Pustaka

Perempuan dalam Legasi Sastra Mangunwijaya

Anindita Arsanti - detikNews
Sabtu, 22 Feb 2020 12:10 WIB
rara mendut
Jakarta -
Judul buku: Rara Mendut; Penulis: YB Mangunwijaya; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2019; Tebal: 338 halaman

Romo Mangun, sapaan akrab Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (1929-1999) dikenal sebagai sosok multiperan. Rohaniwan yang juga penulis, humanis, arsitek, dan pendidik. Jejak karya desain tempat ibadah, penataan kawasan perkampungan kumuh, pendidikan dasar bagi kaum miskin, hingga bidang kepenulisan menjadi pilihannya untuk mencurahkan pandangan tentang kemanusiaan dan keindonesiaan.

Trilogi Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri kiranya masuk dalam novel Romo Mangun yang disebut Ahmad Syafi'i Ma'arif memiliki napas dan roh sejalan multidimensionalitas pribadi penulisnya. Roman sejarah tersebut berkisah mengenai perempuan-perempuan dalam pusaran ego kekuasaan (laki-laki). Tema yang lahir dari kegundahan akan realita; menunjukkan keberpihakan pada kaum tertindas, dalam hal ini adalah perempuan.

Ditulis lebih dari tiga dekade lalu, kisahnya tetap relevan dengan kondisi sekarang, hingga dihadirkan kembali oleh penerbit ke tengah pembaca. Latar belakang feodalisme dan kolonialisme pun kini telah bersalin rupa dalam modernitas dan kapitalisme global.

Isu Perempuan Berbalut Konflik Cinta


Rara Mendut (diterbitkan pertama kali pada 1987) sebagai pembuka trilogi berlatar tanah Mataram saat pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusumo. Ia adalah perempuan dengan cahaya kecantikan pesisir Pati yang membuat Adipati Pragola dan Panglima Mataram, Tumenggung Wiraguna menginginkannya sebagai selir.

Sang Adipati keburu tewas di medan laga sebelum resmi mempersunting Mendut. Sedangkan tumenggung tua mesti berjuang keras melelehkan hati putri rampasan dari tangan Pragola. Gadis cerdas keras hati itu ditekan, bahkan sampai dikenai upeti tinggi. Membuatnya nekat mencari uang dengan cara ekstrem, menjual puntung-puntung rokok yang telah basah oleh air liurnya. Alhasil kaum adam berbagai kasta berjejalan di kedainya.

Kegandrungan Wiraguna sebenarnya lebih karena Mendut berada di luar kelaziman perempuan kala itu. Ia autentik dengan spontanitasnya, ceplas-ceplos, kadang liar. Pemberontak untuk ditundukkan Sang Panglima yang merasa tertantang.

Saat harimau betina emoh diiming-iming apapun untuk menukar kebebasan dengan kehidupan sangkar emas. Di pesisir Pekalongan, pemuda Pranacitra menuju Mataram untuk lepas dari bayang-bayang kesuksesan orangtua. Takdir cinta mempertemukannya dengan Rara Mendut. Cinta sejati pun diuji di hadapan senjata terhunus.

Romo Mangun pencerita ulung. Novel ini dibangun apik dalam bingkai narasi dan dialog padat. Mengalir luwes di tengah kultur Jawa abad ke-17 yang kaya dan terasa bukan sekadar tempelan. Setting tempat dan adegan begitu detail. Didukung penokohan kuat dan menarik. Menjadikan Rara Mendut bukan hanya kisah cinta segitiga klasik yang biasa saja. Simak kutipan berikut misalnya:

Sri Susuhunan bertubuh bagus, kepala beliau bundar dengan sepasang mata besar-besar dan menyala, mulut agak lebar berbibir tipis. Beliau berkuluk Turki putih damas berpelisir kencana yang memusat bagaikan jeruji cakra di atas dan yang tersimpul oleh sebuah biji kencana hampir sebesar buah kelengkeng. Kedua telinga beliau terhiasi sunting waderan yang mengombak luwes ke belakang, sehingga merupakan pigura samping pengatur rambut yang sebagian terjurai mengilau berbau mawar.

Rompi kebesaran beledu merah darah beku yang menutupi dada dan punggung, terhias dengan sulaman emas lambang cakra roda semesta, yang lingkaran serta jeruji-jerujinya berbentuk keris serta bunga-bunga melati kesuma, dan yang berkilauan megah bersama dengan bandul kalung dari ukiran lempeng-lempeng emas berkarat tua.

Namun yang paling menyolok ialah besarnya kain dhodhot batik berpola nila tua mulia khas kesultanan yang menjurai dalam sekian lipatan serta menggelembung di belakang pinggul dan ke muka, yang begitu panjangnya hingga menyapu lantai pasir halaman dan batu basalt hitam pendopo terpoles. (hlm. 75)

Terlihat bagaimana Romo Mangun agak "terlalu" jenius dalam kalimat-kalimat panjangnya yang padat informasi, seakan kelebihan beban. Tidak semua penulis memiliki teknik menulis kalimat panjang secantik itu. Dan tidak semua pembaca memiliki daya tahan menikmati gaya penulisan yang telah menjadi ciri khasnya itu. Beruntung sisi humor lihai ia tampilkan sebagai penawar. Pun sebagai rohaniwan Katolik, pria kelahiran Ambarawa ini fasih menempatkan frasa-frasa Islami dalam kisah di era penyebaran agama Islam terjadi.

Novel pada intinya mengingatkan pembaca tanpa membedakan status apapun, bahwa manusia selayaknya diperlakukan sebagai manusia. Bukan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia lain. Bukan seperti perempuan yang dihargai tak lebih baik dari perhiasan. Dapat dirampas dan disita dari pihak kalah perang. Atau perawan-perawan sebagai hadiah bagi yang berjasa.

Menarik mencermati bagaimana penulis ingin agar perempuan dihargai tak sebatas keperawanan. Keperawanan juga bukan sekadar masalah fisik. Perawan dan tidak perawan terletak pada tekad batin, pada galih di dalammu. Seorang ibu yang sudah melahirkan anak tujuh pun, bila dia suci dalam pengabdiannya selaku istri setia dan ibu, dia pun perawan dalam arti yang sejati (hlm. 24).

Dari keberhasilan Mendut melunasi upeti yang diminta Wiraguna. Perempuan pun diharapkan berdaya menjadi pahlawan bagi kaumnya sendiri. Agar perempuan tak lagi hanya lumpur sawah yang bertugas menumbuhkan padi. Dihargai, namun diinjak-injak kerbau dan dicangkul petani. Yang dipuja puji hanya keindahan petak-petak sawah saja (hlm. 249).

Rara Mendut berhasil menampilkan sosok Romo Mangun yang peka, jenius, juga arif dalam usahanya mengangkat harkat dan martabat perempuan. Kesalahan kecil dalam biografi penulis --tertulis ia wafat Januari 2000, seharusnya 10 Februari 1999-- tak mengurangi layaknya novel ini melintas zaman dan generasi, sebagai legasi sastra berharga dari Romo Mangun untuk dinikmati dan dimaknai.

(mmu/mmu)