Kolom

"Apakah Anak Saya Psikopat?"

Meicky Shoreamanis Panggabean - detikNews
Jumat, 13 Mar 2020 14:58 WIB
Cult of Chucky
Foto: Cult of Chucky (imdb)
Jakarta -

Kamis, 5 Maret 2020 di Sawah Besar Jakarta Pusat, seorang remaja putri membunuh anak berusia 5 tahun. Usai beraksi, ia pergi ke kantor polisi, mengakui perbuatannya, dan mengatakan bahwa ia merasa puas.

Kasus ini baru saja bergulir jadi belum keluar hasil pemeriksaan resmi tentang apakah remaja tersebut adalah betul psikopat seperti dugaan awal banyak pembaca. Bagaimanapun, kiranya bermanfaat bagi kita semua jika kita menggunakan momen ini untuk membahas ciri-ciri psikopat pada anak kecil.

Istilah psikopat hanya mengacu pada orang dewasa karena seseorang baru bisa didiagnosis dengan cukup akurat sebagai psikopat ketika ia berusia 18 tahun. Namun, psikopat adalah kondisi kelainan syaraf yang terjadi dari lahir, jadi ketika kecil sebenarnya kecenderungan seseorang akan menjadi psikopat sudah bisa diidentifikasi.

Ada pihak-pihak yang keberatan menggunakan kata psikopat untuk anak kecil karena terlalu banyak stigma terkandung dalam kata yang amat negatif ini

Bagaimanapun, anak-anak tersebut toh masih kecil dan berkembangnya natur jahat mereka bisa diperlambat oleh pola asuh yang baik. Jadi walau jahat ketika kecil, belum tentu mereka akan jadi psikopat sadis saat dewasa.

Dalam tes yang digunakan untuk mendiagnosis apakah seseorang psikopat atau bukan, ada tiga domain yang dicek yaitu domain afektif, interpersonal, dan perilaku. Tes untuk anak kecil hanya mengukur satu aspek yaitu domain afektif yang meliputi callous and unemotional traits (CU). Callous berarti "tidak peka" dan unemotional traits bisa dimaknai sebagai "tidak punya emosi".

Berikut adalah karakteristik anak-anak dengan CU yang tinggi. Ciri-ciri ini sudah bisa ditandai sejak mereka berusia dua tahun. Jika dicermati, semua ciri adalah turunan dari "tidak peka" dan "tidak punya emosi".

1. Sulit tertawa

Tertawa bersama adalah cara yang dilakukan anak kecil secara naluriah untuk menumbuhkan ikatan di antara mereka. Studi yang dilakukan University College London pada 2017 menunjukkan bahwa anak kecil dengan level psikopatik yang cukup tinggi sulit untuk ikut tertawa ketika teman mereka tertawa. Mereka tidak tertarik untuk membuat ikatan pertemanan kecuali hal tersebut menguntungkan mereka.

2. Suka menyiksa hewan

Mereka gemar menyiksa binatang asli atau merusak boneka binatang. Samantha, pra-remaja berusia 11 tahun, adalah seorang penghuni penjara anak di Texas. Ketika berusia 6 tahun, ia gemar berpura-pura membunuh boneka hewan dan saat melakukannya ia mengkhayal sedang membunuh orang beneran

3. Cenderung berperilaku dominan

Bentuk dari kecenderungan ini bermacam-macam. Ada anak-anak yang sudah menjalani toilet training namun mereka tetap memilih buang air kecil di tempat lain, misalnya di sebelah tempat tidur, atau bahkan memilih mengencingi temannya. Hal ini dipicu oleh naluri untuk tampil dominan.

Ketika Samantha berusia 20 bulan, ia berantem dengan anak kecil lainnya di tempat penitipan anak. Sehari sesudahnya, ia pipis di atas tubuh temannya itu. "Samantha cerdas. Ia menunggu sampai temannya asyik bermain barulah ia mengencingi temannya," tutur seseorang di tempat penitipan itu.

4. Gemar menyakiti orang lain

Indikasi kuat bahwa seorang anak sangat mungkin kelak terdiagnosis sebagai psikopat adalah kecenderungan untuk menyakiti orang lain, terutama anak yang lebih kecil. Mereka akan cari gara-gara, mem-bully misalnya, untuk mencari tahu sejauh mana korban bisa bertahan. Mereka menikmati perbuatan itu dan senang melihat korbannya tersiksa.

5. Gemar berbohong

Saat terlambat masuk kelas karena ketiduran misalnya, mungkin seorang anak kecil akan berbohong. Kita wajib curiga jika anak kerap berbohong tanpa ada rasa menyesal dan dengan ekspresi wajah yang datar. Mungkin mereka berbohong bukan untuk melindungi diri, namun karena menikmati proses berbohong.

Ketika ketahuan berbohong, mereka akan histeris. Ini adalah sebuah bentuk manipulasi. Mereka histeris bukan karena merekalah pelaku kebohongan itu, tapi karena kebohongan tersebut terungkap

5. Tak mempan dihukum dan menyukai reward

Anak kecil paham bahwa ada konsekuensi negatif saat mereka melakukan kesalahan dan pada umumnya ini mempengaruhi perilaku mereka. Misalnya, mereka bandel lalu mainan mereka diambil. Setelah itu kecil kemungkinan mereka akan mengulangi kesalahan serupa.

Pada diri calon psikopat, kesadaran semacam ini tidak ada. Walau dihukum atau diberi konsekuensi, mereka akan mengulanginya. Bagaimanapun, jika mereka diberi hadiah atau reward untuk perilaku yang bagus, mereka akan senang.

Enam bulan pertama usia anak amat menentukan apakah ciri psikopatiknya akan cepat atau lambat berkembang. Jika mereka haus atau lapar dan orangtua diam saja, hal ini akan terekam di otak mereka dan mempercepat perkembangan ciri psikopatik mereka. Sebaliknya, jika ibu tanggap terhadap kebutuhan bayi, kemungkinan si anak untuk punya angka CU yang tinggi ketika balita semakin kecil.

Sebuah hasil riset menunjukkan bahwa ada periode kritis selama 6 bulan saat anak berusia 2-3 tahun. Pada masa ini anak sangat membutuhkan ikatan dengan orangtua dan sangat mungkin termasuk di dalamnya adalah ikatan dengan ayah.

Penelitian dari Dr. Rachael Bedford dari the Institute of Psychiatry, King's College, London bahkan menunjukkan bahwa bayi berusia 5 minggu yang lebih memilih untuk menatap bola dibandingkan wajah manusia menunjukkan kecenderungan memiliki CU yang tinggi ketika mereka berusia 2,5 tahun (dibandingkan dengan bayi yang memilih untuk menatap wajah).

Jadi, cermatlah dalam mengamati perkembangan anak kita. Jangan pernah anggap remeh kenakalan mereka terutama jika hal itu ditunjukkan dalam frekuensi yang cukup sering.

(mmu/mmu)