Kolom Kang Hasan

Pelajaran Sains Reproduksi: Sulit Diingat dan Tabu

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 24 Feb 2020 10:48 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty yang mengatakan bahwa perempuan bisa hamil kalau berendam di kolam renang itu bukan orang yang tak berpendidikan. Ia lulusan program pasca sarjana di sebuah PTN di Jakarta. Tapi dia bisa begitu yakin mengatakan sesuatu yang sangat keliru. Konyolnya, ia begitu yakin saat mengatakannya.

Perhatikan bahwa ia mengatakannya dalam rangka mempromosikan pentingnya pengetahuan tentang reproduksi. Ia ingin mengajari orang tentang reproduksi dengan tingkat pengetahuan yang seperti itu. Artinya, ia tidak sadar sedikit pun bahwa ia keliru.

Bagaimana mungkin seorang lulusan S2 tidak paham hal-hal dasar soal sains? Ini mungkin pertanyaan yang berlebihan. Faktanya, ada begitu banyak orang di negeri ini tidak paham sains. Celakanya, mereka menempati posisi-posisi yang memberi mereka akses ke media. Lalu mereka bicara dengan modal ketidaktahuan tadi.

Kita semua tentu masih ingat pula bagaimana seorang calon gubernur yang mengatakan bahwa mengalirkan air hujan ke laut itu sebuah kesalahan, dan ia begitu yakin soal itu. Ini perkataan setara dengan perkataan Komisioner KPAI tadi.

Sains menjadi pelajaran mengerikan bagi banyak orang. Anak-anak yang sekolah di jurusan IPA mungkin 40-50% tamat sekolah tanpa memahami apa yang mereka pelajari waktu sekolah. Mungkin 60-70% atau bahkan lebih, lupa dengan apa yang mereka pelajari. Tamat sekolah orang-orang merasa bebas dari kewajiban untuk belajar. Artinya, sekolah-sekolah kita alih-alih memicu anak-anak untuk belajar mencari tahu, ternyata cuma sekadar menjadikan kegiatan belajar sebagai siksaan belaka.

Apakah pendidikan sains di sekolah bertujuan membuat orang serba tahu soal sains? Tentu saja tidak. Yang diharapkan adalah orang tahu soal-soal dasar, dan lebih penting lagi, tahu peta pengetahuan sains. Dengan begitu ia sadar di bagian mana dia tidak tahu. Jadi dia tidak akan bicara sembarangan.

Sayangnya pelajaran sains di sekolah seakan tidak membawa misi itu. Fokusnya lebih pada pencapaian nilai ulangan. Yang ingin dicapai adalah murid bisa mengisi soal ulangan dan ujian. Maka mereka diajari untuk menghafalkan rumus, juga menghafalkan cara mengerjakan soal ulangan.

Saya dulu sekolah di jurusan IPA. Saya suka pelajaran sains. Tapi kalau sudah masuk ke pelajaran biologi, saya begitu tersiksa. Guru saya berbicara di depan kelas, maksudnya mau menerangkan. Tapi ia tidak pernah memeriksa apakah murid-murid yang mendengarkan paham atau tidak dengan penjelasannya. Pokoknya ia sudah menyampaikan sesuai dengan tuntutan jadwal pelajaran. Ada begitu banyak guru yang begitu.

Kalau bicara soal reproduksi, soalnya jadi lebih rumit lagi. Guru biologi di kelas pun masih jengah kalau membicarakan reproduksi manusia. Padahal reproduksi manusia itu adalah salah satu subjek dalam ilmu biologi, sama dengan reproduksi kambing, bunga mawar, atau reproduksi bakteri. Persenggamaan manusia secara biologi tidak ada bedanya dengan perkawinan kambing, penyerbukan pada kembang, atau pembuahan telur ikan dengan sperma yang ditebar dalam air.

Pembicaraan soal persenggamaan manusia menjadi subjek yang sunyi. Membicarakannya harus berbisik-bisik, sambil malu-malu. Atau sebaliknya, dibicarakan dengan kelakar mesum, tanpa muatan pengetahuan. Banyak orang tua yang kelabakan ketika anaknya bertanya-tanya soal reproduksi. Umumnya tidak sanggup menjelaskan, karena tidak tahu. Sebagian lagi tidak sanggup menjelaskan, karena malu.

Ada begitu banyak remaja yang terdorong oleh gejolak biologis dalam diri mereka, lalu masuk ke praktik hubungan seksual, dengan pengetahuan minim tentang hubungan seksual beserta konsekuensinya. Pelajaran biologi di sekolah sama sekali tak meninggalkan bekas untuk dijadikan pertimbangan saat hendak melakukan hubungan seksual.

Lebih parah lagi, masyarakat bersama pemimpinnya memberikan konsep yang keliru pula. Kondom yang seharusnya dipakai untuk mencegah kehamilan yang tak diinginkan atau direncanakan, juga untuk mencegah penularan penyakit, justru dianggap sebagai pemicu terjadinya hubungan seksual bebas. Karena itu kondom harus dibatasi peredarannya. Orang-orang itu berpikir, kalau kondom tersedia maka dorongan untuk melakukan hubungan seksual akan meningkat.

Padahal dorongan untuk melakukan hubungan seksual itu bersifat internal. Tanpa pengetahuan memadai soal reproduksi para remaja bahkan tidak berpikir untuk memakai kondom. Mereka hanya ingin mencoba berhubungan seks. Tidak ada kondom pun bukan masalah bagi mereka. Adanya kondom tidak memicu anak muda untuk berhubungan seks.

Nalar sebagian orang soal kondom dan tanggung jawab hubungan seksual terbalik. Di negara-negara Barat, hubungan seksual memakai kondom adalah hubungan seksual yang bertanggung jawab. Dengan begitu perempuan tidak akan terbebani oleh kehamilan yang tak dikehendaki.

Di sini, tanggung jawab soal hubungan seksual dinyatakan dalam bentuk kemauan untuk menikahi. Memakai kondom membuat laki-laki bisa bersenggama tanpa khawatir pasangannya akan hamil. Sikap semacam itu justru dianggap tidak bertanggung jawab. Seakan, kehamilan perempuan adalah sarana untuk mengikat laki-laki dengan tanggung jawab.

Karena prinsip itu maka kondom dianggap musuh. Mengajarkan fungsi kondom kepada kaum muda dianggap mengajarkan agar berhubungan seks secara bebas. Mengajarkan aspek biologis soal hubungan seksual dianggap memberi dorongan untuk ingin mencoba melakukannya.

Kombinasi antara kelirunya metode pengajaran sains, ditambah sikap keliru terhadap hubungan seksual karena prinsip tabu, membuat tingkat pengetahuan masyarakat soal hubungan seksual dan reproduksi menjadi sangat rendah.

(mmu/mmu)