Kolom

Perilaku Finansial Generasi Milenial

Irma Suryani Lubis - detikNews
Rabu, 26 Feb 2020 15:00 WIB
businesswoman working on desk with using laptop. concept finance and accounting
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Generasi milenial memiliki preferensi yang cukup berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dengan bidang kerja dan kompetensi yang lebih variatif, kaum muda ini seperti dilansir BigAlpha memiliki penghasilan yang cukup mencengangkan

Berikut pengakuan dari beberapa follower BigAlpha:

Aku skrng S2 umur masih di 23. Udah 6thn an tinggal di China sendirian tapi sering bolak-balik Ind. Punya usaha exim. Omset sebulan bias ratusan juta, bersih sih 50-100jt.

Saya seorang freelancer plus internet marketer, video service, rata2 klien saya bule. Sebulan kalo lagi sial bisa dapat 20jutaan, kalau lagi rame kayak kemaren, 2 bulan dapat 700jutaan. Tapi kalo gak ada order banget ya 0 penghasilan.

Sekarang gue umur 27, calon suami umur 27 juga. Gaji gue Rp 22 juta, dan gaji calon suami Rp 39 juta per bulan. Ohiya gue kerja di financial institution, laki gue di tech start up.

Jumlah penghasilan yang diraih di usia produktif mungkin sudah sangat memadai jika ditakar dengan pertimbangan orang dari generasi sebelumnya. Pertanyaannya, ke mana para milenial ini menghabiskan uangnya?

Lifestyle adalah kunci. Sebuah survei menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat generasi muda ingin memiliki pakaian, mobil, dan peralatan teknologi yang sama dengan teman-teman mereka. Sosial ekonomi dan gaya hidup memiliki peran besar dalam menunjukkan eksistensi mereka sehari-hari.

Menabung dilakukan bukan untuk membeli aset, tetapi preferensinya adalah memenuhi gaya hidup, seperti nongkrong, ngopi, shopping, dan liburan fancy.

Sementara itu, masih ada kaum muda yang tidak melakukan perencanaan keuangan seperti generasi sebelumnya. Data menunjukkan bahwa mereka tidak membeli rumah, mobil, atau menabung untuk masa pensiun seperti yang dilakukan generasi orangtua.

Untuk kaum muda, bagaikan ada prioritas yang berbeda dari orang kebanyakan tentang cara menghabiskan uang yang dimiliki.

Elemen Penting

Organisation for Economic Co-operation and Development (2016) mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan dan pemahaman atas konsep dan risiko keuangan, berikut keterampilan, motivasi, serta keyakinan untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya tersebut dalam rangka membuat keputusan keuangan yang efektif, meningkatkan kesejahteraan keuangan (financial well-being) individu dan masyarakat, dan berpartisipasi dalam bidang ekonomi.

Literasi keuangan merupakan elemen penting dari stabilitas ekonomi dan keuangan, baik untuk individu maupun ekonomi global. Perkembangan luas di pasar keuangan telah berkontribusi dalam meningkatkan kepedulian tentang tingkat literasi keuangan masyarakat dunia. Apalagi krisis keuangan baru-baru ini menunjukkan bahwa keputusan keuangan yang keliru, seringkali disebabkan oleh kurangnya literasi keuangan, dapat mengakibatkan konsekuensi negatif yang luar biasa.

Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen. Artinya, dari 100 orang hanya sekitar 38 orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang memadai mengenai produk dan layanan keuangan (well-literate). Hal ini berarti masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan uang untuk kegiatan yang produktif.

Masyarakat juga belum memahami dengan baik berbagai produk dan layanan jasa keuangan yang ditawarkan oleh lembaga jasa keuangan formal dan dikhawatirkan lebih tertarik pada konsumerisme, bahkan investasi lain yang berpotensi merugikan (bodong).

