Kolom

Merawat Rasa Ingin Tahu

Akhmad Mu - detikNews
Rabu, 26 Feb 2020 12:26 WIB
sekolah beralasan tanah
Foto: 20detik
Jakarta -

"Mari silakan, ada pertanyaan?" hampir semua dosen di kampus melontarkan kalimat serupa sesaat sebelum sesi kuliah diakhiri. Sudah hampir 10 tahun juga saya melontarkan kalimat serupa, namun saya selalu saja menemukan kelas yang hening, tanpa pertanyaan. Itulah mengapa saya teringat momen saat masih duduk di sekolah dasar; harus anteng, duduk diam dengan sikap sempurna untuk mendapatkan giliran pulang lebih dulu.

Kabar Gembira


Saya termasuk orang yang semringah mendengar paket kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Sederhana saja, sebagai pengajar di perguruan tinggi saya ingin melihat mahasiswa sebagai sosok yang berbeda dengan siswa pendidikan dasar dan menengah. Literal, kritis, independen, dan penuh inisiatif untuk terus belajar. Bukan sosok yang duduk menunggu materi, belajar hanya untuk menyelesaikan tugas dan berharap mendapatkan nilai sempurna.

Jikapun ada sosok yang saya harapkan, kebanyakan malah menjadi musuh bersama di kelas, karena dianggap terlalu banyak bertanya dan memperpanjang perkuliahan.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali menggugah minat belajar mereka "demi pemenuhan karakter dan kompetensi", bukan semata "demi nilai dan status sarjana". Selalu ada pro dan kontra, namun kafilah tetap harus berlalu, bukan?

Saya tentu tidak sedang menyederhanakan masalah pendidikan (tinggi). Tapi membayangkan otonomi kampus, gaya baru reakreditasi, keleluasaan peluang kerja sama, serta konsep SKS sebagai jam kegiatan adalah hal yang sangat menyenangkan. Mengapa saya katakan ini sebagai kabar gembira, karena Mendikbud Nadiem Makadiem bukan hanya menawarkan konsep di satu bagian saja (pendidikan tinggi), namun ada paket pada pendidikan sebelumnya, Merdeka Belajar.

Konsepnya mempermudah guru dalam proses pembelajaran, mengurangi beban simpul keruwetan seperti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi.

Saya sangat meyakini masih banyak PR yang harus segera dibereskan untuk menjadikan paket kebijakan tersebut menginjak bumi, bukan angin surga. Salah satunya adalah masalah bagaimana guru pada pendidikan dasar sampai menengah mampu menjaga marwah utama manusia, sebagai makhluk yang penuh rasa ingin tahu.

Manusia Penasaran


Setiap orangtua mendambakan kata pertama keluar dari mulut bayi mereka. Saat telah mahir berbicara, kebanyakan dari orangtua mulai kewalahan memberikan tanggapan dan jawaban atas parade pertanyaan anak-anak mereka. Saat sekolah, jamak kita temukan kelas yang memaksa setiap murid duduk dan mendengarkan materi, mengabaikan segudang rasa penasaran dan pertanyaan yang ada dalam kepala mereka.

Tidak heran, pada level pendidikan menengah atau tinggi, sedikit dari mereka yang masih menjadi manusia penasaran dengan segudang pertanyaan. Inilah awal bencana, awal pupusnya salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan manusia untuk terus belajar dan berprestasi.

Karakteristik sosial-emosional dianggap perlu sebagai modal kesiapan sekolah (baca: belajar). Banyak penelitian merujuk kapasitas anak untuk menemukan (invention), imajinasi (terutama rasa ingin tahu --curiosity), ketekunan (persistence), perhatian pada tugas (attentiveness), kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan sosial (relationship skill), serta kapasitas untuk mengelola emosi (self-regulation) dianggap sebagai modal paling penting anak untuk siap belajar dan siap sekolah.

Saya tidak ingin membahas semua faktor penting tersebut, namun hanya ingin melihat bagaimana kita dan sekolah merawat salah satu faktor di atas, yaitu imajinasi dan rasa ingin tahu. Keingintahuan merupakan bakat bawaan setiap manusia. Dengannya, anak-anak menjadi lebih jeli dan memikirkan banyak hal serta mencoba untuk memecahkannya.

