Kolom

Puisi dalam Kuasa Simbolik Sastra Indonesia

Arif Gumantia - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 13:08 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Ahmad Fauzan Kamil/detikcom
Jakarta -

Ada anggapan saat-saat ini, terutama dengan maraknya media sosial, puisi tak lebih dari sekumpulan kata-kata aneh yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, hingga beranggapan bahwa puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman dalam memahami puisi.

Puisi berasal dari kata Yunani poiesis,  poiein, yang artinya menemukan, menciptakan. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri, dan bagaimana mencari jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan atau penting.

Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya.

Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi untuk mengomunikasikan kebaruan-kabaruan itu; masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka.

Karena relevan dengan kehidupan, maka metafor-metafor yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi, semakin rumit metafor maka semakin bagus puisi tersebut. Selain itu karena puisi adalah bagian dari seni tentu metafor tersebut mempunyai nilai estetika.

Kita sering terjebak dengan pemahaman nilai estetika ini, dengan jargon-jargon bahwa estetika itu universal, keindahan yang berlaku untuk semua. Padahal, menurut Arief Budiman, estetika itu sangat tergantung pada konteks ruang dan waktu. Dan menurut saya pernyataan Arief Budiman ini benar; suatu estetika puisi di sebuah daerah yang kental dengan tradisi Melayu, dengan gaya bahasa arkaik Melayu, belum tentu juga bisa dirasakan keindahannya oleh mereka yang berasal dari kebudayaan Jawa.

Atau, puisi-puisi lirisnya Sapardi Djoko Damono misalnya, belum tentu juga terasa keindahannya bagi masyarakat kelas rakyat jelata seperti buruh dan petani. Oleh karena itu estetika itu terikat oleh konteks ruang dan waktu, sekaligus kondisi sosial masyarakatnya.

Lalu kenapa di dalam sastra kita ini, khususnya puisi-puisi yang marak dipelajari dan akhirnya dituliskan adalah jenis-jenis puisi yang mengusung konsep "humanisme universal", dengan estetika yang seragam? Untuk menjawab pertanyaan ini, bisa kita gunakan teori Pierre Bourdieu, yaitu Teori Arena Produksi Kultural.

Pierre Bourdieu menyatakan atau mempublikasikan pertama kali pada Jurnal Poetics (Belanda) bahwa arena sastra merupakan sebuah situs. Jadi, menganalisis arena sastra adalah menganalisis situs yang di dalamnya terdapat posisi-posisi. Posisi-posisi tersebut dapat bertahan bergantung pada modal yang dimiliki dan keberbedaannya.

Sebuah karya seni menjadi bagian dari arena pengambilan posisi, sedangkan penulisnya menjadi bagian dari arena posisi-posisi. Ukuran keberhasilan seorang penulis adalah ketika memenangkan laba eksternal dan laba spesifik atau prestise sastra.

Makna dari pernyataan Bourdieu di atas bahwa arena sastra adalah arena kekuatan, sekaligus arena pergulatan (konstestasi simbolik) untuk memperebutkan posisi sebagai sastrawan yang terlegitimasi. Untuk itu, diperlukan strategi dan pengambilan posisi yang tepat. Kedua pernyataan Bourdieu di atas merupakan konsep dasar teori tersebut.

Kedua konsep tersebut operasionalisasinya melalui; pertama, habitus --selain tentunya modal dan strategi. Kedua, struktur sosial dan posisi sosial penulis yang berpengaruh pada praktik sastranya. Ketiga, konstruksi arena sastranya. Sebab posisi arena sastra selalu dalam arena kekuasaan atau terdominasi oleh ekonomi dan politik. Walaupun di sisi lain arena sastra juga tidak tunduk pada kekuasaan tersebut.

Jadi dalam arena sastra ada pergulatan-pergulatan untuk memenangkan ide-ide dan karya-karya sastra tersebut yang dinamakan sebagai kontestasi simbolik oleh Pierre Bourdieu, sedangkan para pemenang kontestasi simbolik tentu akan mempertahankan dengan menggunakan apa yang dinamakan kuasa simbolik.

Kuasa simbolik adalah kuasa untuk mengubah dan menciptakan realitas, yakni mengubah dan menciptakannya sebagai sesuatu yang diakui, dikenali, dan juga sah. Dalam kontestasi simbolik di arena sastra Indonesia, di Indonesia ada dua kelompok besar dalam arena sastra Indonesia, menurut Ariel Heryanto.

Kelompok pertama, jika ditanya dari mana datangnya "sastra", akan menjawab dari batin, sedang kelompok kedua akan menjawab dari kehidupan sosial. Yang pertama pada umumnya menganut pandangan sastra universal, dan kelompok kedua adalah pandangan sastra kontekstual. Kalau kita amati saat ini, yang menjadi pemenang saat ini adalah Sastra Universal, dengan jargon estetika adalah universal dan seni untuk seni.

Sebagai pemenang kontestasi tentu karya-karyanya menguasai media massa, festival sastra, pengajaran-pengajaran di pendidikan formal maupun informal tentang sastra. Hal inilah yang menurut Arief Budiman membuat adanya dominasi pemikiran dalam kesusastraan Indonesia. Hal ini mengakibatkan perkembangan sastra Indonesia tidak sehat.

Ketika estetika dimonopoli apresiasinya, maka estetika dalam puisi yang diciptakan dari metafora-metafora kondisi sosial masyarakat seperti kemiskinan, penindasan, dan eksploitasi milai-nilai kemanusiaan jarang kita temui dalam puisi-puisi masa kini. Dulu masih bisa kita temukan dalam karya-karya Rendra dan Wiji Thukul.

Selain itu terlihat bahwa sastra universal mendapat "restu" dari pemerintah dengan memberi penghargaan lewat festival-festival, legitimasi-legitimasi spesifik para sastrawannya, dan juga dimasukkan dalam contoh di buku-buku pengajaran sastra di sekolah.

Dalam kondisi arena sastra Indonesia seperti itu harusnya dua kelompok tersebut tetap diberi porsi yang sama untuk terus tumbuh dan berkembang, agar kreativitas penciptaan puisi lewat estetika metaforanya menjadi kian beragam, baik sastra universal maupun kontekstual. Sehingga bisa menjadikan puisi sesuai dengan artinya yaitu mencipta dan menemukan yang signifikan dengan kehidupan, yang bermuara pada kesusastraan Indonesia yang tidak terasing dari dirinya sendiri dan masyarakat sekitarnya.

Arif Gumantia Ketua Majelis Sastra Madiun

(mmu/mmu)