Meluruskan Makna Jihad (45)

Antara "The" Islam dan "An" Islam

Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 05 Mar 2020 18:33 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Prof. Sayed Hussen Nasr dalam The Ideal and Reality of Islam membedakan antara The Islam (al-islam) dan An Islam (Islam). Yang pertama menggunakan artikel "the", sepadan dengan alif ma'rifah (al-) dan yang kedua menggunakan artikel "a/an" yang sepadan dengan ism nakirah (tanpa menggunakan alif ma'rifah).

Yang pertama mengimplikasikan pengertian sistem nilai yang lebih bersifat esensial, eternal, dan universal (universal meaning), sehingga kata Islam (The Islam/al-Islam) mengandung arti esensi agama yang dibawa dan menjadi esensi bagi seluruh Nabi dan Rasul, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad.

Sedangkan yang kedua mengimplikasikan pengertian sistem nilai yang bersifat formal dan kontemporer (contemporary meaning), sehingga kata Islam (An Islam/Islam) berarti nama bagi agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang dasar-dasar ajarannya bersumber dari Al-Quran dan Hadis.

Hussen Nasr sendiri menyebut, Islam is the Islam and an Islam --Islam adalah di samping sebagai The Islam yang memiliki unsur keluhuran esensi ajaran yang bersifat universal dan eternal; Islam juga memiliki kemampuan akomodasi lokal. Dengan demikian, Islam tidak tepat dihadap-hadapkan dengan ajaran agama yang datang sebelumnya, khususnya agama-agama Semit yang biasa disebut agama-agama anak cucu Nabi Irahim (Abrahamic Religion).

Islam juga tidak tepat dipertentangkan dengan nilai-nilai universal human right karena itulah yang menjadi salah satu inti ajarannya, dan Islam juga tidak tepat dibenturkan dengan nilai-nilai kontemporer lokal (local wishdom) karena konsep universalitas Islam dibangun dan ditegakkan di atas keunikan lokal. Mungkin inilah rahasianya mengapa Islam begitu mudah menembus batas-batas geografis dan menerobos sekat-sekat kultural.

Kata Islam tersusun dari huruf sin, lam, mim (salima), sebuah akar kata yang membentuk kata salam (damai), islam (kedamaian), istislam (pembawa kedamaian), dan taslim (ketundukan, kepasrahan, ketenangan). Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum. Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma. Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigit, dan sempurna.

Allah memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan agama Islam. Bukan agama Salam (kepasrahan tanpa konsep). Bukan juga agama Istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan.

Kata islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). Di dalam Al-Quran disebutkan: Inna al-dina 'inda Allah al-islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam - Q.S. Ali Imran/3:19), man yabtagi gair al-islam dinan falan yuqbala minhu --Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya (Q.S. Ali Imran/3:19).

Sebagai seorang muslim, sejatinya mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan, dan pada akhirnya mengejawentahkan ketenangan lahir batin. Agaknya kurang pas jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan. Apa lagi jika atas nama Islam dan dengan menggunakan simbol-simbol Islam untuk membunuh orang secara keji.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)