Ketika anak-anak mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka, mereka memperluas kosa kata mereka saat mereka menggunakan bahasa untuk menggambarkan apa yang mereka pikirkan, lihat, dengar, atau alami. Ilmuwan perkembangan percaya bahwa dengan memelihara keingintahuan, kita otomatis memelihara keinginan untuk belajar secara mendalam dan terus-menerus.

Keingintahuan membantu anak-anak belajar secara efisien. Semacam detektor kebaruan, pendorong bagi anak untuk menemukan penjelasan yang tak terduga dan menyelesaikan ketidakpastian. Dengan menggunakan semua indera, anak menjelajahi sesuatu yang tidak dikenal terus menerus, sampai merasa menemukan jawabannya.

Imbalan dari keingintahuan secara garis besar berupa perasaan bahagia saat menemukan jawaban. Rasa senang dari keberhasilan mendapatkan jawaban inilah yang menjadi semacam bahan bakar bagi anak-anak untuk menebalkan keingintahuan selanjutnya, memupuk motivasi mereka. Itulah mengapa perasaan ingin tahu sering disebut sebagai mekanisme dasar pembelajaran otentik.

Apa susahnya mempunyai rasa ingin tahu kemudian merawatnya? Begitu mungkin pertanyaan seketika ketika saya menyodorkan rasa ingin tahu sebagai salah satu faktor penting anak untuk terus belajar dan berprestasi. Namun nyatanya, banyak kelas di sekolah kita selesai saat guru menyelesaikan keterangannya di depan. Jarang sekali ada pertanyaan, bisa dibilang hampir tidak ada.

Padahal merujuk hasil penelitian, rasa ingin tahu merupakan fondasi awal yang harus lebih ditekankan ketika kita melihat prestasi akademik. Salah satunya adalah penelitian yang dipublikasikan International Pediatric Research Foundation 2018. Setelah meneliti lebih dari 6200 anak-anak dengan melakukan kunjungan rumah dan observasi di sekolah, Dr. Prachi Shah dan kolega menemukan bahwa terdapat korelasi antara anak-anak penuh rasa ingin tahu dengan kinerja akademik di sekolah.

Artinya, semakin tinggi rasa ingin tahu, semakin besar potensi anak-anak untuk mendapatkan prestasi akademik di sekolah.

Studi lainnya menemukan betapa menakjubkannya keingintahuan anak-anak pada usia dini. Setiap anak sanggup bertanya sebanyak 107 pertanyaan setiap jamnya. Itu artinya, setiap menit mereka mengajukan tidak kurang dari dua pertanyaan. Michelle M. Chouinard dan kolega menemukan fakta tersebut dari penelitian yang dilakukannya bersama tim dengan melakukan observasi kepada anak-anak berusia 14 bulan sampai 5 tahun. Menakjubkan!

Sayangnya, kita seringkali dibuat repot dengan pertanyaan-pertanyaan anak kecil di sekitar kita. Sekolah formal adalah salah satu penyebab utama mengapa jumlah pertanyaan anak seperti terjun bebas. Susan Engel menemukan fenomena tersebut dalam sebuah penelitian yang dipubikasikan Harvard Educational Review pada 2011.

Hasil pengamatan di berbagai sekolah pinggiran Amerika itu menemukan kemampuan bertanya siswa terus-menerus turun semakin tinggi tingkat kelasnya. Engel menemukan, siswa awal sekolah dasar mampu mengajukan dua sampai lima pertanyaan dalam periode dua jam. Kuantitas pertanyaan tersebut terus menurun sampai tidak ditemukan lagi siswa bertanya pada usia 11 tahun.

Menemukan Formulasi


Selanjutnya saya berharap Mendikbud dan timnya segera menemukan formulasi yang jitu untuk meningkatkan kapasitas guru-guru Indonesia merawat bakat bawaan terpenting manusia, yakni curiosity. Seyogianya guru juga berharap hal yang sama, kepastian untuk meningkatkan kapasitas mereka dengan program nyata.

Memang sudah ada program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di bawah Kampus Lembaga Pendidikan Tenaga Tenaga Kependidikan (LPTK), namun jika Anda melihat dari jarak terdekat, program ini masih menyisakan banyak masalah. Salah satunya pemilihan fasilitator PPG masih sangat bergantung dari kepangkatan fungsional dosen, bukan pada kompetensi dan kualitasnya.

PPG masih dianggap sebagai lahan basah (pihak LPTK), dan seolah hanya memperpanjang rute seorang guru untuk mendapatkan hak sertifikasi, bukan murni peningkatan kualitasnya.

(mmu/mmu)