Jeda

Cara Mencintai Hari Senin

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 23 Feb 2020 13:20 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pakaialah kaos bertuliskan "Baju Kerja". Pakailah kemeja santai motif kembang-kembang ala Hawaai biar berasa pergi ke pantai. Ganti tas ranselmu dengan tote bag hipster ala anak-anak gaul M Bloc. Atau, pakailah baju baru. Tidak harus baru dalam arti baru dibeli dari gerai-gerai di GI atau hasil perburuan di lapak online. Tapi, baju yang jarang sekali atau sudah lama tidak kamu pakai, mungkin teronggok di bagian paling bawah dalam tumpukan di lemari. Pakailah sneaker yang biasa buat lari.

Bikinlah sarapan yang istimewa dan enak. Tidak harus mahal. Tidak harus yang rumit sebangsa steak dada ayam dengan rebusan brokoli. Bikin saja omelet ala hotel, atau kreasimu sendiri: sebutir telur, irisan tomat, daun bawang...tambahkan barang satu-dua genggam jagung manis pipil (tidak perlu yang organik), atau bila perlu tambahkan juga sedikit tepung bakwan instan.

Atau, jangan bayangkan "bikin sarapan" itu dalam arti benar-benar membikin sendiri, melainkan sekadar "menyiapkan": beli roti di bakery artisan Prancis pada hari Sabtu, iris-iris dan sajikan di piring porselen panjang putih vintage gambar ayam jago merah. Seduh kopi kesukaan. Jangan lupa difoto dulu sebelum disantap, taruh buku terbaru yang kamu beli namun belum kamu baca sekalimat pun di sisi piring dan roti dan mug kopi, dalam posisi miring, estetis, mempesona. Lalu, posting di Twitter, Facebook, dan Instagram sekaligus, dan tunggu like dan komen-komen yang masuk.

Bila biasanya kau pergi ke kantor atau langsung menuju lokasi meeting dengan klien di sebuah kafe atau co-working space naik mobil, kali ini cobalah, sesekali naik transportasi umum. Atau, kau bisa meniru gaya orang-orang Eropa yang pergi ke tempat kerja naik sepeda. Tidak harus dari rumah sampai ke kantor, bisa sebagian perjalanan saja, misalnya dari rumah ke halte transportasi umum terdekat.

Sampai di sini, mungkin kau akan langsung berseru dengan sengit, ah yang bener aja! Ya, bisa jadi sedikit hal-hal sederhana yang dipaparkan di atas terasa sebagai sebuah kemewahan atau bahkan mungkin terdengar seperti omong kosong belaka. Karena, bisa jadi kau adalah pegawai negeri sipil yang terikat oleh aturan-aturan formal dalam berpakaian. Atau, bahkan ada juga kok perusahaan swasta yang mewajibkan karyawannya memakai seragam. Itu baru soal penampilan.

Bikin sarapan? Boro-boro! Rumahmu di ujung Bekasi atau Pamulang ke sana lagi, dan tempat kerjamu di tengah kota. Setiap hari kamu harus bangun pagi sekali, bukan karena hal itu memang baik dan menyehatkan, melainkan semata keterpaksaan, karena kau harus buru-buru berangkat. Apalagi jika kantormu menerapkan sistem absen yang ketat, harus datang pukul delapan teng dan semacam itu.

Kemudian soal sesekali naik transportasi umum. Jangan bercanda dong. Ini Jakarta, Bung! Tahu sendirilah, nggak usah dibahas panjang lebar lagi. KRL yang sering telat, Transjakarta yang dengan slogannya "Kini Lebih Baik" (sepertinya mereka menyadari kalau dulu memang buruk) yang sebenarnya "nggak pernah lebih baik-baik amat" karena tak punya jadwal yang bisa dipastikan, dan MRT yang hanya menjangkau kawasan elit Fatmawati-Sudirman-Thamrin.

Naik sepeda? Dengan lalu lintas yang sepadat dan sesemrawut itu? Terima kasih deh!

***

Jadi, bagaimana cara mencintai hari Senin? Kapan kita bisa bahagia dengan pekerjaan kita, tanpa "takut" dengan hari Senin? Jika hal-hal di atas terkesan terlalu "remeh" untuk dipraktikkan, maka tak ada jalan lain: cintai apapun pekerjaan, jalani sesuai passion-mu, dan tentukan visi dan misi atau tujuan hidup yang hendak kamu capai lewat pekerjaanmu itu.

Haduh, kok malah jadi semakin berat begini ya! Tunggu, jangan bersungut-sungut dan sinis dulu. Ada sebuah cerita. Ini parabel sederhana tentang tukang batu, yang mungkin sudah pernah kamu dengan atau baca di tempat lain. Alkisah, tiga orang tukang batu ditanya, "Apa yang kamu lakukan?"

