Sentilan Iqbal Aji Daryono

Matinya Informasi di Tangan Youtuber

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 18 Feb 2020 17:03 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Yang kukhawatirkan justru bagaimana nasib dunia informasi beberapa tahun lagi di Indonesia, Bro. Ini mengerikan. Yang rugi masyarakat kita sendiri. Hancur. Benar-benar hancur."

Saya tertegun menyimak kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut lelaki di hadapan saya. Tadinya saya mengira dia cuma mau mengobrol soal bisnis, perkara-perkara duniawi sejenis perburuan uang dan harta karun. Tapi buntutnya jadi jauh lebih serius daripada itu.

Tiba-tiba, saya merasa sedang berhadapan dengan sosok pengayom yang memendam kegundahan altruistis penuh kemuliaan, tak bedanya dengan para SJW yang saya kenal. Sialnya, kali ini saya tidak bisa membantahnya. Orang ini benar. Seratus persen benar.

***

Saya membetulkan posisi duduk saya. Langit Surabaya sore itu terasa ganjil. Satu jam sebelumnya amat cerah, ditemani udara yang begitu gerah. Tapi pada menit-menit berikutnya, awan mendung datang bergulung-gulung. Sampai kemudian sebutir dua butir air besar-besar mulai menimpa atap kanopi di warung kopi tempat kami berjumpa. Saya curiga, perubahan cuaca yang cepat itu terjadi memang karena galaunya hati kawan saya tadi.

Di tengah suara pletok-pletok hujan lebat yang mulai menampari sekujur wajah Surabaya, kawan saya melengkapi lagi ceritanya.

Dia memulai dengan gambaran bagaimana media online yang dia kelola memutuskan tutup buku. Sebelumnya, telah ada banyak media lain yang mendahului. Musababnya tentu saja seretnya oli untuk menjaga laju mesin penggerak media-media itu. Para investor tak lagi percaya bahwa ada potensi bisnis yang bikin ngiler dari media-media yang selama ini mereka hidupi. Di saat yang sama, pemasukan iklan, apalagi sekadar AdSense, tak bisa dijadikan sandaran. Itulah kenapa media yang digarap kawan saya itu menyusul pula.

"Media Anu saja ternyata cuma mampu menutup seperempat dari kebutuhan biaya mereka dari pemasukan iklan lho. Gimana coba? Jelas nasib semua media yang start up kritis sekali. Jauh dari bayangan semula."

Saya manggut-manggut takzim. Saya tahu, kawan saya itu tidak sedang memikirkan dirinya. Ada belasan bisnis yang dia jalankan, sedangkan media online yang gulung tikar itu cuma camilan. Dia sedang memikirkan, mmm, anu, bangsa Indonesia.

Sembari manggut-manggut itu, otak saya menelusur lagi, dari mana semua ini bermula.

Iklan memang sumber makanan utama media-media. Bersama informasi-informasi yang dibutuhkan publik luas, media menyajikan iklan pesanan industri, dan industri membayar ruang iklan itu. Setelah ada Google di dunia ini, banyak industri beriklan lewat jalur AdSense, membayar ke Google, dan media mendapatkan pembagian keuntungan dari Google. Belum lagi iklan yang dipasang Google lewat mesin pencarinya.

Dengan senjata algoritma, segmen konsumen yang ditembak industri jadi lebih terfokus, iklan dan pemasaran jadi lebih efektif, meski media hanya mendapatkan sharing yang lebih sedikit dibanding ketika dulu mereka langsung bertransaksi dengan industri.

Maka, jumlah iklan di media konvensional menurun, jumlah industri yang beriklan langsung ke media pun ikut merosot. Muncullah kemudian roda perekonomian dunia yang digelindingkan oleh klik jempol-jempol kita. Klik ibu jari kita membentuk traffic alias lalu-lintas kunjungan, traffic yang tinggi berarti akses atas iklan yang juga tinggi, dan akses yang tinggi kepada iklan berarti sharing keuntungan dari Google semakin banyak.

Imbasnya, model permainan berbasis jempol seperti itu memunculkan media-media murahan yang menghamba kepada klikbait, bahkan tanpa malu bikin hoaks hanya demi berebut klik. Berita yang disajikan pun memelintir urusan-urusan yang paling mudah memancing sentimen dan emosi personal, khususnya terkait agama, politik, dan kesehatan. Dalam kondisi emosi, siapa yang masih mampu mengerem jempol?

Sebagian media yang meminggirkan etika itu kemudian larut pula dalam polarisasi politik yang pernah terjadi (atau masih?) di negeri kita, turut bermain di sana demi menggaet segmen pembaca fanatik dan otomatis pengeklik iklan fanatik. Dan, semua itu berpadu dengan rendahnya literasi media di kalangan masyarakat awam.

