Kolom

Mitigasi Dampak Ekonomi Virus Corona

Teguh Santoso - detikNews
Selasa, 25 Feb 2020 14:30 WIB
Jumlah korban jiwa imbas virus corona terus bertambah. Hingga hari ini, Rabu (19/2) korban tewas akibat virus itu mencapai lebih dari 2 ribu orang secara global
Foto: AP Photo
Jakarta -

Setelah melewati masa berat perang dagang dengan AS, Tiongkok kembali harus berhadapan dengan serangan lain. Bukan serangan senjata maupun kebijakan perdagangan, Tiongkok menghadapi serangan wabah virus Corona (2019-nCov). Virus yang mulanya mewabah di Kota Wuhan, saat ini telah menjadi epidemik menyebar ke daratan Tiongkok lain hingga ke setidaknya 26 negara lain. Setidaknya tercatat 24.953 kasus terjangkit Corona di Tiongkok dengan jumlah korban jiwa mencapai 699 orang.

Secara global, virus corona telah menyerang 33.800 orang dengan total korban 717 jiwa. Dengan masifnya serangan virus tersebut, banyaknya korban dan intensitas penambahan yang kian meningkat, serangan virus corona telah menjadi bencana kemanusiaan global awal 2020 ini.

Ekonomi Tiongkok tak luput dari dampak virus Corona. Aktivitas ekonomi baik produksi maupun konsumsi diprediksi melambat. Fokus pemerintah dan warga Tiongkok tentu saat ini adalah meminimalkan dampak penularan virus serta penyelamatan; hal ihwal aktivitas ekonomi terabaikan.

Indeks pasar modal bisa menjadi cerminan merosotnya aktivitas ekonomi. Tiga bursa saham Tiongkok yakni Shanghai Index, TWSE, dan Hangseng menunjukkan rapor merah dengan indeks yang menurun masing-masing sebesar -7.72%, -5,72%, dan -2,82%. Merosotnya indeks bursa saham Tiongkok kali ini lebih dalam dibanding pada saat serangan virus SARS pada 2003, yang mana Shanghai Index dan Hangseng merosot sebesar -3,4% dan -2,58%.

The Black Swan Effect (peristiwa langka yang tidak terduga dan berdampak besar) diprediksi masih akan membayangi pasar modal Tiongkok yang mencerminkan peningkatan risiko perekonomian. Dalam jangka pendek, kondisi ini tentu akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi negeri itu, yang dapat dipastikan akan menurun. Lembaga pemeringkat S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bakal merosot hingga 5% pada 2020 akibat bencana tersebut.

Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar, segala sesuatu yang menghantam ekonomi Tiongkok tentu saja berdampak pada kondisi ekonomi negara lain.

Tiga Jalur

Dampak ekonomi diprediksi bersifat jangka pendek. Terdapat setidaknya tiga jalur transmisi dampak force majeure virus corona terhadap ekonomi Indonesia. Pertama, jalur pariwisata. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menghentikan aktivitas penerbangan dari dan ke Tiongkok serta penghentian sementara pemberian visa bagi warga negara Tiongkok.

Kunjungan wisman dari Tiongkok merupakan yang terbesar ketiga setelah wisman Malaysia dan Singapura. Merujuk pada data BPS, jumlah wisman Tiongkok per Desember 2019 secara rata-rata (2017-2019) mencapai 175.123 orang per bulan atau 1.276.586 orang per tahun. Rata-rata wisman Tiongkok menghabiskan waktu selama 6 hari di Indonesia dengan rata-rata pengeluaran harian sebesar 173,2 USD per wisman.

Dengan adanya kebijakan menutup penerbangan dari dan ke Tiongkok, maka sektor pariwisata akan kehilangan pendapatan sebesar 182 juta USD atau sebesar Rp. 2,48 Trilyun per bulan. Angka tersebut tentu baru secara nominal, namun pasti memiliki dampak pengganda (multiplier) pada tenaga kerja dan sektor-sektor turunannya yang sudah pasti menghasilkan angka yang jauh lebih besar. Lebih lagi bagi Provinsi dengan kunjungan wisman Tiongkok yang besar seperti Bali dan Sulawesi Utara.

