"Common Sense" Ishadi SK

Misteri "News Room" Televisi

Ishadi SK - detikNews
Rabu, 04 Mar 2020 10:38 WIB
ishadi sk
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

"Are you a businessman or news man?"

Anda pebisnis atau jurnalis?

Itu sebuah penggalan dialog film The Insider (1999) produksi Buena Vista Pictures yang disutradarai Michael Mann. Diucapkan oleh Lowell A. Bergman (diperankan Al Pacino), produser majalah berita televisi 60 Minutes di stasiun televisi CBS, New York, Amerika Serikat, saat berdebat dengan kepala pemberitaannya yang melarang wawancara eksklusif Bergman disiarkan.

Wawancaranya membongkar skandal sebuah pabrik rokok besar di Amerika Serikat. Manajemen CBS khawatir perusahaan rokok itu akan melakukan langkah hukum maupun pemboikotan iklan dari berbagai perusahaan dalam kelompok usahanya, bahkan melakukan akuisisi, yang akhirnya secara finansial akan merugikan mereka.

Film Hollywood yang diputar di gedung-gedung bioskop seluruh dunia pada Februari 2000 tersebut berbasis kisah nyata jurnalisme investigasi televisi. Menampilkan perjuangan para jurnalis di ruang redaksi televisi dalam membongkar pelanggaran hukum di pabrik rokok terbesar Amerika Serikat. Perjuangan yang berisiko besar, karena pabrik tersebut memiliki kemampuan untuk merugikan televisi secara finansial.

Sebagai wartawan investigatif kawakan CBS News selama 15 tahun, Bergman berpantang surut. Saat perjuangan Bergman berhasil dan laporan investigasi yang dilarang itu akhirnya diizinkan untuk disiarkan, para awak news room CBS meluapkan kegembiraannya. "Yes, we are leading a head of NBC, ABC, and CNN." Di AS waktu itu hanya ada 4 TV News; CBS News, NBC, ABC dan CNN.

Meskipun demikian, Bergman tetap memilih mundur dari CBS setelah kejadian tersebut. Dia kemudian meraih hadiah Pulitzer Prize for Public Service berkat tulisannya di The New York Times (2004) berjudul A Dangerous Business yang bertutur tentang pelanggaran hukum lingkungan oleh industri.

The Insider menjadi ilustrasi kuat bahwa proses pengambilan keputusan untuk menentukan berita layak tayang di ruang redaksi televisi tidak semata-mata bersifat linear, sekadar langkah demi langkah kegiatan produksi berita. Keputusan tersebut merupakan hasil interaksi dinamis antara berbagai pihak yang mewakili beragam kepentingan, baik di dalam maupun di luar ruang redaksi televisi.

Ruang berita televisi bukanlah sebuah black box steril karena ada kepentingan bisnis dan politik yang turut menentukan berita yang disiarkan. Bahkan, kegiatan produksi berita telah menjadi kegiatan mengonstruksi realitas daripada sekadar menggambarkan sebuah realitas.

Upaya mengonstruksi realitas ini melibatkan banyak kepentingan yang bertentangan, khususnya dari kalangan industri dan politisi di luar media. Dalam tulisan Social Control in The News Room, Waren Breed (1955) mengatakan ada suatu kebijakan redaksi yang harus dipatuhi di setiap surat kabar. Penerbit surat kabar sebagai pemilik modal atau representasi dari pemilik modal mempunyai hak untuk menetapkan dan memaksakan kebijakan redaksi.

Gambaran tersebut menjadi penanda bahwa zaman keemasan para jurnalis idealis, seperti Walter Lippman, Paul Julius Reuter (pendiri kantor berita Reuter), Randolph Hearst, Henry Luce (pendiri Time), William Palley (pendiri CBS TV) telah berakhir di Amerika Serikat. Pada 1960-an berkembang surat kabar maupun radio dan televisi dengan orientasi bisnis yang lebih kuat.

Era kapitalisme global mendorong industri media memasuki kawasan-kawasan di luar batas wilayah negara dan membangun jaringan internasional yang makin lama makin besar. Hal ini melahirkan tokoh-tokoh baru bidang multimedia yang menguasai jaringan media cetak, radio, maupun televisi di berbagai negara. Sebut saja seperti Rupert Murdoch (pemilik Fox TV-USA, Sky TV Channel Inggris, Times Warners, dan News Corporation Limited), Ted Turner (pemilik jaringan CNN dan Times Warners), Silvio Berlusconi (pemilik jaringan televisi Italia dan Eropa) ataupun Bertelsmann (pemilik jaringan penerbitan dan media cetak, radio, dan televisi Jerman yang kemudian juga mengakuisisi penerbitan Random House, serta perusahaan rekaman musik Amerika).

Di Indonesia, era jurnalis idealis warisan R.M. Tirto Adisuryo (Medan Priyayi), Wonohito (Kedaulatan Rakyat), Abdul Aziz (Surabaya Post), Muhammad Idrus (Waspada), Mochtar Lubis (Indonesia Raya), hingga Rosihan Anwar (Pedoman) pun telah berganti. Lahir generasi baru jurnalis yang mempunyai insting bisnis yang lebih kuat, seperti Jakob Oetama (Kompas), Goenawan Mohamad (Tempo), Dahlan Iskan (Jawa Pos), hingga Surya Paloh (Media Indonesia).

Perubahan ini membuat visi, misi, struktur, dan prosedur operasional di ruang redaksi berubah secara signifikan. Terakhir lagi setelah lahir Radio dan Televisi Swasta yang berlebih di era Presiden Soeharto berkuasa.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)