Akibatnya, lambat laun kepercayaan publik kepada media mulai tergerus. Lubang ketidakpercayaan itu diisi dengan cepat oleh aktor lain. Siapa lagi kalau bukan media sosial?

Bagi publik awam, informasi ya informasi, setara saja bobotnya. Mereka tak paham kualifikasi informasi. Mana informasi yang akurat dan mana yang mencurigakan, mana yang sesuai standar jurnalisme dan mana yang asal ditulis, apalagi tentang media mana yang punya rekam jejak terpercaya dalam akurasi informasi dan mana yang ngehek, mereka tidak paham.

Sialnya, pendidikan di sekolah dan pendidikan publik di masyarakat luas pun tak ada yang secara serius menyebarkan pemahaman soal-soal itu. Hasilnya, banyak sekali akun media sosial yang jauh lebih dikenal dan dikunjungi publik daripada media massa alias lembaga pers. Akun-akun Instagram dengan follower ratusan ribu, akun Youtube dengan subscriber puluhan juta, jadi lebih sering menyedot pandangan mata. Apa efeknya?

Efeknya jelas sekali dalam mekanisme pasar seperti ini: iklan-iklan pindah ke medsos. Industri menggelontorkan uang mereka ke akun-akun medsos, alih-alih ke media massa penyedia informasi.

Dua pekan lalu saya pergi ke Wonosobo, ditemani seorang sopir hebat berpengalaman tinggi. Namanya Rusli. Selain mantan aktivis pers mahasiswa, dia sekarang juga sangat aktif di Youtube. Maksudnya, aktif sebagai penonton. Menurut pengakuannya, tak jarang dia menghabiskan waktu delapan jam lebih setiap hari hanya untuk menonton video-video nggak jelas yang tersebar di Youtube.

Saya merasa perlu menyebut fakta bahwa Rusli kecanduan Youtube, hanya untuk menegaskan kompetensi profesionalnya sebagai seorang pemerhati. Dari situ saya jadi percaya ceritanya.

"Mas, tahu nggak, Mas. Kemarin, perusahaan otomotif Yang Itu meluncurkan produk mobil baru. Nah, mereka tak lagi mengundang satu pun media massa untuk meliput! Sekarang memang sudah semakin sedikit yang mau mengundang media. Lha wong bakalan lebih efektif kalau yang diundang Youtuber, kok."

Awalnya, saya tak terlalu menyimak cerita Rusli. Namun sekarang, saya paham, lanskap akan segera berubah total. Bukan hanya lanskap pemasaran dan dunia bisnis, namun juga lanskap informasi dan pengetahuan.

***

Saya pun kembali memandangi wajah ganteng kawan saya, di bawah guyuran hujan yang semakin keras menghajar Surabaya.

Di balik pandangan matanya yang menerawang jauh, saya melihat aliran uang dari industri lari semua ke medsos, ke para selebgram, selebtwit, juga seleb Youtube dengan jutaan pengikut. Media-media massa semakin kehilangan sumber iklan, para penggeraknya mulai kehilangan sumber penghidupan, nasib informasi dan berita yang layak baca pun semakin mengkhawatirkan.

Di sebelah sana, para seleb menangguk banyak uang yang bisa membuat mereka hidup mewah, dan kita terus menonton saluran mereka dengan gembira. Sambil berjam-jam menonton Youtube berisi prank atau unboxing produk, kita tidak menyadari bahwa ada saatnya nanti kita tak lagi punya kesempatan untuk mengakses informasi bermutu tinggi.

"Di luar negeri situasi seperti ini memang sudah berjalan, Bal. Akhirnya masyarakat di sana bertahan dengan media-media yang lebih mengabdi kepada publik, dengan sistem donasi. Publik percaya dengan kredibilitas media terkait, merasa membutuhkan informasi akurat, dan mau menyumbangkan uang demi tujuan itu. Kukira nanti mau tak mau kita akan berjalan ke arah sana," kata kawan saya itu, kemudian menyeruput tetes terakhir vanilla latte-nya.

Saya kembali manggut-manggut penuh kepercayaan. Sampai kemudian saya kaget sendiri.

Lho, Cak sejak kapan masyarakat kita mau memberi harga yang pantas untuk informasi dan pengetahuan? Lihat saja, orang pada pamer di Instagram habis makan mahal dan jalan-jalan, tapi giliran beli buku milihnya yang murah meski bajakan. Macam gitu mau diajak berdonasi sukarela untuk membaca media massa?

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)