Tak Perlu Langsing Jadi Perempuan Suku Beoudin

ADVERTISEMENT

Kolom

Tak Perlu Langsing Jadi Perempuan Suku Beoudin

Siti Soedari - detikNews
Sabtu, 07 Mar 2020 11:37 WIB
Suku Beoudin di Wadi Rum, Jordan (Foto: Siti Soedari)
Jakarta -
"Bisakah saya tinggal semalam saja di tenda, dengan salah satu keluarga Suku Beoudin?" tanya saya ketika menuju Saint Catharine, seraya melihat seorang ibu Suku Beoudin menggembala ternaknya. Ahmedd Alsayed, orang yang mendampingi saya selama di Mesir tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Ah, terlalu! Ini jelas mengganggu adrenalin petualangan saya. Dalam berbagai kesempatan perjalanan, saya berusaha untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan budaya masyarakat setempat. Seperti di Malaka, saya puas belajar tari Melayu, yang menurut saya hampir sama dengan serampang dua belas dari Sumatera; ikut menjemur hasil nelayan di Pulau Belitung; di Jordan belajar memasak dengan timbunan batu panas.

Sejak mendarat di Abu Dhabi dalam rangkaian keliling Middle East saya sudah mencari info banyak sekali tentang Suku Beoudin dan saya sangat tertarik. Jiwa petualangan saya mengembara liar, rasa ingin tahu yang membuncah selama dalam perjalanan, tentang suku ini, benar-benar menggelitik saya sejak di Tanah Air. Tapi kali ini, betapa kecewanya saya. Ahmed Alsayed jelas tidak setuju, dia menggeleng kepala sambil tersenyum. Saya mendesak, sangat tidak sabar.

Lelaki flamboyan itu mengembuskan napas panjang. Sampai keluar kepulan asap musim dingin, berat dia bertanya, "Are you sure?"

"Of course, I am sure," saya memasang muka serius, tapi masih merasa otot-otot pipi saya tegang dan nelangsa. Kenapa dia seolah-olah meragukan kemampuan adaptasi saya yang supercepat. Saya bisa bergaul dengan siapa saja orang desa, orang kota, orang gila, atau orang utan (kalau terpaksa, eh).

Ada perasaan meradang seperti anak perempuan yang baru menstruasi yang dilarang ketika hendak pergi ke museum tekstil untuk belajar batik. Begitu khawatirnya orangtua hanya karena si gadis belum pernah keluar sekalipun tanpa pengawasan. Ini sangat menyiksa. Sampai saya rela tidak tinggal di hotel satu malam saja dan membiarkan itenerary yang telah disusun sedemikian rupa berlalu begitu saja.

Setelah bernegosiasi alot sekali akhirnya dengan terpaksa saya menyetujui syaratnya, yaitu dia hanya bersedia menjelaskan apapun yang saya ingin tahu tentang Suku Beoudin dan melihat tenda-tenda mereka serta berinteraksi sebentar dengan warganya.

Suku Beoudin adalah suku nomaden yang tinggal di sepanjang jazirah Arab. Karena selalu berpindah-pindah, mereka tinggal di tenda-tenda semi permanen. Pekerjaan mereka kebanyakan beternak domba atau unta, juga berdagang. Sangat jarang anak-anak Suku Beoudin yang sekolah tinggi. Seperti kebanyakan warga nomaden, mereka tidak punya identitas dan menjadi warga marginal yang sukar dipantau pemegang pemerintahan.

Untuk masalah kesehatan, mereka piawai memanfaatkan khasiat berbagai rumput yang tumbuh kerontang di Semenanjung Arab untuk pengobatan, sebuah tradisi turun temurun untuk mengatasi masalah kesehatan. Tidak ada tindakan medis, tidak ada obat-obatan kimia. Mereka sangat mengandalkan pengobatan herbal tersebut.

Kehidupan Suku Beoudin masih sangat tradisional dengan hubungan kekerabatan patrilineal --alur kekeluargaan berdasarkan garis ayah. Dalam pembagian tugas rumah tangga biasanya seorang istri bertugas mengurus rumah tangga dan hewan ternak, sementara suami hanya memperdagangkan hewan ternak mereka.

Syukurlah, saat ini beberapa Suku Beoudin sudah tinggal menetap di desa-desa yang dibangun pemerintah dengan sanitasi yang baik. Sementara sisanya masih memilih nomaden, dan mengembara sepanjang semenanjung Uni Emirat Arab.

Ada hal unik di Suku Beoudin. Jika mereka mempunyai anak gadis yang siap menikah, maka di atas rumahnya ada bendera yang berwarna merah yang artinya kurang lebih memberitahukan bahwa di tenda ini ada gadis yang siap dipersunting. Jika ada pemuda yang tertarik, biasanya datang untuk berkenalan dengan anak gadis dan keluarganya.

