme dalam bentuk penyediaan medis modern ataupun upaya-upaya penyembuhan, juga antisipasi atas munculnya penyakit yang diklaim sebagai satu-satunya pilihan. Hal ini terjadi karena masyarakat kita pun sudah terkungkung dengan logika medis modern sebagai satu-satunya klaim kebenaran untuk penanganan penyakit, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan motif ekonomi yang dikejar melalui kultur risiko tersebut diterima secara taken for granted oleh masyarakat.

Nalar Kritis


Nalar kritis untuk melihat kultur risiko itu pun tidak terbentuk secara mapan ketika kita sudah didikte oleh sistem kapitalisme di balik itu. Kita terkadang menerima apa adanya dari apa yang didefinisikan medis modern, sementara siapa yang mencoba mengakumulasi profit di balik risiko tersebut bukan menjadi hal penting yang kita kritisi.

Begitu juga dengan kepanikan yang muncul dari kultur masyarakat risiko ini, semua hal yang semestinya berjalan seperti biasanya, bahkan sekarang kita selalu dibayang-bayangi ancaman atas risiko-risiko yang selalu dijejalkan atas konsumsi sajian media.

Apa yang disebut sebagai infodemic pun muncul menyelimuti kita dengan banjirnya informasi terkait risiko-risiko yang dinarasikan entah sebagai sesuatu yang faktual bahkan hoax sekalipun. Kekritisan kita atas informasi yang menjadi wabah dalam konteks infodemic itu pun tidak membantu apa-apa untuk kita lebih waspada dengan hal-hal edukatif yang semestinya lebih kita upayakan.

Alih-alih meningkatkan sensitivitas sosial untuk berjuang mengatasi wabah tersebut, malah kita lebih disibukkan untuk mencari celah-celah keuntungan di balik risiko-risiko atas wabah sebenarnya maupun wabah dari infodemic tersebut.

Hal yang paling penting diusahakan untuk kemaslahatan bersama itulah yang mesti digalakkan di balik pencegahan kultur-kultur risiko yang sedang merebak. Apa yang menjadikan masyarakat risiko seolah tunduk dengan rasionalitas teknis tak ubahnya seperti membawa kita dalam kultur ketundukan atas informasi yang menjadi penjejalan atas kebenaran-kebenaran tunggal yang didefinisikan oleh sistem kapitalisme.

Salah satunya dengan produk modernitas melalui medis modern, segala hal yang kaitannya dengan penyakit yang baru merebak ini pun, ketika seseorang baru disebut sebagai suspect, kepanikan itu pun semakin menjadi yang mengakibatkan kekhawatiran berlebih pada masyarakat risiko yang selalu mendambakan sesuatu yang ideal hanya untuk kalangan mereka meskipun motif ekonomi tidak lagi menjadi hal yang mereka persoalkan.

Masyarakat risiko dengan penjejalan moral panic ataupun infodemic yang dikonsumsi secara masif, hal ini sama sekali bukan bagian dari sikap antisipatif untuk penanganan yang lebih baik di negara yang tentunya juga dengan kultur post-truth yang sudah mengakar di kehidupan masyarakat. Artinya, satu hal yang juga penting untuk diupayakan bersama tentunya dengan saling mendukung untuk melawan wabah tersebut dengan meningkatkan solidaritas, alih-alih menimbun segala sesuatu yang bisa dijadikan sebagai bagian dari pencegahan lalu mengakumulasi itu sebagai bagian dari profit.

Jadi, bukan hanya wabah sebagai risiko yang menjadi kekhawatiran, krisis humanisme di balik risiko itu pun semestinya menjadi alarm nyaring untuk kita waspadai dan tentunya kita lawan untuk mengembalikan kesadaran masyarakat kita dalam upaya kebersamaan dan keadilan.

Abdul Rahim staf pengajar Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram

(mmu/mmu)