Meluruskan Makna Jihad (36)

Memelihara Citra Dalil-Dalil Agama

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 17:00 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Suatu ketika terjadi pemandangan menarik di sebuah pasar tradisional di Timur Tengah. Seorang penjual madu dagangannya laris manis karena dipoles dengan hadis, ditambah dengan ayat yang dikutip dari Surah al-Nahl (lebah madu). Hadis tentang madu memang pernah ada, yaitu: al-'Asal da'u kulli dawa' (madu mengobati berbagai macam penyakit). Penjual madu meneriakkan hadis Nabi SAW di tengah pasar sehingga dalam waktu tidak lama dagangannya habis.

Di samping penjual madu ada seorang penjual terong hanya bisa termangu menyaksikan pembeli menyerbu dagangan madu di sampingnya, sementara dagangan terongnya tidak ada yang membeli. Rupanya si penjual terong tidak kehabisan akal. Ia pun mengarang sebuah hadis yang isinya mirip dengan hadis yang diteriakkan oleh penjual madu. Ia membuat hadis palsu dan meneriakkannya berulang-ulang:

"Wahai para pengunjung pasar, kemarilah membeli terongku, Rasulullah pernah bersabda: Al-Bazinjan da'u kulli dawa' (terong bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit)." Alhasil, dagangan penjual terong juga laris manis. Hadis palsu tersebut sering dijadikan contoh dari hadis palsu di dalam kitab-kitab ulumul hadits.

Dalam kesempatan lain ketika Megawati Soekarnoputri mencalonkan diri sebagai presiden di masa lalu, sebuah spanduk raksasa yang berisi hadis Nabi terpampang di sebuah kampus besar: Lan yufliha qaumun wallau amrahum imraatan (Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya diurus oleh seorang perempuan). Di tempat lain dipajang spanduk isinya ayat Al-Quran: Al-Rijal qawwamun 'ala al-nisa' (Laki-laku pemimpin bagi perempuan - Q.S. al-Nisa'/4:32).

Jelas tujuan spanduk-spanduk dan brosur itu bertujuan mencekal Megawati sebagai calon presiden. Perolehan suara Megawati tergolong kurang di kawasan itu. Secara terselubung hingga saat ini dalil-dalil agama masih sering dipolitisasi untuk "menembak" seseorang atau sekelompok orang. Bukan hanya dalam dunia politik, tetapi juga dalam dunia bisnis. Ada produk-produk dipoles dengan ayat atau hadis, tetapi pada merek lain dijadikan sasaran kampanye hitam untuk menjatuhkan produk itu.

Perang antara kelompok radikal dengan kelompok liberal juga menggunakan ayat dan hadis. Kesemuanya ini menunjukkan begitu gampang orang mencapai sasarannya dengan polesan dalil-dalil agama. Yang paling menyedihkan, kalimat-kalimat suci diucapkan untuk mengeksekusi secara kejam orang-orang yang dianggap musuhnya, seperti kita saksikan di media-media sosial tentang perlakuan ISIS terhadap tawanan perangnya.

Dalil-dalil agama juga pernah dipopulerkan secara parsial dalam kurun waktu tertentu di zaman Orde Baru untuk menekan angka kelahiran anak. Ayat-ayat dan hadis, termasuk kitab-kitab agama lain, yang mendukung BKKBN dipublikasi sedemikian rupa. Bahkan diikutsertakan para ulama dan para tokoh agama untuk mengkampanyekan kesuksesan Program Keluarga Berencana.

Hasilnya memang luar biasa. Dalam waktu singkat Indonesia berhasil meraih berbagai international award dalam pengendalian jumlah penduduknya. Contoh terakhir bisa ditolerir, tetapi contoh-contoh sebelumnya adalah contoh negatif. Sudah saatnya kita memelihara kemurnian misi ajaran agama melalui pemeliharaan citra dalil-dalil agama.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)