Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kita yang Terus Mengabaikan Pendidikan Keselamatan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 25 Feb 2020 16:24 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Persis seperti yang diduga banyak orang sebelumnya, semua korban banjir di kegiatan susur sungai kemarin itu adalah anak-anak perempuan yang memakai rok panjang. Dan seperti Anda, saya pun seketika mengomel juga, "Anak-anak disuruh susur sungai pakai rok panjang? Otaknya ke manaaa?"

Ada satu adegan lain yang saya saksikan dari tragedi itu. Di sebuah grup Whatsapp, tersebar satu video yang sebenarnya masuk kategori mengganggu dan tak pantas disebarluaskan. Tapi tanpa menonton itu, saya tak akan kunjung sadar bahwa situasinya memang separah ini.

Dalam video tersebut, tampak sosok tubuh gadis berseragam Pramuka diangkat dari sungai. Beberapa orang mendekat, menempelkan telinga ke dada anak itu, juga memegang nadi di leher dan tangannya.

Lalu apa yang mereka lakukan? Tidak ada. Mereka tidak berbuat apa-apa.

Kenapa tidak ada upaya memberikan napas buatan, misalnya? Bukankah belum pasti benar bahwa anak itu sudah meninggal, dan artinya bisa jadi masih ada harapan?

Jawabannya sangat menyedihkan: sebab kita tidak tahu apa-apa tentang prosedur pernapasan buatan. Warga desa itu tidak salah. Mereka tidak tahu. Bahkan saya sendiri pun tidak tahu. Kenapa? Karena memang tidak pernah ada materi pendidikan kita yang memberi tahu.

Indonesia adalah negara dengan berbagai bentang alam tropis, yang kenyang akan peristiwa alam. Peristiwa alam itu seringkali menjadi bencana, karena menyambar permukiman manusia di sekelilingnya. Dengan realitas seperti ini saja, sebenarnya tak ada alasan bagi dunia pendidikan kita untuk abai terhadap segala risiko yang diam-diam selalu mengendap-endap dan ada saatnya bakalan menghajar tengkuk kita.

Pendidikan semestinya mendekatkan murid kepada lingkungan, membuat murid memahami lingkungan, memberikan kemampuan kepada murid untuk memanfaatkan lingkungan, sekaligus membentuk kesiapan dalam menghadapi potensi-potensi negatif dari lingkungan.

Pertanyaannya, sudah seberapa serius sistem pendidikan kita mengasah kepekaan akan datangnya bahaya dari lingkungan terdekat kita, lalu membentuk keterampilan praktis untuk menghadapinya?

Mohon maaf, saya sedikit membanding-bandingkan. Saat kami sekeluarga masih tinggal sementara di Australia, saya ingat pernah membuka-buka modul pelajaran anak saya yang masih SD. Di situ disajikan penekanan terperinci tentang segenap potensi bahaya yang ada di sekitar anak-anak, dan bagaimana menghadapinya. Misalnya jika ada anjing galak yang tidak diikat tali oleh pemiliknya, jika ada orang asing yang mendekat, jika ada orang lain yang memegang bagian tubuh anak, sampai teknik menyeberang jalan yang aman.

Pelajaran berenang juga diwajibkan. Kenalan saya, orang Australia yang membuka toko perlengkapan berenang, kaget sekali ketika saya bilang saya baru bisa berenang pada umur 28 tahun. Di sana, berenang adalah satu keterampilan dasar yang tak boleh diabaikan, terutama untuk kepentingan keselamatan. Anak-anak diikutkan les berenang sejak balita, atau kalau tidak ya usia awal SD. Setelah anak terampil berenang, di level berikutnya diberikan pula materi teknik menolong orang lain yang tenggelam.

Tak cuma di sekolah. Di kantor-kantor pemerintahan setara kecamatan, saya menemukan brosur-brosur pelatihan gratis P3K untuk warga. Di dalamnya ada jadwal pelatihan pertolongan kepada korban serangan jantung, pemberian napas buatan, pertolongan pertama korban gigitan ular, teknik memadamkan api, dan sebagainya.

