Analisis Zuhairi Misrawi

Iran dalam Gelora dan Semangat Revolusi 1979

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 13 Feb 2020 11:38 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Tanggal 11 Februari merupakan momen bersejarah bagi warga Iran. Empat puluh satu tahun yang lalu, mereka berhasil menumbangkan rezim otoriter Reza Shah Pahlevi yang saat itu menjadi kaki tangan AS dan Israel, tepatnya pada 1979. Mereka menjadikannya hari dan tahun itu sebagai momen kebangkitan dan pembaruan menuju Iran yang berdaulat berdasarkan spirit Islam ala Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bait, keluarga Nabi. Pada masa itu dikenal dengan istilah Revolusi Islam Iran.

Kini, Iran berdiri tegak dan kokoh di tengah tekanan, sanksi, dan fitnah yang datang bertubi-tubi dari berbagai penjuru dunia. Bahkan Iran mampu meneguhkan perannya yang semakin luas, baik dari segi politik, ekonomi, sains, dan kebudayaan. Gaung revolusi yang digelorakan Ayatullah Imam Khomeini sejak 1979 lalu terus bergelora hingga saat ini di masa kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei.

Ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Imam Khomeini dalam menggaungkan Revolusi 1979. Pertama, prinsip "la syarqiyyah wa la gharbiyyah" dalam politik luar negeri. Iran menggunakan prinsip non-blok, tidak berpihak kepada Barat dan Timur dalam menyikapi dua kekuatan besar dunia yang sedang berseteru saat itu.

Konon, Imam Khomeini mendapatkan inspirasi non-blok itu dari Bung Karno. Intinya, Iran ingin bersaudara dengan siapapun selama dibangun di atas prinsip saling menghormati kedaulatan negara masing-masing. Kesepakatan nuklir antara Iran dan AS pada kepemimpinan Obama menjadi bukti bahwa Iran mau menyelesaikan perseteruan melalui meja perundingan. Tapi semua itu harus dilakukan dengan prinsip kesetaraan dan keadilan, bukan penindasan dan dominasi.

Iran memahami persaudaraan dan persatuan merupakan prasyarat untuk membangun dunia yang berkeadilan. Intervensi yang dilakukan AS sejak berdirinya Israel pada 1948 telah melahirkan perpecahan, penindasan, dan ketidakadilan di kawasan Timur-Tengah dan dunia Islam. Sebab itu, Iran memilih untuk berdiri di tengah, non-blok, agar bisa menyuarakan kebenaran dan kebajikan pada dunia.

Kedua, membumikan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam realitas politik. Dalam lintasan sejarah Islam, upaya untuk membumikan ajaran Nabi dalam realitas politik cenderung direduksi pada upaya memanipulasi ajaran untuk tujuan politik, sebagaimana dilakukan kaum Khawarij dalam doktrin hakimiyyatullah (kedaulatan Tuhan).

Imam Ali bin Abi Thalib selalu mengingatkan kita bahwa langkah Khawarij itu hanya klaim kebenaran dan penuh kebatilan di dalamnya (kalimatu haqqin yuradu bihal bathil). Wajah substansial ajaran Nabi Muhammad SAW yang sejatinya lebih mengemuka, seperti pengembangan ilmu pengetahuan, kasih-sayang, penghormatan pada kaum perempuan, dan lain-lain.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut Syiah Imam Duabelas, maka wajar saja Iran selalu merujuk dan menjadikan ajaran Nabi dan keluarganya sebagai pijakan dalam ranah politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Di samping juga merujuk pada sumber-sumber Islam lainnya dari kalangan Sunni yang meneguhkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Maka dari itu, di Iran saat ini ada sekitar 6.000 masjid yang dikelola oleh kaum Sunni. Di samping ada Kristen Ortodoks, Zoroaster, dan Yahudi. Uniknya, orang-orang Yahudi Iran adalah orang-orang yang memilih untuk tidak eksodus ke Israel. Mereka mendapatkan hak istimewa di parlemen Iran dengan mendapatkan wakil khusus tanpa melalui proses pemilihan.

Itulah wajah Islam Iran yang ramah pada kebhinnekaan agama-agama dan mazhab. Sebab esensi dari ajaran Nabi Muhammad SAW adalah persaudaraan sesama umat seagama dan persaudaraan sesama umat manusia, ciptaan Tuhan.

