Meluruskan Makna Jihad (43)

Lain "Religiousness", Lain "Religious Mindedness"

Nasaruddin Umar - detikNews
Selasa, 03 Mar 2020 17:30 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Ada dua cara orang mengekspresikan rasa keagamaannya. Pertama, orang yang menyerahkan diri sepenuhnya berada di dalam rangkulan agama. Keseluruhan pandangan hidup dan perilakunya didominasi oleh ajaran formal agama. Seolah-olah ruang, waktu, dan dirinya merupakan satu kesatuan kental dengan ajaran agama.

Sementara di nun jauh di sana (transcendent) ada Tuhan beserta para malaikat mengawasinya dengan ketat. Ruang dan jendela untuk mengintip dunia nyata sangat terbatas karena dikelilingi dan dipenuhi oleh spektrum legalitas ajaran agama. Di sekitarnya seolah dikelilingi daerah terlarang sehingga dinamika dan kebebasan berekspresi menjadi kaku karena terlalu banyak rambu-rambu yang berdiri tegak.

Kreativitas dan inisiatifnya sebagai khalifah ditenggelamkan oleh kapasitas dirinya sebagai abid (hamba). Ekspresi keagamaan seperti ini disebut religiousness.

Kedua, orang yang mengekspresikan rasa keagamaannya dengan merasa dia yang merangkul agamanya. Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke mana pun ia pergi selalu bersamanya, namun ia tidak merangkul dirinya melainkan dirinya yang menggenggam agama itu.

Dampaknya, orang akan merasa lebih merdeka dan memiliki hamparan luas dan longgar untuk berekspresi dan berkreasi. Rambu-rambu pembatas itu tidak berdiri tegak di luar dirinya tetapi melekat di dalam dirinya, sehingga pandangannya luas tanpa terpantul oleh papan-papan verboden keagamaan. Hidup dan kehidupannya lebih dinamis karena merasa diberikan kebebasan penuh dari ajaran agamanya sendiri.

Pada prinsipnya segala sesuatu boleh selain yang secara khusus dilarang. Jumlah larangan itu amat sedikit. Ia merasa lebih merdeka sebagai khalifah karena sikap perhambaan dirinya kepada Tuhan tidak menghalanginya untuk berkreasi dan berinisiatif. Ekspresi keagamaan seperti ini disebut religious mindedness.

Suasana batin pertama (religiousness) cenderung lebih tertutup dan di dalam sisi batinnya ada respek, paling tidak ada sikap mendua di dalam dirinya terhadap kelompok garis keras, karena ia memandang hidup ini hitam-putih, artinya kalau bukan putih pasti hitam atau sebaliknya.

Suasana batin ini lebih berpotensi untuk berbenturan satu sama lain karena sudah ia harus tegas dan istikamah terhadap keyakinan agama dianutnya. Orang lain yang tidak sepaham dirinya cenderung salah, karena ia merasa lebih sesuai dengan teks-teks ajaran agama.

Suasana batin kedua (religious mindedness) cenderung lebih terbuka dan tidak khawatir ke mana pun dan di mana pun ia akan pergi serta apapun yang akan dikerjakan. Sepanjang tidak melanggar prinsip-prinsip ajaran agama, maka sepanjang itu boleh dilakukan. Jalan hidup tidak hanya hitam-putih, tetapi ada rona lain yang diperkenankan Tuhan.

Hidup ini dirasakan seperti full colors, dan ia merasa diberikan otonomi untuk berikhtiar memilih color hidup yang sesuai dengan kondisi real hidupnya.

Dalam konteks kekinian, pola keagamaan religious mindedness lebih relevan untuk ditegakkan, khususnya agama Islam, yang memberikan otonomi dan kemerdekaan lebih luas kepada manusia. Semua yang tidak bertentangan dengan Islam itulah Islam, sebagaimana sabda Rasulullah: Hikmah atau kebajikan ada di mana-mana, di mana pun Anda temukan ambillah karena itu milik Islam.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)