Generasi muda yang well-literate akan berpengaruh dalam menciptakan perekonomian negara yang lebih stabil. Stabilitas sistem keuangan diharapkan dapat dicapai secara mangkus dan sangkil sehingga mampu bertahan terhadap kerentanan internal maupun eksternal. Oleh karena itu, seluruh elemen, termasuk lembaga keuangan, pasar keuangan, infrastruktur keuangan, serta perusahaan non-keuangan dan setiap individu, terutama kaum milenial dapat saling berinteraksi dalam pendanaan dan penyediaan pembiayaan perekonomian yang sehat.

Dampak Ekonomi

Generasi milenial akan segera menjadi bagian terbesar dari pasar tenaga kerja; diproyeksikan pada 2025, tiga per empat secara global akan menjadi milenial (Schawbel, 2012). Perilaku finansial mereka akan lebih mempengaruhi ekonomi global daripada perilaku keuangan generasi sebelumnya. Indonesia sendiri diproyeksi pada 2030 akan mengalami bonus demografi. Bagaimana kita dapat memanfaatkan bonus demografi ini menjadi keunggulan, perlu dipikirkan lebih jauh.

Berdasarkan penelitian, secara umum, kaum milenial memiliki peluang yang lebih kecil dalam masalah dengan utang, dan peluang lebih besar menabung untuk masa pensiun dan alasan lainnya (Lusardi dan Mitchell, 2014). Sehingga, pemerintah dalam hal ini OJK harus mempertimbangkan untuk meningkatkan upaya pendidikan keuangan.

Mengingat pentingnya literasi keuangan dalam sistem perekonomian saat ini, upaya pemerintah membantu kaum milenial memperoleh pengetahuan keuangan di tempat pendidikan dan tempat kerja terbukti sangat berhasil. Penelitian telah menunjukkan bahwa program literasi keuangan yang difokuskan pada perilaku dan populasi tertentu merupakan keputusan keuangan yang lebih cerdas (Miller et al., 2014).

Ketidakpedulian pada konsep keuangan dapat berdampak signifikan. Jika gagal memahami konsep bunga, maka akan berakibat pada peningkatan biaya yang dikeluarkan, utang yang lebih besar, dan bahkan terperangkap dengan pinjaman online dan rentenir. Di samping itu, manfaat potensial literasi keuangan cukup esensial.

Orang-orang well-literate melakukan perencanaan kerja yang lebih baik dan mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun. Jika pensiun telah direncanakan dengan apik, maka akan lebih mudah mengambil langkah selanjutnya, yaitu investasi. Investasi dapat dimulai dari yang paling low risk, seperti SBR009 (Saving Bond Ritel milik negara).

Mulai dari Kampus

Berdasarkan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI), kebijakan konvensional tentang advokasi literasi keuangan dimulai pada masa sekolah. Hal ini dirasa kurang tepat sasaran. Justru malah perguruan tinggi yang merupakan waktu terbaik untuk mulai belajar secara mendalam tentang keuangan.

Advokasi keuangan di sekolah menengah kurang menyentuh kehidupan aktual pelajar. Sebaliknya, di perguruan tinggi, mahasiswa yang mayoritas tidak tinggal bersama orangtua mulai menghadapi situasi kehidupan orang dewasa dan memiliki masalah keuangan yang nyata untuk diselesaikan.

Pada masa ini kemungkinan menjadi interaksi awal dengan kartu kredit atau debit mereka sendiri, membayar sewa kos, mengatur pengeluaran, ataupun mulai menabung di bank. Kampus memiliki tanggung jawab untuk membantu di fase awal proses pendewasaan para milenial ini.

Sebagai generasi digital pertama, tentu akan sangat membantu negara jika kaum milenial yang merupakan mayoritas dapat berperan aktif dalam membantu mendukung penciptaan masyarakat melek finansial. Tentu harapannya milenial akan menjadi solusi permasalahan bangsa, bukan malah menambah beban negara.

Irma Suryani Lubis pegawai Kementerian Keuangan Unit Balai Diklat Keuangan Medan

(mmu/mmu)