Kolom Kalis

Ketika Anak Minta Izin Main Instagram

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 16:20 WIB
kalis mardiasih
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Duh, panik. Anak perempuan yang menjelang remaja akhirnya minta izin main Instagram. Apalagi alasannya karena semua teman di kelasnya sudah punya akun pribadi, hanya dirinya yang belum.

Anak minta izin kepada ibu. Lalu, ibu terbayang rimba Instagram yang menurut ibu banyak dipenuhi oleh foto-foto seksi. Remaja-remaja seleb yang ada di Instagram seringkali memamerkan aktivitas yang tidak sesuai dengan standar moral para ibu, seperti pacaran, party, dan gaya hidup kelas menengah atas.

Dalam pikiran ibu, muncul banyak "bagaimana kalau". Bagaimana kalau anak meniru? Bagaimana kalau anak membaca kalimat-kalimat seronok di Instagram? Bagaimana kalau anak membandingkan kehidupannya dengan seleb Instagram?

Seringkali, sederet kekhawatiran pribadi tersebut dipungkasi dengan keputusan sepihak, yakni ibu tidak mengizinkan anak remajanya main Instagram. Apakah sikap ibu benar-benar bijak?

Di luar rumah dengan segala aturan ketatnya, perkembangan teknologi diikuti perkembangan dinamika yang menyertainya jalan terus. Usia anak akan makin bertambah. Pergaulannya pun semakin meluas. Menghindar dari apa yang menjadi pengalaman faktual remaja jelas bukan solusi.

Di usia yang sekarang, saya mengingat betapa di usia remaja sama sekali tidak mendapatkan pendidikan seks. Layaknya keluarga tradisional pada umumnya, seksualitas adalah hal tabu untuk dibicarakan. Satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan seks adalah masa SMA.

Sekolah mengadakan seminar dua jam bertema pendidikan seks, di dalam sebuah aula tak terlalu luas yang berdesakan ratusan siswa. Materi yang lekat tersisa hari ini dari seminar bertahun lalu itu hanyalah gambar-gambar seram penyakit kelamin laki-laki yang bengkak atau bernanah sebab aktivitas seks sembarangan.

Padahal, tujuan utama pendidikan seks tidak sekadar memberikan ketakutan soal penyakit kelamin. Pendidikan seks bertujuan menanamkan kesadaran bahwa tiap manusia berdaulat atas tubuhnya. Oleh karena itu, orang lain tak boleh seenaknya menyentuh, melecehkan apalagi melakukan kekerasan kepada tubuh kita.

Pendidikan seks juga menginformasikan bahwa tubuh akan mengalami perubahan-perubahan biologis pada fase tertentu. Organ seksual yang telah aktif memiliki risiko, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Mengenali risiko-risiko seksualitas itu membuat seseorang berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang ia ambil.

Kalis Mardiasih penulis konten dan fasilitator Gusdurian National Networks of Indonesia Yogyakarta

(mmu/mmu)