Meluruskan Makna Jihad (33)

Menegakkan Keadilan dan Hukum

Nasaruddin Umar - detikNews
Selasa, 18 Feb 2020 18:00 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Ada sebuah hadis panjang diungkapkan oleh Imam al-Nawawi dalam kitab Riyadh al-Shalihin, kitab wajib bagi setiap santri di Indonesia. Hadis-hadis yang terpilih di dalam kitab hadis ini telah melalui seleksi ketat, semuanya adalah hadis sahih, khususnya koleksi hadis Imam Bukhari dan Muslim yang dikenal perawi yang amat ketat. Komposisi dan tata urutan hadis juga ditata sedemikian rupa sehingga secara psikologis orang yang membaca dan menghayati isi kitab ini akan mengalami pencerahan.

Hadis itu menceritakan seorang laki-laki penjahat yang sangat brutal. Suatu hari ia mencari seorang ulama untuk berkonsultasi. Akhirnya ia ketemu seorang ulama lalu ia bertanya: "Apa masih ada kemungkinan Tuhan memaafkan dosa-dosa saya, masih ada kemungkinan saya masuk surga?" Sang ulama bertanya: "Dosa-dosa apa saja yang engkau pernah lakukan?" Dijawab: "Semua dosa-dosa paling besar saya pernah lakukan, seperti merampok, memperkosa, bahkan sudah membunuh 99 orang".

Sang ulama terkaget-kaget mendengarkan cerita itu. Sang ulama menjawab: "Jangankan membunuh 99 orang seorang saja orang yang engkau bunuh pasti engkau masuk neraka." Mendengarkan jawaban itu, si penjahat itu menghunus pedangnya dan menebas leher sang ulama itu, maka jadilah 100 orang yang dibunuhnya.

Si penjahat dengan tenang meninggalkan tempat itu lalu bertanya lagi kepada orang, apakah masih ada ulama lain ditempat ini, lalu ditunjukkan seorang ulama di luar perkampungan itu. Alhasil, si penjahat menuju ke tempat ulama yang kedua. Entah apa yang terjadi di tengah jalan si penjahat terjatuh dan meninggal dunia saat itu.

Tidak lama kemudian muncul malaikat penjaga neraka mengatakan, sudah lama saya tunggu-tunggu kedatanganmu. Tidak lama kemudian muncul juga malaikat penjaga surga mengatakan, ini bagianku. Lalu kedua malaikat itu bertengkar memperebutkan si penjahat. Malaikat penjaga neraka mengatakan, bagaimana mungkin penjahat kelas berat ini menjadi bagianmu? Dijawab malaikat penjaga surga: Dia kan sudah menunjukkan bukti kesadaran untuk bertobat, sudah berjalan jauh mencari tempat pertobatan.

Tidak lama kemudian datang malaikat hakim yang diutus Tuhan untuk melerai polemik kedua penegak hukum itu. Jalan keluar yang ditawarkan mengukur jarak perjalanan si penjahat. Berapa langkah dari rumah ulama yang dibunuh dan berapa langkah lagi ke rumah ulama kedua yang dituju si penjahat itu. Setelah ketiganya melakukan pengukuran, maka ditemukan satu langkah lebih dekat ke rumah ulama kedua.

Malaikat hakim memenangkan malaikat penjaga surga, kemudian si penjahat waktu hidupnya ternyata terbukti telah melakukan pertobatan yang tulus lalu tobatnya diterima oleh Allah, kemudian ia menikmati surga.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)