Pustaka

Memaklumi Putri Marino

Udji Kayang - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 12:00 WIB
putri marino
Foto: Bentang Pustaka
Jakarta -

Judul: Poem PM; Penulis: Putri Marino; Penerbit: Bentang Belia, Januari 2020; Tebal: viii + 104 halaman

Segera setelah buku Poem PM terbit, keramaian terjadi di media sosial. Warganet ramai-ramai mengkritik --meski lebih tepat dibilang nyinyir atau mengatai-- buku artis Putri Marino (selanjutnya ditulis PM) itu. Poem PM terbit berkemasan mewah: hardcover, full colour, dan berpita pembatas. Halaman kolofon menunjukkan betapa banyak pihak yang terlibat pengerjaan buku PM. Untuk sekadar mengurusi teks PM saja, dilibatkan seorang penyunting, dua orang pemeriksa aksara, dan dua orang penata aksara --total ada lima orang!

Sementara, untuk mengurusi visual, tiga orang dilibatkan: seorang ilustrator untuk isi buku dan dua orang perancang sampul. Bagaimana desain sampulnya? Sembilan foto dokumentasi pribadi PM disusun "tiga kali tiga" menjadi komposisi dasar kover yang, dalam pandangan saya, terasa mirip "best nine" ala Instagram. Di atas judul dan nama pengarang, ada kutipan teks PM yang dipajang: angan-anganku senang berada di sini/ terkadang sampai lupa/ pulang ke kepalaku.

Keterlibatan banyak orang, juga kemasan yang mewah, menunjukkan betapa buku PM digarap dengan sangat serius. Semesta, meminjam diksi yang sangat sering dikutip PM, seakan-akan merestui dan mendukung keoptimalan penerbitan Poem PM. Namun, sayangnya semesta yang lain, yakni para pembaca (kebanyakan), memberikan respons yang barangkali mengecewakan PM. Alih-alih mendukung, mereka lewat media sosial ramai-ramai mengatai teks-teks PM sebagai "puisi buruk", bahkan ada yang keterlaluan jahat mengharapkan PM berhenti menulis.

Saya tidak sepenuhnya mengamini respons-respons pembaca PM. Sedikit-banyak penilaian mereka saya sepakati, tetapi ekspresi mereka di media sosial bagi saya terasa berlebihan dan kadang tidak relevan. Semua orang berhak menulis, seburuk apa pun itu. Beberapa orang memang punya privilese menerbitkan teks buruk, dan sebagian orang sulit mendapatkan kesempatan, sekalipun ia menulis teks yang sangat bagus. Hidup memang tidak adil, kita dipaksa menerima itu.

Ketidaksepakatan utama saya terhadap respons-respons pembaca PM terutama terkait sebutan "puisi buruk". Saya sama sekali tidak memandang teks PM sebagai puisi (dan sepanjang ulasan ini saya hanya akan menyebutnya "teks"), dan pandangan saya rupanya diamini pihak penerbit. Di sampul belakang Poem PM, tepatnya di atas kode batang (barcode) dan nomor ISBN, tertera kategori buku PM adalah "cerita inspirasi" --sama sekali bukan puisi!

Saya kira, kita mesti lebih adil dalam menilai Poem PM. Cara paling mudah tentu dengan serta-merta menerima PM sebagai selebritas, bukan penyair, yang dengan kata lain tidak perlu meninggikan ekspektasi. PM tidak pernah menempuh pendidikan sastra, dan mudah menyangsikan ia bergaul di lingkungan sastrawan. Saya membayangkan ia terlibat pergaulan selebritas yang dalam keseharian berbahasa kosmopolitan: Indonesia-Inggris.

Saya memilih memaklumi status PM sebagai selebritas. Pemakluman itu membuat saya sedikit lebih apresiatif terhadap Poem PM. Keberanian PM untuk menulis dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, mengingat pergaulannya kosmopolitan, dan rekan-rekan selebritasnya cenderung memilih bahasa Inggris dalam kekaryaan literer mereka. Diksi PM sangat terbatas. Struktur kalimat yang ia bikin aneh --tentu bukan aneh yang "sastrawi" seperti Afrizal Malna dan penyair-penyair unik lain.

