Kolom

Pelajaran Toleransi dari Timur Indonesia

Dwi Joko Widiyanto - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 12:50 WIB
Memotong ayam sendiri di Desa Naruwollo, Ngada, Flores (Foto: Dwi Joko Widiyanto)
Jakarta -

Tempo hari banyak orang meributkan rencana proyek pembangunan terowongan penghubung Masjid Istiqlal dan Gereja Ketedral. Terowongan yang disebut-sebut sebagai simbol toleransi ini dinilai sebagai proyek "toleransi basa-basi".

Kata mereka yang kontra, perkara intoleransi seperti pembakaran gereja di Aceh, pelarangan pendirian gereja di Yogyakarta dan Semarang, pelarangan pendirian pura di Bekasi, dan kasus-kasus sejenis yang menimpa warga Ahmadiyah dan Syiah tak bisa diselesaikan dengan mendirikan terowongan simbolik.

Saya setuju ini proyek absurd yang serba artifisial. Para penggagas dan pendukung proyek ini mungkin perlu memperkaya perspektif dan imajinasi tentang toleransi. Bagaimana caranya? Saya menyarankan mereka belajar toleransi ke Sumba atau Flores. Dua pulau ini, dan saya kira semua pulau di Nusa Tenggara Timur punya cara indah dalam menghargai perbedaan agama dan keyakinan.

Saya sendiri sudah mengalaminya. Pada paruh 2016, untuk sebuah pekerjaan riset, saya berkesempatan mengunjungi beberapa desa di dua pulau tersebut. Di Desa Naruwollo, Kecamatan Ngada, Flores dalam sebuah pertemuan warga, saya diminta Mozes Ea, salah seorang tokoh petani, untuk menyembelih sendiri ayam untuk lauk makan siang.

Ini sebenarnya kejadian ulangan. Tiga hari sebelumnya di Desa Olle Atte, Mamboro, Sumba Tengah saya memotong tiga ayam kampung di rumah warga bernama Frans Nani. Berulang lagi satu bulan sesudahnya di rumah Martinus Ndapananjar, Kepala Desa Kadahang, Haharu, Sumba Timur, dan rumah Umbu Kaputung di Desa Padiratana, Sumba Tengah.

"Kami tidak tahu doa potong ayam menurut Islam. Lebih baik bapak potong sendiri." Kurang lebih begitu kata mereka setiap kali saya tanya alasannya.

Menghormati keyakinan orang, meskipun untuk sebuah kegiatan sederhana seperti makan siang bersama, rupanya mendapat tempat istimewa. Saya ingat Julius Ndakajawa, sekretaris Desa Kadahang, bahkan merasa perlu mengumumkan duduk perkara lauk pauk makan siang kami dalam pidato pengantarnya. Dia bilang tidak ada daging babi. Yang ada hanya ikan, daging ayam, dan kambing.

Jangan khawatir, katanya. Daging kambing sudah dipotong kemarin sore secara Islam oleh seorang muslim yang tinggal di desa sebelah.

Warga kampung yang saya kunjungi di Sumba dan Flores seluruhnya adalah penganut Kristen dan kepercayaan tradisional Marapu. Daging babi adalah menu yang wajib dihidangkan dalam pertemuan-pertemuan warga. Dalam adat Sumba, menyuguhi tamu dengan daging babi adalah tanda penghormatan sekaligus cermin status keluarga tuan rumah.

Tapi dalam setiap pertemuan warga yang saya hadiri, daging babi selalu absen di meja prasmanan. Padahal pertemuan itu dihadiri tokoh-tokoh adat atau pejabat pemerintahan setempat. Yang ada hanya ikan atau ayam yang saya sembelih sendiri.

Mencerahkan

Saya mendapatkan banyak pelajaran yang mencerahkan di sini. Saya muslim dan di tempat-tempat itu saya minoritas. Mozes, Frans, dan Martinus tidak pernah tanya agama saya. Mereka hanya merasa perlu menghargai siapa saja yang datang. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Bahkan jika hal itu harus dilakukan dengan cara sedikit "menurunkan" martabat keluarga di mata adat dan tetangga.

Seandainya mereka tahu bahwa saya bukan pemeluk Islam, atheis atau agnostik misalnya, saya yakin mereka akan memperlakukan saya dengan cara yang sama.

Saya jadi teringat Rainer Forst, filsuf Jerman yang menulis empat level toleransi. Level pertama dan paling rendah adalah tolerasi yang bersifat "sekadar membiarkan ada" atau erlaubnis. Kelompok mayoritas sekadar membiarkan ada kelompok minoritas. Tak ada upaya kedua belah pihak untuk saling memahami. Relasi keduanya tak setara.

Level kedua adalah toleransi sebagai modus "hidup dan ada bersama" atau koeksistensi. Setiap kelompok memiliki kedudukan yang sama dalam kekuasaan dan kemasyarakatan. Keduanya memahami toleransi adalah jalan terbaik dari semua alternatif yang mungkin. Damai lebih baik ketimbang konflik.

Level ketiga adalah hubungan kelompok mayoritas dan minoritas yang berpijak kepada rasa hormat atau achtung. Masing-masing kelompok saling mengenali sebagai warga negara yang setara, serta memiliki status hukum dan politik yang sama. Mereka berbeda dalam keyakinan etis, tetapi tetap saling menghormati satu sama lain.

Level tertinggi toleransi adalah hubungan kelompok mayoritas dan minoritas yang didasari oleh pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman kehidupan itu sendiri. Kelompok-kelompok ini tidak hanya menghormati budaya, bentuk kehidupan, dan agama lain sebagai bentuk kesamaan moral dan politik, tapi juga ia bisa menikmati beberapa pendirian etis masing-masing pihak sebagai pilihan sosial yang berharga.

Ada banyak riset yang menunjukkan bahwa status sebagai mayoritas umumnya membuat sebuah kelompok merasa lebih berhak menuntut keistimewaan tertentu (majority privilege). Saya tidak menemukan gestur tubuh, perkataan atau sikap orang-orang Sumba yang menunjukkan mereka harus diistimewakan karena mayoritas.

Tidak perlu pengetahuan, literasi, dan kecerdasan luar biasa untuk bersikap toleran. Tidak juga perlu terowongan toleransi. Ketika orang-orang di Jawa masih bertikai memperdebatkan perizinan tempat ibadah sambil berputar-putar di level sekedar "membiarkan ada", orang-orang di Sumba dan Flores sudah mencapai derajat toleransi pada level tertinggi.

Saya menemukan pandangan dan perilaku toleran yang paling autentik itu justru di lingkungan paling terpencil, paling miskin, dan fakir informasi di sebuah daerah di luar mainstream pembangunan di salah satu provinsi dengan indeks pembangunan manusia terendah di Indonesia.

(mmu/mmu)