Tukang batu pertama tanpa berpikir lama langsung menjawab dengan mantap, dan dengan nada agak sedikit kesal, "Aku sedang meletakkan batu bata, tentu saja!"

Tukang batu kedua berkata dengan suara yang sedikit lebih kalem, "Aku sedang membangun masjid."

Dan, yang ketiga menjawab dengan percaya diri layaknya seorang anak muda yang baru lulus dari Harvard, "Aku sedang membangun rumah Tuhan."

Dalam berbagai literatur tentang pekerjaan, kiat sukses, dan kebahagiaan hidup, cerita tersebut kerap disampaikan, dengan kesimpulan seperti ini: Tukang batu pertama mempunyai profesi. Yang kedua mempunyai karier. Yang ketiga mempunyai panggilan.

Barangkali banyak di antara kita yang ingin seperti tukang batu ketiga, bekerja dan menjalani pekerjaan sehari-hari karena panggilan jiwa --oh, alangkah indahnya! Tapi, apa boleh buat, lebih banyak yang malah menjadi seperti yang pertama dan kedua.

Seorang pakar manajemen akan mengartikan bahwa jawaban ketiga tukang batu tersebut mewakili sudut pandang masing-masing. Tukang batu pertama, yang dinilai memiliki profesi, berarti menganggap pekerjaannya hanya sebagai kebutuhan hidup, sama seperti bernapas, makan, tidur, bercinta, dan (sesekali -atau sering?) bergosip. (Ya, menggosipkan orang lain adalah kebutuhan hidup!).

Tukang batu kedua, yang dinilai memiliki karier, menganggap pekerjaannya sebagai batu loncatan ke pekerjaan lain. Sedangkan, tukang batu ketiga, yang dinilai memiliki panggilan, sama artinya dengan berkata, "Pekerjaan saya adalah salah satu hal terpenting dalam hidup."

Sampai di sini, apakah kiranya kau sudah cukup tercerahkan? Terwakili oleh yang mana dirimu?

***

Barangkali bukannya "semakin" tercerahkan, kau mungkin justru akan semakin sinis. Passion? Tujuan? Panggilan? Omong kosong apa lagi ini! Kalau pekerjaanmu menyenangkan, bergengsi, bergaji tinggi, syukur-syukur sesuai dengan bidang studi yang kau pelajari bertahun-tahun atau gelar akademis mentereng yang telah kau raih di universitas, tentu saja kau akan berbusa-busa bicara tentang passion, tujuan, visi-misi, dan hal-hal semacam itu.

Bahkan bisa saja layaknya seorang finalis putri kecantikan yang tengah berlaga di atas panggung, kau akan berkata, "Pekerjaan saya membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik."

Tapi, bagaimana jika kau seorang tukang batu "beneran"; bagaimana dengan para penyapu jalan, tukang ojek, dan para lulusan Teknik Kimia yang "tersesat" bekerja di bank misalnya, apakah mereka masih akan bicara tentang passion dan panggilan hidup?

Tenang. Sabar. Tidak perlu ngegas. Masih ada kok cara lain lagi untuk mencintai hari Senin. Menurut profesor psikologi dari University of Pennsylvania, Angela Duckworth, yang menulis buku terkenal berjudul Grit: The Power of Passion and Perserverance, tidak ada "salahnya" kok tidak memiliki ambisi profesional selain mencari nafkah dengan jujur dan tulus. Namun, kebanyakan orang mendambakan lebih banyak hal.

Lantas, Angle mengutip hasil survei pakar lain yang menemukan bahwa memang hanya sebagian kecil dari pekerja yang mengidentifikasi pekerjaan mereka sebagai panggilan. Kabar baiknya adalah --kau boleh siap-siap tersenyum lega-- hal itu bukan karena tidak adanya keinginan. Kita semua pada dasarnya mencari "makna sehari-hari selain sepiring nasi sehari-hari....mencari sejenis kehidupan dan bukan sejenis kematian dari Senin hingga Jumat."

***

Jadi, dunia tahu, kau sudah berusaha. Mungkin, ada baiknya kita kembali ke meja makan, memikirkan kembali apa yang kita lakukan, dan menemukan cara-cara mudah yang dapat membuat kita melepas ketegangan sebelum berangkat kerja. Bangunlah lebih pagi (lagi), dan nikmati sarapanmu tanpa terburu-buru. Pakailah hoodie biru navy atau warna-warna cerah lainnya, yang bertuliskan "Live Slow Die Old".

Mari kembali ke hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan. Misalnya, dengan kesadaran sendiri, mulai meninggalkan kebiasaan makan siang di meja kerja. Tak peduli seberapa besar tekanan dari suatu proyek, permintaan revisi dari klien, atau "tumpukan" email-email yang harus kamu jawab, kita berhak mendahulukan aktivitas mengisi perut dengan makanan dan cara yang layak.

Pulanglah lebih awal. Mampirlah ke toko roti.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)