Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kelinci-Kelinci Penjajah Rumah Kami

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 10 Mar 2020 17:11 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kelinci-kelinci itu berbiak cepat sekali. Baru setahun yang lalu anak saya membeli dua ekor, sepasang cikal bakalnya, di Pasar Hewan Pasty Jogja. Sekarang sudah jadi dua puluh lima. Itu pun sudah ada beberapa ekor yang mati, belum lagi bayi-bayi yang tewas karena hujan lebat turun berkali-kali; lubang-lubang kelinci di beberapa sudut pun tergenangi, dan tumpaslah bayi-bayi.

Artinya, andai semua selamat, barangkali sudah ada lima puluhan kelinci di halaman belakang rumah kami. Ngeri.

Dari beberapa proposal piaraan yang diajukan anak kami waktu itu, memang cuma kelincilah yang paling memungkinkan. Saya tidak suka bau tahi kucing, dan emak saya tidak bakalan sudi datang ke rumah kami kalau kami punya anjing.

Maka, Anda tahu, kelincilah jalan keluarnya. Kelinci-kelinci pun masuk menjadi anggota resmi keluarga kecil kami.

Satu yang tidak kami perhitungkan, keputusan meramaikan keluarga kecil kami itu menjadi langkah revolusioner menyulap keluarga kami menjadi benar-benar sebuah keluarga besar. Itu yang tidak kami perhitungkan saat kami menghindari tahi kucing dan liur anjing.

Bagi banyak orang lain, mungkin membengkaknya populasi kelinci di rumah mereka dengan gampang dapat diatasi. Bisa dengan menjualnya, memberikan kepada kawan yang mau mengadopsinya, atau melancarkan jurus pamungkas: dengan menyihir kelinci-kelinci menjadi kaleo, atau rica-rica.

Sayang, kami tidak makan daging kelinci. Ini ada cerita horornya.

***

Alkisah, pada masa muda, saya dan istri sangat suka sate kelinci. Tiap kali jalan-jalan ke lereng Merapi, selain jajan jadah-tempe, kami pasti menyempatkan diri melalap sate kelinci.

Kebiasaan indah itu berlangsung hingga kami punya momongan. Hasilnya, anak pertama kami yang saat itu baru berumur dua tahun dan sedang imut-imutnya pun kami edukasi sejak dini untuk menyantap entitas keimutan yang lain selain dirinya sendiri: kelinci-kelinci.

Hingga datanglah sore itu. Saat kami tengah menanti daging-daging ranum itu terhidang di sebuah warung, anak kami kebelet pipis. Dia diantar ibunya menumpang ke kamar mandi. Satu setengah menit, lalu terdengar suara bocah menjerit-jerit. Saya pun njenggirat berdiri. Ada apa ini? Ada apa ini?

Dari arah dalam, arah lorong kecil menuju kamar mandi, tampak istri saya tergopoh keluar sambil menggendong anak kami. Bocah mungil itu menangis keras, histeris, dengan wajah amat ketakutan.

Ternyata, usai menuntaskan tugas metabolismenya, anak saya keluar, dan di lantai depan jamban itu dia melihat kepala-kepala kelinci bergelimpangan, lengkap dengan leleran darah dan belasan pasang mata yang menatap putus asa. Begitulah menurut istri saya yang memberikan konferensi pers singkat dalam detik-detik yang menegangkan. Oh, Tuhan!

Wajah istri saya begitu pucat. Sebenarnya dia punya bekal kesadisan yang cukup, dan tidak punya masalah dengan kepala-kepala kelinci. Yang dia cemaskan, sebagaimana juga saya cemaskan, adalah trauma yang menancap di benak dan di hati anak kami. Apakah horor itu akan bisa lenyap dari memorinya? Atau malah terus membekas, dan bahkan mewarnai karakter dirinya?

Kami tak kuasa membayangkannya. Kami takut, takut sekali. Sementara itu, dua puluh tusuk sate kelinci dengan aromanya yang menguar harum sudah tersaji manis di hadapan kami.

Sambil terdiam dalam suasana yang sangat ganjil, kami tetap mencicipi sate-sate kelinci itu, sembari sesekali melirik ke arah anak kami yang membenamkan wajahnya di ketiak ibunya, masih dengan sisa-sisa isak tangisnya.

Saya lupa, apakah kami berdua waktu itu tetap menghabiskan dua porsi sate kelinci kami. Sepertinya sih tetap kami habiskan, karena ya memang enak. Tapi sambil mengunyah dengan kunyahan paling tidak bertenaga dalam sejarah hidup kami, kami sama-sama berjanji: kami tidak akan makan daging kelinci lagi. Sampai mati.

***

Jadi, inilah peta politiknya. Seorang anak memelihara kelinci-kelinci, dan kelinci-kelinci itu beranak pinak begitu masif. Sebagai anak yang sejak lama bercita-cita punya hewan kesayangan, dan akhirnya keturutan, dia tidak mau menyakiti kelinci-kelincinya.

Maka, dia sebenarnya mau-mau saja menjualnya sebagian, atau memberikannya, asal ada jaminan bahwa siapa pun yang mengakuisisi beberapa kelincinya akan memperlakukan kelinci-kelinci itu sebagaimana dia memperlakukannya.

