Kolom

Sepak Bola, Jajanan Sekolah, dan Literasi Budaya Konsumsi

Bagus Mustakim - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 14:28 WIB
jajanan SD
Foto: Istimewa
Jakarta -

Hadirnya Shin Tae-yong sebagai pelatih timnas sepak bola Indonesia diiringi kritik terhadap kualitas fisik pemain. Pelatih Shin Tae-yong mencermati daya tahan pemain timnas yang tidak bisa bermain konsisten selama 90 menit. Salah satu yang disorot oleh pelatih dari Korea ini adalah kebiasaan pemain dalam mengonsumsi makanan yang tidak mendukung kebugaran seorang atlet sepak bola. Banyak pemain timnas yang abai terhadap pola konsumsi. Akibatnya bakat-bakat alam mereka semakin lama kian memudar digerogoti makanan yang mereka makan.

Sampai saat ini, mayoritas pemain sepak bola Indonesia berasal dari sekolah sepak bola (SSB), bukan pemain didikan akademi. Pagi hari mereka sekolah di sekolah formal, siang sampai sore bermain dan belajar sepak bola di SSB. Dari SSB inilah bakat-bakat mereka terpantau oleh para pemandu bakat yang biasanya turun memantau berbagai turnamen SSB. Terkadang pihak SSB yang berusaha mempromosikan bakat anak asuhnya ke para pemandu bakat atau klub untuk diikutkan seleksi.

Proses rekrutmen semacam ini menyisakan masalah dalam hal kebiasaan di luar lapangan. Para pelatih SSB dan pemantau bakat hanya melihat bakat alam yang dimiliki oleh para pemain. Mereka mengabaikan kebiasaan di luar lapangan, salah satunya pola makan yang sangat berpengaruh kepada kebugaran. Pola makan anak-anak ini sudah terbentuk sejak di keluarga dan sekolah. Sementara pola makan dalam keluarga dan sekolah dipengaruhi oleh kultur dan budaya konsumsi masyarakat yang bisa dikatakan tidak sehat.

Dimulai dari Jajanan Sekolah


Kondisi jajanan sekolah sering mendapat sorotan dari beberapa pihak, termasuk dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). BPOM di berbagai daerah sering menyampaikan masih banyaknya jajanan sekolah yang masuk kategori tidak sehat. Jajanan sekolah rata-rata didominasi makanan-makanan dengan warna dan rasa yang menarik perhatian. Sebagian jajanan itu dijual di kantin sekolah, sementara sebagian lain dijual oleh para penjaja makanan di sekitar sekolah.

Rata-rata sekolah abai terhadap persoalan ini. Tidak ada kebijakan yang sinkron antara pendidikan dengan jajanan yang beredar di sekolah dan sekitarnya. Paling-paling sekolah hanya mengingatkan peserta didiknya agar tidak jajan sembarangan. Tapi peringatan ini tentu kalah dengan daya tarik jajanan yang memanjakan lidah dan mata para peserta didik. Seolah-olah masalah jajanan bukan persoalan urgen yang harus diperhatikan pihak sekolah.

Orangtua juga tidak terlalu peduli dengan persoalan ini. Mayoritas orangtua tidak memberikan perhatian serius terhadap pola jajan anak-anaknya. Mungkin saja sekali tempo ada yang mengingatkan agar hati-hati ketika jajan. Tapi peringatan itu tidak sampai membentuk sikap disiplin dan pola konsumsi yang sehat. Daya tarik jajanan lebih kuat dari peringatan yang ala kadarnya. Bagi anak-anak, rasa penasaran terhadap rasa enak dan warna yang menarik akan lebih kuat untuk diikuti dari pada pesan-pesan normatif yang disampaikan oleh orangtuanya.

Kebiasaan jajan sembarangan ini pada akhirnya membentuk pola konsumsi yang tidak sehat. Sejak dini, anak-anak hanya mementingkan rasa dan kepuasan. Mereka tidak diarahkan untuk peduli terhadap kandungan jajanan yang mereka makan. Pola konsumsi yang mementingkan rasa enak dan rasa suka ini kemudian menjadi gaya hidup yang sulit diubah. Termasuk pada saat mereka masuk dunia atlet. Bisa jadi selama di mess atlet mereka disiplin dengan makanan yang dipersyaratkan. Tapi pada saat di luar mess, lidah mereka tidak bisa menahan godaan makanan yang sudah terbiasa dikonsumsi.

Harus diakui bahwa mayoritas sekolah kita memang tidak memiliki kepedulian terhadap jajanan di lingkungan sekolahnya. Mungkin ada satu atau dua sekolah yang berbeda, tapi jumlahnya tidak signifikan. Ada pula sekolah yang berlabel sekolah sehat atau sekolah adiwiyata. Tapi di banyak kasus, ada sekolah-sekolah berlabel sekolah sehat dan adiwiyata tapi tidak konsisten dengan label yang mereka miliki. Bahkan ada juga sekolah yang mengimplementasikan label sekolah sehat dan adiwiyatanya itu hanya ketika proses penilaian. Setelah itu kembali ke kebiasaan semula.

Literasi Budaya Konsumsi


Kualitas sepak bola tidak hanya bisa dibangun di atas lapangan saja. Kualitas itu harus ditopang dengan kultur dan budaya yang mendukung. Salah satunya adalah budaya konsumsi sehat. Dalam hal ini sekolah harusnya mampu menjadi yang terdepan dalam membangun budaya sehat. Caranya, seperti yang sudah disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim dan menteri-menteri sebelumnya, yakni dengan penguatan literasi budaya.

Dalam konteks ini, harus ada upaya sungguh-sungguh dari pihak sekolah dalam mengembangkan literasi budaya konsumsi dan membangun budaya konsumsi sehat. Namun sekolah jangan terjebak pada formalisme administratif seperti yang selama ini membelenggu pendidikan kita. Jangan sampai literasi budaya konsumsi ini hanya diisi dengan kegiatan membaca buku yang formalistis. Harus ada reproduksi budaya konsumsi sehat di sekolah, sehingga peserta didik memiliki persepsi, pemikiran, dan tindakan yang sejalan dengan budaya konsumsi sehat.

Sejauh ini ada tiga episode merdeka belajar yang sudah digulirkan oleh Mendikbud. Tiga-tiganya belum ada yang menyentuh persoalan budaya sekolah seperti ini. Entah di edisi yang ke berapa Menteri Nadiem akan memberikan sentuhan milenialnya untuk membongkar persoalan semacam ini. Sementara kebutuhan agar pendidikan mampu membangun budaya yang mendukung prestasi bangsa, khususnya sepak bola sudah sangat mendesak.

Timnas Indonesia, khususnya yang senior, sudah terlalu lama puasa gelar di kancah internasional. Bahkan gelar juara AFF saja belum pernah sekalipun diboyong ke Indonesia. Apalagi berbicara Piala Asia dan Piala Dunia. Untung saja takdir agak memihak bangsa Indonesia sehingga tahun 2021 yang akan datang, insya Allah kita bisa menyaksikan Timnas U-20 tampil dalam gelaran Piala Dunia.

Bagus Mustakim
pengawas sekolah; mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

(mmu/mmu)