Kolom

Spirit Tashwirul Afkar untuk Pembangunan SDM

Aminuddin Ma'ruf - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 20:00 WIB
Sekjen Samawi Aminuddin Maruf
Aminuddin Ma'ruf (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta -

Tiga dekade sebelum Presiden Sukarno memproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya pada tahun 1914 di Surabaya, seorang tokoh muda pesantren, KH Abdul Wahab Hasbullah (26 tahun) mengajak dua orang rekannya yakni KH Mas Mansur (18 tahun) dan KH Ahmad Dahlan Ahyad (29 tahun) mendirikan sebuah perkumpulan sebagai wadah diskusi dan pemecahan masalah sosial yang bernama Tashwirul Afkar. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti potret pemikiran atau pergolakan pemikiran (Effendi Yusuf, 1983).

Pada awal mula berdirinya perkumpulan ini, forum-forum diskusi hanya bersifat terbatas, hingga akhirnya banyak tokoh lintas organisasi yang bergabung dalam forum di antaranya Syaikh Ahmad Surkati dari Al-Irsyad, R Mangun dari Boedi Oetomo, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan beberapa tokoh nasionalis seperti dr Wahidin Sudirohusodo dan HOS Tjokroaminoto (Maryam, 2013 & Fajrul Muttaqin, 2008). Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1919 Tashwirul Afkar tidak hanya sekadar forum diskusi, tapi bertransformasi sebagai lembaga pendidikan. Hal tersebut merupakan prestasi gemilang para tokoh pesantren yang pada beberapa tahun berikutnya mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (Mansur, 2017)

Tashwirul Afkar dan 4C Skill

National Education Association (2010) memperkenalkan istilah 4C dalam menyusun kompetensi dasar individu abad ke-21, yakni Critical Thinking and Problem Solving, Communication, Collaboration, dan Creativity and Innovation. Hal ini sejalan dengan spirit yang ditunjukkan Tashwirul Afkar selama kiprahnya.

Pertama, Tashwirul Afkar menjadikan critical thinking and problem solving skill sebagai pondasi utama gerakan pemikiran ini. Bagaimana para penggeraknya mampu memotret fenomena agama dan sosial yang ada saat itu dalam perdebatan-perdebatan pemikiran sehingga membuahkan solusi yang tepat untuk memecahkan sebuah masalah.

Trilling dan Fadel (2009) mendefinisikan pemikiran kritis sebagai kemampuan untuk menganalisis dan mengumpulkan informasi. Dan, menurut Sulasamono (2012) pemecahan masalah merupakan bagian dari ketrampilan atau kecakapan intelektual yang dinilai sebagai hasil belajar yang signifikan dalam proses pendidikan.

Kedua, Tashwirul Afkar mempraktikkan communication skill yang baik pada saat itu. Zubaidah (2019) menjelaskan bahwa berbagai masalah dalam pertemanan, keluarga, kehidupan sosial, lingkungan kerja, kehidupan bernegara terjadi berawal dari kegagalan dalam berkomunikasi. Dalam perjalanannya, Tashwirul Afkar berhasil menjadi jembatan komunikasi antarkelompok dan antarusia. Berkat wadah tersebut, mereka mampu bertukar informasi dan menjadi modal yang baik untuk langkah berikutnya, yakni kolaborasi (Fajrul Muttaqin, 2008).

Ketiga, collaboration skill diperlihatkan para anggota Tashwirul Afkar ketika forum diskusi yang mereka dirikan tidak hanya berisi dari satu kelompok, namun dari berbagai kalangan seperti yang sudah disebutkan di atas. Kemampuan kolaborasi ini makin tampak kala Boedi Oetomo, sebagai organisasi nasionalis, melalui anak organisasinya Surya Sumirat, membantu proses legalisasi lembaga Tashwirul Afkar agar tidak diganggu oleh pemerintah Kolonial Belanda. Sehingga nama legal yang diperkenalkan saat itu adalah Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar (Fauzan Alfaz, 2019).

Kemampuan kolaborasi ini sendiri dimaknai oleh Brown (2015) sebagai keterampilan yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan kolektif dalam hal membantu, menyarankan, menerima, dan bernegosiasi melalui interaksi dengan orang lain.

Keempat, creativity and innovation tergambar dari transformasi Tashwirul Afkar yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai wadah diskusi kemudian berubah menjadi lembaga pendidikan. Tashwirul Afkar saat itu hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengenyam pendidikan berjenjang. Hal ini sejalan dengan dengan adagium yang masyhur di kalangan pesantren, al-muhafadhotu 'ala qodim ash-shalih wa al-ahdzu bi al-jadid al-ashlah, yang berarti menjaga nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik. Bahwa Tashwirul Afkar berubah menjadi hal yang baru, tanpa meninggalkan substansinya yang berfungsi untuk mencetak SDM unggul pada saat itu.

Melihat pada fakta sejarah bahwa Tashwirul Afkar yang diprakarsai oleh generasi muda saat itu, telah menghasilkan kontribusi penting pada perjalanan bangsa ini, maka pemuda Indonesia hari ini harus merefleksikannya sebagai spirit kepemudaan. Pula, spirit Tashwirul Afkar pada era lalu kiranya harus mampu memantik seluruh elemen Bangsa Indonesia, baik dari sisi pemerintah, sektor swasta, dan kelompok masyarakat untuk saling bahu membahu menciptakan SDM Indonesia yang maju.

Aminuddin Ma'ruf Staf Khusus Presiden

(mmu/mmu)