Kolom

Ada yang Menonjol, Yaitu Komentar dan Pikiran Seksismu

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 16:30 WIB
kalis mardiasih
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

"Saya pernah bertemu artis A. Asli, kecantikannya mewah betul. Kakinya putih sekali, mungkin bak pualam kalau menurut puisi."

Seorang teman laki-laki langsung saja memprotes kalimat saya. "Kok kamu boleh mengomentari kecantikannya? Tidak masalah ya?"

Saya mencoba menerka ke mana arah pertanyaannya. Ah, saya paham. Selama ini, saya sering protes jika agensi atau nilai diri seorang perempuan hanya dilihat sebatas kecantikan saja. Polwan cantik, guru cantik, tukang bubur cantik, begitu media terbiasa menulis identitas perempuan sehingga perempuan kehilangan identitasnya yang lain.

Polwan punya nilai karena ketegasan dan kesigapan di lapangan. Guru punya nilai karena kompetensi mengajar. Tukang bubur punya nilai dari rasa bubur yang ia hidangkan ke pelanggan. Semua nilai itu tiba-tiba kabur sebab media berita menggiring pembaca buat berfokus pada parasnya belaka.

Seseorang tentu saja bisa memuji perempuan cantik sebagai pujian. Sebaliknya, penyematan label cantik dalam sederet profesi di atas seringkali muncul lebih sebagai ekspresi seksualisasi yang berikutnya mereduksi agensi seorang perempuan. Saya bisa menyebut Nicholas Saputra tampan, bahkan tampan sekali, ketika saya mengomentari kampanye Nicho untuk mencintai lingkungan lewat film Semesta.

"Ganteng betul, Mas Nicho ini." Jejak komentar yang saya tinggalkan di kolom Instagram Nicholas Saputra itu tidak bertendensi mereduksi karya-karyanya, melainkan sebagai kata sifat yang mewakili pujian saya pada keseluruhan karyanya.

Minggu lalu, komentator sepakbola dalam laga pertandingan Persita Tangerang lawan PSM Makassar di televisi, Rama Sugianto melontarkan candaan seksis kepada barisan suporter perempuan dalam tayangan live. Fakta bahwa Rama Sugianto telah meminta maaf itu satu hal, hal lainnya justru menjelaskan betapa seksisme di media sosial begitu kuat terinternalisasi dalam pikiran masyarakat laki-laki bahkan mungkin juga perempuan.

"Ada yang menonjol tapi bukan bakat, Bung," begitu komentar Rama, adalah internalized misogyny khas komentar masyarakat Instagram kepada selebgram perempuan.

Dalam budaya masyarakat Instagram, persona seseorang memang seringkali hanya terwakili oleh foto saja. Seorang model di Instagram setiap hari hadir dalam bentuk foto untuk menginklankan berbagai produk. Jika selebriti yang telah mapan dikenal sebagai brand ambassador sebuah produk tertentu yang memiliki nilai produk tertentu, seorang model di Instagram sering tidak memilikinya. Ia bisa mengiklankan apa saja, bahkan seringkali kena protes publik ketika sebuah produk kecantikan atau perawatan tubuh ternyata ilegal dan tidak lolos standar BPOM.

Dalam situasi tersebut muncul peluang terbentuknya budaya misoginis yang mengomentari tubuh perempuan di Instagram.

Awalnya, "ada yang menonjol tapi bukan bakat" adalah komentar seksis warganet laki-laki untuk merespons tampilan dada perempuan dalam baju seksinya. Payudara perempuan memang sejak lama direduksi maknanya jadi sebatas tonjolan daging yang menarik pandangan mata laki-laki, padahal payudara perempuan, sebagaimana bagian tubuh lainnya juga memiliki fungsi biologis, bukan semata organ seksual.

Dalam kasus Rama Sugianto, seksisme muncul dengan sangat spontan bahkan ketika melihat suporter bola perempuan yang berpakaian sopan. Hal ini memperlihatkan betapa komentar seksisme sangat berpengaruh untuk membentuk pola pikir masyarakat maskulin. Ketika melihat perempuan, para misoginis ini otomatis melihat ke dadanya saja, bukan melihat perempuan sebagai manusia yang bukan hanya punya tubuh, namun juga nilai.

Tradisi komentar seksisme di media sosial ini adalah rape culture dalam kategori yang lebih memprihatinkan sebab komentar seksisme hadir secara beramai-ramai dan dianggap sebagai indikator eksistensi maskulinitas. Satu orang yang memprotes perilaku ini berpotensi mendapat perundungan ramai-ramai, untuk kemudian disemati kata sifat yang mencerminkan feminitas rapuh, seperti baperan, sensitif, PMS dan lain-lain.

Tipe komentar lain, seperti "ada yang tegak, tapi bukan keadilan" merujuk kepada alat kelamin laki-laki yang ereksi sebagai respons biologis ketubuhan ketika otak laki-laki mengirimkan rangsangan seksual. Laki-laki yang merespons seluruh penglihatannya dengan komentar ini seolah gagal untuk mengontrol pikirannya sendiri. Ia melihat perempuan selalu hanya sebatas tubuh yang ia seksualisasi, kemudian ia gagal mengendalikan kemanusiaannya sendiri.

Budaya komentar seksis di Instagram kepada selebgram perempuan ini sejenis dengan anggapan bernuansa religius soal perempuan adalah sumber fitnah atau sumber godaan bagi laki-laki. Dalam tradisi ini, wajah perempuan, suara perempuan dan kehadiran perempuan adalah ancaman sebab dapat menggoyahkan "iman" laki-laki. Akibatnya, perempuan ditarik dari ruang publik, sebab kehadirannya dapat menjadikan dosa masyarakat laki-laki.

Pikiran misoginis terletak dalam pikiran. Nuansa otak ini sangat mungkin diubah bahkan caranya amat mudah.

Dalam norma tradisional, masyarakat perempuan terbiasa melihat laki-laki sebagai manusia yang memiliki agensi melekat berupa sifat-sifat maskulin yang cenderung kuat dan memberi perlindungan, pekerjaan, kekuasaan, hingga jabatan. Ketika perempuan melihat laki-laki, yang ia lihat adalah seorang manusia yang memiliki nilai-nilai yang mewakili kelelakian itu, sehingga perempuan amat jarang terpikir untuk menseksualisasi sosok laki-laki yang ia temui secara spontan.

Seharusnya laki-laki misoginis juga dapat membersihkan akar masalah dalam pikirannya. Ketika menjumpai seorang perempuan, ia hanya perlu mengingat perempuan di hadapannya adalah seorang manusia yang memiliki karakter, pekerjaan, kekuasaan, juga jabatan. Perempuan di hadapannya bukan hanya sekerat daging dan laki-laki bukan binatang yang tidak mampu mengontrol dirinya sendiri.

Kalis Mardiasih penulis konten dan fasilitator Gusdurian National Networks of Indonesia, Yogyakarta

(mmu/mmu)