Kolom Kalis

Memuliakan Perempuan Secara "Ngeblur"

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 14 Feb 2020 13:17 WIB
kalis mardiasih
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pernyataan paling aneh yang pernah saya baca terkait perempuan, mungkin broadcast berikut ini: Perempuan sedang tidur, tapi malaikat mencatat dosanya. Dia sedang shalat, tapi malaikat mencatat dosanya. Dia makan, belajar, sapu rumah, tapi malaikat mencatat dosanya. Dia diam, malaikat pun mencatat dosanya. Apa salah perempuan itu? Ternyata, banyak mata yang melihat foto dirinya di media sosial. Setiap kali pria melihat fotonya, maka di situlah malaikat catat dosa untuknya. Inilah yang disebut dosa jariyah.

Pertama, pernyataan tersebut diucapkan oleh ustaz laki-laki. Oleh karenanya, sifat inferiority complex yang muncul sangat khas laki-laki. Dalam dunia dai yang dipenuhi superstar laki-laki yang penampilannya beragam, mulai dari berpeci, bersurban, berjubah, bertopi gaul, bersyal, hingga bermotor gede, tidak pernah ada pembahasan bahwa dai-dai itu pun berpotensi memiliki dosa jariyah sebab jamaah perempuan menyimpan foto mereka lalu mengaguminya sepanjang hari.

Dulu, ketika masih tinggal di kos binaan Lembaga Dakwah Kampus, sepanjang hari teman-teman perempuan mendengarkan lagu nasyid dari grup laki-laki bersuara mendayu-dayu. Belakangan, ada adik perempuan seorang teman berada dalam kondisi sakit mental sebab ia merasa telah menikah dengan seorang qari tampan bersuara merdu yang setiap hari selama berbulan-bulan ia pandangi di Youtube. Tetapi, tentu saja wajah dan suara laki-laki tidak pernah dibahas sebagai aurat dan tidak pernah diminta mengenakan cadar.

Topik poster kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa dan Lembaga Dakwah Kampus sejumlah perguruan tinggi (sebut beberapa di antaranya UNJ, UGM, UNNES, UNS) yang memberikan efek blur atau mengganti dengan gambar animasi untuk pengurus perempuan sedang mengemuka. Klarifikasi dari pihak ketua BEM menjelaskan keputusan untuk tidak menampakkan gambar diri adalah keputusan para pengurus perempuan sendiri. Jawaban ini menarik, sebab selanjutnya kita bisa bertanya, "Kenapa semua pengurus perempuan meminta gambar dirinya tidak tampak, sedangkan tidak ada satu saja pengurus laki-laki yang meminta wajahnya dihilangkan?"

Dalam semua poster aktivitas BEM dan LDK tampak semua tokoh laki-laki tampil semringah dengan resolusi foto terbaiknya. Gambar tokoh laki-laki berusaha tampil dalam persona laki-laki yang memiliki misi tegas dan masa depan yang gemilang lewat pose berdiri tegak, dua tangan memegang kerah kemeja, atau telunjuk kanan yang menunjuk ke arah penonton bagaikan motivator.

Pemandangan itu menerangkan bahwa yang sebetulnya terjadi bukan penyensoran wajah diri sebagai politik sikap yang personal, melainkan politik lembaga. Terdapat sebuah tradisi untuk meminggirkan perempuan dalam sebuah organisasi mahasiswa yang didominasi wacana pengetahuan laki-laki.

Pada level sebelumnya, perempuan kerapkali diibaratkan sebagai barang. Seperti, perempuan yang memakai jilbab itu mulia seperti permen lolipop yang terbungkus sehingga tidak dikerubuti lalat. Ustaz lain berkata, perempuan yang mulia itu seperti pisang goreng yang dijual di etalase toko mahal, bukan seperti pisang goreng pinggir jalan. Atau, perempuan mulia tidak seperti buah di pinggir jalan yang bebas dipegang-pegang siapa saja.

Ungkapan yang meminggirkan peran perempuan itu melupakan satu hal, yakni perempuan adalah manusia, bukan barang; ia tidak bisa seenaknya dikerubuti para lalat, dipilih-pilih, atau bebas dipegang siapa saja. Perempuan memiliki akal untuk menimbang baik dan buruk dirinya sendiri. Perempuan memiliki suara yang juga harus didengar. Perempuan memiliki sikap politik yang merdeka untuk menentukan martabat dirinya.