Saya melihat, selain pembentukan keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan dalam kenyataan hidup sehari-hari warga dan anak-anak sekolah, ada hal lain yang terbentuk, yaitu kepekaan bersama kepada segenap potensi bahaya. Bahkan seringkali lebih jauh dari itu, masyarakat Australia yang tampak di mata saya adalah masyarakat yang terlalu berlebihan dalam menyikapi potensi-potensi negatif itu.

Mungkin mereka memang jadi over-sensitif. Namun bukan tidak mungkin itu cuma persepsi saya sendiri, hanya karena saya lahir dan dibesarkan dalam masyarakat yang minim sekali dalam membangun kepekaan atas bahaya.

Ketidakpekaan itu tampak dalam keseharian kita. Anak-anak kecil dibiarkan bahkan diajari naik motor, kadang boncengan bertiga, tanpa memakai helm pula. Sepeda motor bahkan mobil berjalan di malam dengan lampu belakang yang mati, tanpa peduli bahwa kendaraan yang melesat dari belakang sangat mungkin menyeruduknya. Dan kita memandang itu semua dengan biasa saja, tanpa kecemasan sedikit juga.

"Hidup mati toh di tangan Allah," kata Pak Pembina Pramuka yang menyuruh anak-anak SMP itu untuk mengikuti kegiatan susur sungai. Saya sempat curiga bahwa cara-cara berpikir fatalis seperti itu adalah akar di balik tragedi ini. Namun jika kita tengok pelajaran agama, sebenarnya tafsir dominan di masyarakat muslim Indonesia pun tidak sefatalis itu. Ruang ikhtiar ditekankan, konsep tawakal yang mendudukkan kepasrahan diri setelah berusaha keras selalu ditegaskan.

Artinya, saya yakin bukan penyerahdirian total kepada takdir yang dilakukan oleh Pak Pembina Pramuka, melainkan semata-mata sikap ignorant. Cuek. Masa bodoh. Sebab kepedulian membutuhkan pengasahan kepekaan, dan kepekaan itu tak bakal terbentuk jika tak pernah diajarkan sekaligus ditradisikan.

Bulan lalu, saya dan beberapa kawan mengadakan satu forum daring. Temanya tanggap bencana, bagaimana membawa keluarga kita siaga menghadapi bencana. Narasumbernya kawan saya nongkrong setiap harinya, Pak Dokter Bius merangkap aktivis kemanusiaan yang sering terjun ke daerah-daerah korban bencana.

Dalam satu bagian dialog, Pak Dokter memaparkan bahwa Indonesia rawan gempa karena merupakan lokasi perjumpaan tiga lempeng tektonik. Karena itu, sudah seharusnya setiap keluarga memeriksa apakah ada potensi-potensi bahaya saat gempa di dalam rumah masing-masing.

"Apakah di atas lemari atau rak ada piala-piala, plakat-plakat, atau benda lain. Itu bahaya. Kalau terjadi gempa, benda-benda tadi bisa jatuh. Dan biasanya gempa menimbulkan korban justru bukan karena gempanya sendiri, melainkan karena benda-benda berat yang jatuh menimpa kita."

Saya kaget. Benar juga. Tapi yang semacam itu tidak pernah saya sadari. Di atas rak buku saya yang lumayan tinggi pun berjajar plakat-plakat berat, hadiah dari beberapa panitia seminar dan diskusi. Sebagian berbahan marmer, yang andai jatuh menimpa kepala saya, tak usah Anda bayangkan bagaimana jadinya.

Ini sangat memalukan. Pada Gempa Jogja 2006 rumah orangtua saya ambruk, dan beberapa famili saya jadi korban tewas. Lihat, bahkan setelah saya sendiri menjadi bagian dari korban bencana, tidak lantas terbentuk kepekaan dalam diri saya.

Lalu, apakah tumbangnya 10 nyawa anak-anak tak berdosa kemarin itu juga tak akan mampu membuat kita lebih peka? Jangan-jangan yang ada cuma penyesalan, doa, hukuman ala kadarnya kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab, dan setelah itu kita tetap tidak membenahi apa-apa?

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)