Repotnya, dia hanya mau merelakan kelinci-kelinci yang sudah tua. Yang kecil-kecil masih terlalu lucu, asyik diajak main, dan sayang bila dijual atau diberikan.

Ini benar-benar masalah. Saya pernah datang kembali ke pasar hewan, bertanya ke beberapa pedagang, dan semua pedagang di sana bilang bahwa mereka hanya mau membeli kelinci kalau masih kecil.

"Yang sudah tua nggak laku, Mas," kata seorang pedagang kelinci. (Untunglah setahun yang lalu saya masih agak muda, jadi tidak terlalu tersinggung dengan kata-kata pedagang itu.)

Oke deh. Artinya, tertutup sudah pintu rabbit trafficking.

"Ya sudah, Ndhuk dikasih ke orang saja," kata saya. "Atau dikasih ke pedagang kelinci di Pasar Pasty. Dia nggak usah beli, tapi kalau ada orang yang beli ke dia ya terserah saja."

Itu jelas usul yang asal usul, kompensasi dari buntunya upaya pencarian solusi. Coba sekarang dipikir. Kalau kelinci tua yang diberikan ke pedagang, dengan beban pakan alias ongkos produksi yang lebih banyak dibanding kelinci-kelinci kecil, dan akhirnya tetap juga tidak laku, lantas kira-kira kebijakan apa yang akan diterapkan kepada si kelinci tua?

Jelas sekali jawabannya: kaleo, atau rica-rica.

Nah, jangankan anak kami, lha wong kami sendiri juga tak tega. Kami sudah bersumpah mati tidak akan makan daging kelinci. Sebagai konsekuensi moralnya, kami juga enggan menjadi sarana bagi orang lain untuk makan daging kelinci. (Ah, moralitas memang rumit!)

***

Tanpa jalan keluar yang bisa kami harapkan, kelinci-kelinci itu terus hidup bahagia di halaman belakang rumah kami, sambil dengan merdeka terus merayakan kenikmatan bereproduksi. Di sebuah sudut, kami sudah membuatkan pagar bambu untuk melingkari area seluas enam belas meter persegi sebagai wilayah kekuasaan mereka, karena sebelumnya kami biarkan mereka bebas berlarian dan akibatnya kabel internet juga tanaman-tanaman dalam pot yang jadi korbannya.

Minggu lalu, kami keluar ongkos lagi, karena pagar-pagar bambu itu mereka gigiti, bolong sekian inci, dan dua puluh kelinci keluar tengah malam lalu melenyapkan tanaman merambat yang baru saja disemai ibu saya. Untuk mencegahnya terulang lagi, saya memanggil tukang agar menancapkan bata dan semen di sekeliling kandang, sekalian melapisi pagar dengan strimin logam.

Tak cuma itu. Hari-hari ini musim hujan lebat, dan tempat berteduh mereka tampak kurang layak, kurang sesuai dengan standar minimal kesejahteraan. Beberapa lembar papan baja ringan pun dipasang, sehingga kelinci-kelinci itu bisa lebih tenteram aman damai sentosa berlindung saat badai dan geledek tiba.

Segala kebutuhan real estate tadi memakan biaya lebih dari satu setengah juta. Belum lagi kebutuhan logistiknya. Rata-rata setiap bulan mereka mengonsumsi pelet dan daun kacang senilai hampir lima ratus ribu, nyaris setara dengan biaya rokok saya.

Berkali-kali saya putus asa. Saya tak tahu ini semua akan berlanjut sampai kapan, dan kehidupan seperti apa yang akan kami hadapi jauh di depan sana bersama mereka.

Lama-kelamaan, kami seolah menyikapi mereka sebagai manusia. Manusia-manusia yang terus berjejal memenuhi planet ini, dengan kelahiran yang dinanti dan kematian-kematian yang ditangisi, dengan bumi yang kian tak kuat menampungnya, dengan sumber daya yang semakin menipis untuk menghidupinya, tapi belum ada gambaran bagaimana-bagaimana nantinya.

Untunglah, di saat seperti itu, istri saya berkata, "Wis to, Pak. Sudahlah, nggak apa-apa. Siapa tahu kelinci-kelinci ini adalah jalan rezekimu. Coba renungkan. Kita ini merawat mereka tanpa tendensi apa pun. Tidak ada niat cari duit dengan menjualnya, tidak pula berencana memakan dagingnya. Di saat yang sama kita tidak mau mereka kelaparan, atau terlantar, tanpa perhatian secukupnya. Artinya, kita ini menghidupi mereka dengan ikhlas. Ini sedekah kita untuk kelinci-kelinci. Jadi siapa tahu orderan-orderan yang datang buatmu itu cuma sarana untuk kebahagiaan kelinci-kelinci itu."

Hahaha! Saya tertawa ngakak. Tapi kemudian diam-diam terseret ikut berpikir juga, sambil memunculkan kecemasan ala kadarnya. Dalam kondisi bingung dan putus asa, memang kadangkala mitos-mitos dan imajinasi diperlukan, untuk sedikit menciptakan secuil ketenangan. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)