Untuk menjadi penyair, bahasa Indonesia PM dapat dibilang masih sangat jauh dari siap. Toh, ia berani tetap menulis dalam bahasa Indonesia! Bukan hanya itu, PM juga mengajak pengikut akun media sosialnya untuk berani mengekspresikan perasaan dalam bahasa Indonesia. Terhitung ada dua belas akun yang urun kata-kata pada bab terakhir Poem PM. Kepada mereka, PM menulis: DARIMU,/ UNTUK SEMESTA// Terima kasih untukmu/ yang sudah ikut berbagi./ Aku harap kau menemukan duniamu.

Apresiasi saya cukup pada keberanian itu. Teks-teks PM, sayang sekali, tetap sulit untuk saya katakan bagus. Simak saja teks PM berikut: Pernahkah kalian melakukan sesuatu/ yang kalian tahu bahwa itu adalah salah/ dan tidak benar, tapi kau tetap melakukannya/ karena kau bahagia dengan hal itu.../ dan kau tahu jika kau berhenti melakukannya/ kau akan menderita dan bersedih?

Saya merasa pantas mempertanyakan kinerja lima --atau setidaknya tiga-- orang yang sudah semestinya bertanggung jawab memastikan teks PM beres!

Kata "salah" dan "tidak benar" itu sepadan, tidak perlu ditulis bersamaan lantas dihubungkan dengan partikel "dan". Kalimat PM termaksud jelas-jelas melewah. Saya yakin, meski barangkali licentia poetica bisa dijadikan dalih, orang-orang peka bahasa semisal Ivan Lanin dan beberapa kawan saya bakal tidak nyaman membaca Poem PM.

Masalah lain dalam teks PM termaksud juga ketidakkonsistenan dia memakai subjek. Dua kali PM menyebut "kalian", tetapi tiba-tiba berubah menjadi "kau". Apakah PM sedang bicara pada orang kedua jamak atau tunggal? Tidak jelas.

Lewah lain yang terjumpai dalam Poem PM adalah penggunaan elipsis. "Elipsis," menurut Harimurti Kridalaksana (1984), "adalah penghilangan sebagian unsur dalam suatu ujaran. Bagian yang dihilangkan dapat diidentifikasi melalui konteks baik konteks bahasa maupun nonbahasa."

Fungsi elipsis, menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia tetapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015: dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan, dan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.

Dalam Poem PM, saya kira tidak ada bagian yang dihilangkan, dan hampir semua teks selesai alih-alih "menggantung". Elipsis tidak begitu diperlukan, dan malah secara estetika terlihat mengganggu. Bayangkan saja, tidak ada satu pun teks PM tanpa elipsis. Manakala menjumpai teks tanpa elipsis di Poem PM, kita pun lekas sadar itu bukan teks PM, dan kita telah mencapai bagian terakhir buku --alhamdulillah-- yang berisi teks-teks sumbangan pengikut media sosial PM.

Saya bisa merasakan PM, melalui teks-teksnya, hendak mengatakan sesuatu yang dalam dan personal, yang bergemuruh dalam dirinya. Namun, kemampuan berbahasa yang terbatas menjadikan teks-teksnya terasa cringe atau meh dalam bahasa anak muda sekarang, atau dalam bahasa saya: wagu.

Barangkali ini klise, tetapi alih-alih menyuruh PM berhenti menulis, artinya menghalangi seseorang mengekspresikan sesuatu yang bergemuruh dalam dirinya, lebih baik menyarankannya membaca banyak referensi dan terlibat pergaulan sastra: supaya suatu saat nanti PM benar-benar menjadi penyair dan benar-benar menulis puisi. Amin.

Udji Kayang editor buku menyambi penulis lepas, penulis buku Keping-keping Kota (2019)

(mmu/mmu)