Kedua, jalur perdagangan. Tiongkok merupakan salah satu pemain terbesar dalam peta perdagangan global dengan pangsa sebesar 13%. Tiongkok juga menjadi salah satu pangsa ekspor produk Indonesia dan sumber barang impor terbesar. Selama ini, komoditas ekspor unggulan Indonesia menjadi salah satu penopang industri Tiongkok, seperti CPO, karet dan barang mineral tambang. Ketika ekonomi Tiongkok mengalami stagnasi, maka permintaan ekspor produk Indonesia berpotensi berkurang.

Hal tersebut tentu saja berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Pasalnya, selama ini Tiongkok menjadi tujuan ekspor non-migas utama dengan pangsa 16,6% atau senilai 25,85 miliar USD. Setelah menurun sebesar 4,2% pada 2019 akibat perang dagang AS-Tiongkok, kinerja ekspor Indonesia juga berpotensi terdampak negatif, minimal pada kuartal I-II 2020 ini.

Tiongkok juga menjadi pemasok barang impor utama ke Indonesia dengan nilai 44,58 miliar atau 29,95% dari total impor, yang didominasi oleh barang elektronik, barang-barang mesin, dan kimia. Jika akses dari dan ke Tiongkok dibatasi, maka tentu akan berdampak terhadap arus barang impor yang menjadi bahan baku atau pendukung industri domestik.

Lebih lagi, Tiongkok juga banyak memasok komoditas bahan pangan seperti bawang putih dan buah-buahan berpotensi dihentikan sementara pasokan impornya. Dengan demikian, potensi lonjakan inflasi akan terjadi, utamanya berasal dari komoditas bawang putih. Bawang putih dapat dikatakan merupakan bahan wajib berbagai produk olahan makanan di Indonesia. Dengan permintaan yang tinggi serta terbatasnya pasokan, maka tak jarang bawang putih sering berkontribusi pada kenaikan laju inflasi kelompok pengeluaran bahan makanan.

Ketiga, jalur investasi dan keuangan. Meski tidak terkait langsung, namun sektor keuangan sedikit banyak juga berpotensi terdampak. Sejak virus corona merebak awal Januari lalu, IHSG menunjukkan tren yang menurun. Bahkan pada 3 Februari lalu, IHSG ditutup pada level 5.884,17 dan merupakan level terendah sepanjang 6 bulan terakhir.

Peningkatan risiko keuangan global akibat pelemahan bursa keuangan Tiongkok turut mempengaruhi kepercayaan investor, sehingga arus modal keluar tak terhindarkan. Meski tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh dampak Corona, namun kejadian di Tiongkok tersebut cukup berkorelasi dengan kondisi IHSG di Indonesia.

Ketika Bank Sentral Tiongkok mulai menambah likuiditas melalui operasi pasar dengan dana sebesar USD 173 miliar, IHSG mulai menunjukkan kinerja yang positif hingga mencapai level 5.999,61. Pada saat bersamaan, meski dibarengi dengan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menurun, laju IHSG tetap saja positif. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa IHSG lebih peka terhadap isu eksternal, yang tak lain adalah virus corona.

Simulasi dan Mitigasi

Keselamatan warga negara tetap menjadi prioritas utama, namun menjaga stabilitas ekonomi tetap harus diperhatikan. Pemerintah Indonesia wajib melakukan upaya simulasi dan mitigasi dampak ekonomi dari merosotnya aktivitas ekonomi di Tiongkok. Dengan dilakukannya simulasi dampak ekonomi, maka upaya mitigasi akan cenderung lebih presisi.

Dalam jangka pendek, upaya mitigasi yang perlu dilakukan adalah meminimalkan potensi negatif inflasi yang ditimbulkan melalui jalur perdagangan. Rencana larangan impor bawang putih perlu ditinjau kembali. Jika memang secara standar kesehatan impor produk bahan pangan tidak berpotensi menyebarkan virus corona, maka impor bawang putih dan komoditas lain tetap dapat dilakukan, tentu dengan standar pengawasan yang lebih ketat.

Promosi pariwisata perlu lebih ditingkatkan lagi, utamanya ke negara-negara Timur Tengah yang secara ekonomi berpotensi dan daerah yang relatif sangat minim laporan kasus virus corona di kawasan tersebut. Dalam jangka panjang, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok. Negara tersebut dinilai sangat rentan terhadap berbagai gejolak, baik politik-internasional, ekonomi, maupun bencana sosial utamanya wabah penyakit.

Teguh Santoso dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad

(mmu/mmu)