Pernyataan semacam itu juga memosisikan laki-laki dalam derajat yang sama, yakni lalat liar yang suka merubung apa saja atau kucing beringas, dalam konteks ketika perempuan diibaratkan seperti ikan asin atau pindang. Laki-laki diturunkan kualitasnya menjadi binatang yang hanya memiliki hasrat untuk menerkam, menyerang. Laki-laki diturunkan kualitasnya menjadi binatang yang hanya memiliki hasrat seksual semata.

Padahal, sama seperti perempuan, laki-laki adalah manusia yang memiliki akal untuk mengontrol kebaikan dan keburukan. Dalam istilah Dr. Nur Rofiah, perempuan dan laki-laki bukan semata makhluk seksual, tapi juga makhluk intelektual dan makhluk spiritual. Kemampuan manusia untuk berpikir dan mengontrol hasrat pribadinya membuat ia seharusnya tidak didestruksi kualitasnya menjadi binatang atau benda yang diobjekkan.

Politik peminggiran perempuan dalam tradisi keilmuan Islam harus diakhiri. Pada abad ke-12, zaman keemasan Islam memunculkan nama Fatima Al Samarqandi. Dia seorang pakar hukum dari mazhab Hanafi. Fatima adalah mentor dari banyak ahli fikih laki-laki pada masanya. Ketika suaminya, Ala Al Din Al Kasani memiliki keraguan saat mengeluarkan sebuah fatwa, Fatima mengoreksi pandangan hukum itu dan menjelaskan kesalahan-kesalahan pemikiran hukum legal sang suami.

Pada abad ke-7, tradisi keilmuan Islam juga mengenal Ummu Darda, seorang sahabat Nabi Muhammad. Ia adalah ahli hukum yang sangat progresif di Damaskus (sekarang Suriah). Ummu Darda adalah seorang yatim perempuan ahli fikih dan hadis yang mengajar laki-laki secara langsung di dalam ruangan laki-laki di masjid. Salah satu khalifah pada masa Bani Umayyah adalah murid Ummu Darda.

Tapi, literatur keislaman tentang Ummu Darda yang saya baca sejak remaja adalah bagaimana kesetiaan Ummu Darda kepada Abu Darda, bagaimana kesabaran Ummu Darda ketika ditimpa ujian, dan lain sebagainya.

Buku-buku tentang perempuan muslim dalam sejarah lebih sering mencatat seorang tokoh perempuan sebagai "istri dari" atau "ibu dari", bukan sebagai dirinya sendiri. Cerita yang dibangun dalam sejarah tokoh perempuan muslim selalu soal ketaatan, ketundukan, kesabaran, kesetiaan menghadapi penderitaan. Potret ini menghilangkan bagian penting dalam proses penulisan sejarah bahwa tokoh perempuan itu adalah subjek penuh yang memiliki suara dan pemikirannya sendiri.

Saya memiliki semacam kepercayaan baik bahwa sejak berabad-abad lalu, sesungguhnya tokoh muslim perempuan juga menyumbang banyak pemikiran dalam wacana Islam dan politik, Islam dan ekonomi, Islam dan ilmu lingkungan, Islam dan kesehatan reproduksi, juga Islam dan sains. Sayangnya, catatan itu tertutup oleh dominasi kepentingan politik maskulin yang mereduksi peran perempuan sebagai istri dan sebagai ibu saja.

Tradisi keilmuan Islam mestinya amat cerah. Tetapi, literatur keislaman di pasar, bahkan hingga hari ini, masih saja dipenuhi oleh cerita-cerita penaklukkan dan pandangan politik Islam ala kerajaan dengan tokoh laki-laki pemimpin perang semata.

Dalam praktik paling kecil di level organisasi yang digerakkan oleh dominasi wacana maskulin, bisa jadi semua kepala departemen adalah laki-laki. Perempuan dapat menjadi pemimpin yang memiliki bawahan sesama perempuan saja, misalnya departemen kemuslimahan, atau peran sebagai sekretaris.

Praktik budaya diskriminasi berbasis gender yang meminggirkan seseorang karena identitas gender harus ditinggalkan. Hal tersebut adalah tradisi jahiliyah pra-kenabian yang tidak sesuai dengan semangat Rasulullah SAW untuk melihat perempuan dan laki-laki berdasarkan amal yang ia perbuat, bukan penanda identitas kelas sosial lain seperti gender, status dan keturunan.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah, aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama

(mmu/mmu)