Ketiga, meneguhkan keberpihakan pada kaum tertindas, khususnya Palestina sebagai satu-satunya negara yang dizalimi sejak kedatangan Israel ke tanah mereka. Imam Khomeini menjadikan hari Jumat setiap akhir bulan Ramadhan sebagai hari al-Quds (yawm al-quds) supaya kita selalu mengingat dan memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Iran merupakan negara yang konsisten membela Palestina serta memfasilitasi gerakan perlawanan terhadap Israel. Masjid al-Aqsha adalah kota suci umat Islam yang harus dilindungi, dan Palestina akan menjadikannya sebagai ibu kota saat merdeka nanti.

Setelah 41 tahun revolusi Islam Iran digemakan, manifesto politik Imam Khomeini masih berkobar, bahkan semakin kuat. Iran memilih untuk berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Iran berutang budi pada Bung Karno, karena telah mendapatkan inspirasi luar biasa untuk membangun negaranya. Sebab itu, kalau kita berkunjung ke Iran, saat kita dikenal sebagai warga Indonesia, maka sosok yang disebut pertama kali adalah Bung Karno.

Iran telah memetik buah dari konsistensinya. Dari segi politik, Iran membuktikan stabilitas politik di tengah gejolak dan gelombang politik yang tidak menentu di kawasan Timur-Tengah. Pemilihan Presiden dan Parlemen berlangsung dengan skedul demokrasi. Tidak bisa dielakkan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara di Timur-Tengah dalam 40 tahun terakhir berhasil menggelar pergantian kekuasaan eksekutif dan legislatif melalui proses yang demokratis.

Dari sektor sains, Iran berhasil melakukan lompatan sains yang luar biasa dengan menggalakkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Investasi Iran dalam sektor ini sangat serius, sehingga eksistensinya semakin diakui dan dihormati negara-negara Barat sekalipun. Kemampuan Iran mengembangkan teknologi nuklirnya telah menyadarkan negara-negara Barat, bahwa Iran tidak bisa dilihat sebelah mata, karena dapat mengancam dominasi mereka, khususnya di kawasan Timur-Tengah.

Dari segi kebudayaan, Iran berada di garda terdepan dalam menjaga khazanah kebudayaan yang sangat luar biasa. Iran mampu membuktikan pada dunia bahwa mereka merupakan salah satu peradaban terbesar di dunia. Di samping itu, Iran mampu melahirkan film-film, musik, dan kesenian lainnya yang bisa bersaing dengan kebudayaan-kebudayaan populer di berbagai belahan dunia.

Dari segi ekonomi, Iran diembargo AS dan sekutu-sekutunya 1979. Meskipun demikian, Iran tidak mundur dan ciut sedikit pun dengan keangkuhan AS. Iran justru mampu melakukan pembangunan infrastruktur dan mencari jalan keluar yang efektif bagi kemandirian ekonomi. Iran percaya dengan persatuan dan kesadaran kolektif untuk membangun kemandirian ekonomi akan mampu keluar dari terorisme ekonomi AS.

Maka dari itu, Iran masa kini merupakan Iran dalam tahap kematangan. Iran yang hidup dalam kesadaran penuh terhadap ancaman dan upaya-upaya yang hendak merongrong posisinya. Menurut Ayatullah Ali Khamenei, Iran menyadari bahwa AS dan sekutunya kerap menggunakan kartu minyak untuk melemahkan posisi Iran. Karenanya, Iran harus terus menggalakkan sektor sains dan riset untuk mendorong percepatan ekonomi di masa mendatang. Kata kunci yang ingin dikembangkan oleh Iran adalah sumber daya manusia dan sains.

Peristiwa kemartiran Qassem Soleimani yang didalangi langsung oleh Presiden AS Donald Trump justru menjadi momentum yang luar biasa bagi Iran untuk terus bangkit dan membuktikan kemampuan Iran menghadapi musuh-musuhnya. Kemampuan rudal-rudal Iran menghancurkan pangkalan militer AS di Irak telah menjadi berita besar di dunia bahwa Iran menjadi negara yang berdaulat dengan kecanggihan persenjataan militernya. Lebih dari itu, Iran semakin solid dan kokoh di bawah kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei sebagai pemegang mandat revolusi, wilayatul faqih.

Iran Masa Kini dirayakan dengan gegap-gempita pada tanggal 11 Februari yang lalu di seantero Iran di bawah rintik-rintik turunnya salju. Ada tantangan dan ancaman dari AS dan sekutunya, tetapi mereka tidak perlu takut dan minder. Iran telah memilih jalannya sendiri untuk menentukan arah negerinya. Dan mereka meyakini, hari ini dan hari esok penuh dengan harapan, kecerahan, dan kebahagiaan.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)