Meluruskan Makna Jihad (46)

Antara Al-Quran dan Al-Furqan

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 17:48 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Al-Quran memiliki banyak makna. Yang dikenal secara umum ialah kitab suci yang diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Jibril kepada Muhammad untuk diteruskan kepada umatnya. Dari pengertian ini sinonim dengan Al-Furqan, Al-Kitab, dan Al-Dzikr, sebagaimana diperkenalkan oleh Ulumul Qur'an. Namun jika dilihat lebih khusus Al-Quran memiliki tekanan pengertian yang berbeda dengan Al-Furqan.

Al-Quran secara literal berarti bacaan, bentuk mashdar dari kata qara'a-yaqra'u-qur'an, berarti bacaan. Secara literal juga bisa berarti lain, berasal dari kata al-qur' seakar kata dengan quru', berarti himpunan, kumpulan (al-jam'). Kata ini pernah digunakan di dalam Al-Quran, yaitu: Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (Q.S. al-Qiyamah/75:17).

Sedangkan Al-Furqan secara literal berarti pembeda, pemisah, bentuk mashdar dari kata farraqa-yafarriqu-furqan berarti pembeda.

Al-Quran lebih menekankan aspek pertemuan (encounter), yaitu mengumpulkan, menghimpun, atau mempertemukan berbagai unsur yang berbeda atau berserakan. Al-Quran lebih menekankan aspek makro karena itu lebih menekankan aspek formal identity. Berbeda dengan Al-Furqan yang lebih menekankan aspek perbedaan (differentiation), yang lebih mengedepankan pendekatan mikro. Karena itu model pendekatannya lebih menekankan principle of negations.

Dalam konteks tasawuf, istilah Al-Quran sering dipinjam dalam arti perjalanan makrokosmos Insan Kamil mengikuti proses kehadiran Lima Eksistensi (al-Hadharat al-Khamsah), yakni perjalanan atau pergerakan sentripetal menuju puncak (min al-tafshil ila al-ijmal). Berbeda dengan Al-Furqan yang sering dipinjam untuk menggambarkan perjalanan spiritual dari puncak (al-'alam al-'ulya) ke bawah (al-'alam al-sufla), yakni perjalanan atau pergerakan sentrifugal menjauhi puncak.

Karena itu, al-furqan disebut juga perjalanan dari atas (al-'alam al-'ulya) ke bawah (al-'alam al-sufla). Semakin ke atas semakin menyatu (qur'an/oneness) dan semakin ke bawah semakin berbeda (furqan/manyness).

Perjalanan Al-Quran disebut dengan al-qaus al-al-su'ud, yang biasa disebut taraqqi (melangit); atau kalangan arifin menyebutnya maqam al-Haq. Maqam ini di dalamnya berlaku ketentuan batin (al-hukumah al-bathiniyyah). Ketika kembali menjadi wujud batin, maka pada saat itu ia memanifestasikan nama kemahapenyayangan Tuhan (Ism al-Rahmaniyyah).

Disebut demikian karena para makhluk dalam wujud ini mendapatkan rahmat rahimiyyah-Nya. Itulah sebabnya ketika manusia berpulang ke rahmatullah diucapkan kalimat: Inna lillah wa inna ilaihi raji'un (Q.S. al-Baqarah/2:156). Sebaliknya Al-Furqan disebut al-qaus al-nuzul, yang biasa disebut tanazul (membumi); karena itu maqam ini disebut maqam nuzul atau kalangan arifin menyebutnya maqam al-khalq. Maqam ini di dalamnya berlaku ketentuan dhahir (al-hukumah al-dhahiriyyah).

Ketika menjadi wujud dhahir, maka pada saat itu ia memanifestasikan nama kemahapengasihan Tuhan (Ism al-Rahmaniyyah). Disebut demikian karena keseluruhan makhluk dalam wujud ini mendapatkan rahmat rahmaniyyah-Nya. Dengan demikian, perjalanan spiritual manusia: dari Al-Quran ke Al-Furqan dan kembali lagi ke Al-Quran.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)