Kolom

Perlukah Peta Sebaran Kasus Corona Se-Indonesia?

Aji Putra Perdana - detikNews
Senin, 16 Mar 2020 14:45 WIB
Perlukah Peta Sebaran Kasus Covid-19 Se-Indonesia?
Peta sebaran kasus corona di Provinsi Jawa Barat
Jakarta -

Sebuah peta interaktif dengan dashboard yang lengkap dan informatif disajikan oleh Johns Hopkins Center for Systems Science and Engineering telah menunjukkan tentang betapa pentingnya informasi kasus Covid-19 dalam sajian visual membuka mata kita. Tracking kasus Covid-19 yang menyebar cepat dan dinamis di hampir seluruh dunia ini semakin membuat kita melek spasial. Seiring jumlah kasus yang meningkat di Indonesia, maka Indonesia pun muncul dalam sajian peta interaktif tersebut.

Dua hari lalu (13/3), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam paparannya menyampaikan Peta Sebaran Kasus Covid-19. Berikutnya (15/3), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui akun media sosialnya menyampaikan bahwa Peta Interaktif Sebaran Kasus Covid-19 dapat diakses di https://pikobar.jabarprov.go.id/#/ mulai pukul 21.00 WIB.

Data yang ditampikan berupa titik koordinat dari lokasi yang terkena kasus dilengkapi informasi status kasus, usia, jenis kelamin hingga informasi wilayah administrasi level desa. Ada tiga jenis titik kasus, titik berwarna merah menunjukkan kasus positif corona, titik kuning adalah PDP (pasien dalam pengawasan), sedangkan titik biru adalah ODP (orang dalam pemantauan).

Pertanyaan muncul, bagaimana dengan provinsi-provinsi lainnya? Akankah Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginstruksikan dinas terkait untuk mengeluarkan peta yang sama? Ataukah, gugus yang telah dibentuk oleh Presiden Joko Widodo yang diketuai oleh Kepala BNPB akan mengeluarkan Peta Interaktif Sebaran Kasus Covid-19 Se-Indonesia?

Pertanyaan yang muncul kemudian, pentingkah kita mendapatkan informasi sebaran tracking kasus Covid-19?

Saya sempat berdiskusi dengan tiga orang kawan dalam sebuah grup WhatsApp membahas tentang hal ini dari sudut pandang kami yang berlatar belakang keilmuan Geografi. Salah seorang di antara kami adalah dosen Fakultas Geografi, sebut saja namanya Iswari, dalam diskusi tersebut mencoba menggali lebih dalam dari Peta Interaktif Provinsi Jawa Barat yang ditambah informasi dari lokasi tempat tinggal salah satu kawan kami.

Analisis yang dikemukakannya adalah dapatkah kita melacak lokasi awal mula dari salah satu kasus, kemudian menyebar ke arah mana, dan latar belakang apa saja yang dapat menyebabkan penyebaran virus tersebut?

Wah, memang berat pertanyaan dari seorang dosen. Salah satu kawan (sebut saja namanya Bowo) kemudian melempar wacana, kalau kita dapat bekerja sama dengan provider telekomunikasi mungkin data geolokasi orang yang terkena kasus tersebut dapat di-mining (data mining). Sederhananya seperti melacak lokasi perjalanan orang melalui data geolokasi tracking di smartphone-nya (dengan asumsi orang tersebut memiliki perangkat komunikasi ini).

Lebih lanjut, Bowo menambahkan ilustrasinya semisal yang positif dilacak lokasi aktivitasnya selama 14 hari yang lalu ke mana saja. Kemudian dikaitkan dengan suspect-suspect lainnya. Tak lama kemudian, seorang kawan lagi namanya Tiyar mengakses data atau peta interaktif dari Provinsi Jawa Barat tersebut melalui perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) dan menempelkan koordinat lokasi tempat tinggalnya di daerah Depok.

Seketika dia kirim gambarnya dan menunjukkan bahwa lokasinya dikelilingi suspect. Lalu saya minta Tiyar untuk mengecek berapa radius jaraknya. Tiyar mengirim kembali gambar peta hitungan jarak tempat tinggalnya dengan kasus 1 dan 3 di Depok berjarak sekitar 2,5 kilometer.

Dari hal tersebut, kami pun berkesimpulan sementara bahwa informasi sebaran kasus Covid-19 dalam bentuk peta jauh lebih mudah untuk dipahami ketimbang hanya penyampaian informasi yang berupa tabular atau jumlah kasus saja. Jika tidak memiliki perangkat lunak SIG yang digunakan oleh Tiyar, kita dapat juga menggunakan aplikasi yang cukup familier seperti Google Maps untuk mengukur jarak tersebut.

Kami pun berpikir, sekiranya inilah kesempatan untuk melihat betapa luasnya Indonesia yang memerlukan kesadaran atau melek spasial dalam menghadapi pandemi (yang tak kenal batas geografis dalam penyebarannya).

Nah, untuk BNPB sendiri sebagai gugus terdepan dalam menghadapi Covid-19 sepertinya menyajikan peta bukanlah hal yang susah untuk dilakukan. Jika melihat informasi grafis yang berupa peta di website BNPB http://geospasial.bnpb.go.id/ maka penyajian Peta Sebaran Kasus Covid-19 Se-Indonesia adalah hal yang memungkinkan. Hanya saja, data masukan dari pemerintah daerah atau Kementerian/Lembaga terkait yang up to date tentunya diperlukan.

Sekiranya di era keterbukaan informasi dan kebijakan data yang terbuka tentunya apabila informasi dalam wujud peta tersebut terwujud semakin memudahkan masyarakat dalam memahami kasus Covid-19 dan persebarannya. Dengan penyajian data sebaran tersebut diharapkan pula dapat menjadi alat bantu dalam pengambilan keputusan terkait, apakah suatu wilayah perlu mengambil tindakan lockdown atau belum.

Pandemi tak kenal batas geografi, tapi tracking lokasi kasus Covid-19 dapat didekati dengan analisis geografi.

Aji Putra Perdana pemerhati peta

(mmu/mmu)