Lucunya, Suku Beoudin tidak tertarik dengan gadis yang langsing. Seperti stereotip orang masa kini bahwa cantik itu langsing dan putih. Maka, Suku Beoudin lebih memilih gadis-gadis gemuk. Dengan alasan bahwa gadis gemuk akan lebih kuat mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus hewan ternak. Konon jika gadis langsing hanya mendapat satu atau dua ekor unta sebagai mahar, maka gadis gemuk akan mendapat seratus unta. Tertarik?

Tampaknya untuk jomblowati di Jakarta yang sedang merana meratapi porsi tubuhnya yang extra-large , tidak usah pusing-pusing diet. Tinggal hijrah saja menjadi Suku Beoudin, niscaya kepercayaan diri Anda akan meningkat seratus persen, karena memiliki kriteria menjadi perempuan yang diidam-idamkan pria di sana.

Yang juga penting adalah jangan pandang sebelah mata kemampuan Suku Beoudin dalam membaca geografis gurun. Biasanya jika orang yang belum terbiasa dengan alam gurun akan merasa sangat kesulitan mengetahui arah dan letak. Karena gundukan pasir yang tertiup angin akan menyebabkan gundukan pasir berpindah letaknya, sehingga membuat kesulitan menentukan suatu tempat.

Kebiasaan Suku Beoudin yang nomaden telah mempertajam insting mereka untuk membaca wilayah gurun. Buktinya, walaupun tanpa GPS mereka sangat paham daerah gurun, melebihi polisi lalu lintas sekalipun. Menurut Ahmed, kepiawaian mereka tersebut sering kali digunakan untuk hal-hal yang sifatnya kriminal seperti menyelundupkan narkoba dan senjata ilegal tanpa tercium aparat.

Suku Beoudin juga tidak perlu susah payah masuk fakultas sastra asing untuk mempelajari bahasa lain selain Bahasa Arab. Beberapa dari mereka jago berbahasa Indonesia atau Inggris, karena mereka telah menemui dan belajar dengan banyak orang dalam memperdagangkan komoditas yang dimilikinya.

Menanggung Malu

Lelaki periang itu menunjukkan tenda Suku Beoudin dan saya berkesempatan masuk ke dalamnya. Ada perapian sederhana untuk mengusir hawa dingin, yang dibuat hanya dengan menumpuk kayu bakar dan membakarnya persis seperti kita membuat api unggun saat kegiatan pramuka. Tetapi itu dilakukan di dalam tenda. Bisa di bayangkan debu dan sisa pembakaran yang memenuhi tenda berukuran 4 x 4 meter ini.

Dan, yang paling horor adalah mereka tidak punya kamar mandi yang layak. Kesusahan air bersih untuk sanitasi membuat tendanya berbau semerbak. Beberapa hewan ternak pun kadang ikut membersamai mereka di tenda. Dengan santainya ternak tersebut membuang kotorannya di sana, selayaknya kita meletakkan piring kotor di ruang tamu. Saya melongo. Ahmad mengangkat bahunya kurang lebih artinya, "Masih mau nginep lo?"

Saya langsung menggeleng cepat tanpa berpikir dua kali, artinya kurang lebih, "Ogah!"

Ah, saya bersyukur menyetujui perjanjian dengannya tadi. Kalau tidak dan terus mengotot untuk memaksa tinggal, bisa malu dunia-akhirat saya. Dan di-bully malaikat di akhirat nanti. Hahaha.

Melihat muka saya yang berwarna hitam (perasaan sudah bukan merah lagi, karena menanggung malu yang amat sangat), Ahmad mulai berkelakar untuk mencairkan suasana. Ahmad mulai berkisah dengan wajah lucunya. Dulu ada sayembara kuat-kuatan tinggal di tenda Suku Beoudin. Ada tiga orang dari Amerika, Indonesia, dan Suku Beoudin. Orang Amerika langsung keluar setelah diam beberapa jam saja, karena tidak tahan tinggal di tenda, dengan bau kotoran ternaknya.

Orang Indonesia tidak mau kalah ikut sayembara, tapi akhirnya mereka pun tidak kuat. Ketika giliran Suku Beoudin masuk, ditunggu-tunggu belum keluar juga. Peserta Amerika dan Indonesia mulai merasa minder. Setelah menunggu dengan bosan, tiba-tiba kain di tenda mulai terbuka, dan keluarlah unta peliharaan mereka terbirit-birit meninggalkan tenda.

Setelah diselidiki ternyata bukan orangnya yang menyerah kebauan, tapi untanyalah yang keluar tidak tahan mencium bau badan mereka yang jarang mandi.

Saya tertawa terbahak-bahak.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT