Kolom

Jika Harus "Lock Down"

Mory Gultom - detikNews
Minggu, 15 Mar 2020 11:00 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pusat pandemi virus Corona kini ada di kawasan Eropa.
Foto: AP Photo
Jakarta -

World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemi. Virus Corona telah menyebar ke lebih dari seratus negara di dunia. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Artinya, virus Corona telah diakui menyebar luas hampir ke seluruh dunia.

WHO sendiri mendefinisikan pandemi sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit.

Dilansir gisanddata.maps.arcgis.com, sebuah laman berisi sebaran data global yang terjangkit Covid-19, total kasus yang telah terkonfirmasi per 14 Maret 2020 mencapai 147.779 dengan kematian sebanyak 5.539 orang. Jumlah tersebut berasal dari semua negara yang positif terinfeksi, termasuk Indonesia.

Belajar dari China

Begitu dikonfirmasi bahwa Covid-19 telah masuk ke Indonesia, bangsa ini seketika tergagap. Padahal Indonesia bukan negara pertama yang terdampak. Ada jeda waktu sekitar tiga bulan sejak kemunculannya di Wuhan, China. Namun durasi tersebut tampaknya tidak dimanfaatkan untuk mempersiapkan sarana dan prasarana yang memadai, seperti pusat informasi. Akibatnya, berita menjadi simpang siur. Sulit dibedakan yang benar dan yang tidak.

Menteri Kesehatan sendiri lebih sering melemparkan wacana-wacana yang tidak substantif. Alih-alih menyediakan langkah preventif, ia justru lebih sering mengimbau masyarakat rajin berdoa. Meski penyataan itu mengandung kebenaran, tetapi dalam konteks sebagai penanggung jawab kesehatan seharusnya mampu memberikan arahan yang lebih teknis.

Bila saja pemerintah cepat tanggap, kegamangan ini tidak perlu terjadi. Indonesia termasuk yang "beruntung" karena tidak termasuk negara yang terpapar pada fase pertama. Bahkan baru positif terjangkit pada saat China sudah dalam masa pemulihan. Artinya, Indonesia memiliki pembanding. Pengambilan kebijakan tinggal bercermin dari apa yang telah dilakukan oleh China baru-baru ini, meskipun tidak semua bisa diadopsi karena berbagai faktor.

Pemerintah, belajarlah dari China! Sebagai negara yang pertama kali disergap Covid-19, Negeri Tirai Bambu itu telah lulus uji. Benar bahwa kerugian tak terhindarkan. Kerugian materi, energi, bahkan nyawa. Tercatat, hingga 14 Maret 2020, tiga ribuan warganya meninggal dunia, pertumbuhan ekonomi anjlok. Namun keberanian pemimpinnya dalam mengambil keputusan patut diapresiasi.

Pembangunan rumah sakit dalam tempo sesingkat-singkatnya, kebijakan lock down kota yang sudah terpapar virus, dan ketersediaan informasi yang mudah diakses oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Kini, hampir 90% warga China yang sempat terinfeksi dinyatakan telah sembuh, sementara di Indonesia (dan negara lain) baru saja mulai mewabah.

Maka ada baiknya belajar dari China. Atau, bisa juga meminta bantuan medis, baik tenaga, obat-obatan, maupun peralatan dari sana. Italia sudah melakukannya --China telah mengirimkan tenaga medis untuk membantu negara tersebut dalam penanggulangan.

Lock Down

Wacana yang mengemuka dan kian menguat saat ini adalah rencana lock down pada daerah yang dinyatakan telah terpapar. Tentu dengan berbagai pandangan baik pro atau kontra. Ada yang berpendapat bahwa keputusan menutup akses wilayah hanya akan mengakibatkan ketakutan dan rasa panik. Namun tampaknya ini adalah hal yang paling masuk akal. Penyebaran virus harus dibatasi, salah satunya dengan cara lokalisasi. Dengan demikian, penganan juga bisa lebih terfokus.

Hanya saja, kebijakan tersebut harus dibarengi dengan persiapan yang matang dan kesiagaan pemerintah dalam memfasilitasi kebutuhan warga. Dalam hal ini, pemerintah pusat dan daerah wajib berbagi peran, yakni menyediakan bahan makanan, memastikan call center dan petugas kesehatan dalam kondisi siaga, mobil/ambulans dengan jumlah yang memadai, kamar-kamar rumah sakit cukup untuk menampung pasien, dan lain sebagainya.

Pekerja harian lepas yang tidak memiliki penghasilan rutin harus menjadi perhatian khusus. Bagaimanapun, kebijakan lock down akan memukul mereka. Oleh karena itu, pemerintah wajib menjamin keberlangsungan hidup mereka sampai situasi kembali normal. Atau bisa juga memberdayakan warga di tataran akar rumput. Misalnya menggerakkan RT hingga RW bergiliran menyumbang sembako kepada warga yang kehilangan mata pencaharian. Inilah saatnya jiwa gotong-royong kita diuji.

Pemerintah, lupakan sejenak pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, perpindahan ibu kota negara, apalagi kontestasi politik! Kita sedang berada di pusaran bencana. Maka kita harus fokus pada penyelamatan jiwa. Mitigasi!

Waktu semakin terbatas, sementara penyebaran virus semakin tak terkendali. Untuk itu masyarakat perlu informasi dan arahan yang jelas. Pemimpin harus bertindak cepat, agar publik tidak panik tetapi juga tidak abai pada bahaya di depan mata. Jika lock down adalah solusi terbaik dari yang terburuk saat ini, laksanakan saja tanpa ragu.

Pro-kontra adalah hal yang lazim dalam sebuah kebijakan. Jangan sampai menyesal seperti Italia, yang merasa terlambat menangani Covid-19 hingga harus menewaskan seribuan orang warganya dalam waktu yang relatif singkat.

Sejalan dengan langkah yang nantinya akan diambil pemerintah, edukasi kepada masyarakat harus terus dijalankan secara masif. Media-media massa diharapkan dapat mengambil peran ini. Menampilkan infografis-infografis yang mudah dipahami awam, misalnya mengenai sifat sang virus, media penularan, metode penanganan yang dapat dilakukan secara mandiri, rumah sakit yang dapat dituju, biaya pengobatan, yang perlu dilakukan ketika wilayah di-lock down, dan lain sebagainya.

Ketersediaan informasi dengan sumber terpercaya akan mempersempit ruang bagi penyebaran hoax.

Sebagai penutup, mari mengambil hikmah dari peristiwa ini. Barangkali kita sedang diingatkan untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Dan di saat semuanya kembali normal, semoga kita pun kembali pulih pada hakikat kehidupan yang sesungguhnya: merawat relasi dengan alam dan sesama makhluk lainnya.

"Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan cara-Nya sendiri," tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia.

Mory Yana Gultom asisten Ombudsman Republik Indonesia

(mmu/mmu)