Sentilan Iqbal Aji Daryono

Air Mata Seorang Penggila Buku

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 16:59 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Saya mengetikkan kalimat-kalimat ini sambil memandangi rak buku saya. Entah sudah berapa ribu buku yang terpajang di situ, tidak pernah saya menghitungnya. Belum lagi yang di dalam kamar, yang di gudang, juga yang di rumah ibu saya.

Saya seorang penggila buku. Libido saya selalu bergolak melihat buku-buku. Setiap kali saya bertamu ke rumah kawan dan melihat rak bukunya, pasti saya mendekat untuk melihat-lihat dan mengamatinya. Ada masanya, bertahun-tahun, setiap kali saya sekadar mampir ke toko buku, benar-benar tidak pernah saya keluar tanpa membeli sekantong plastik besar penuh buku.

Mohon jangan salah baca dan terkagum-kagum dulu. Saya penggila buku, dan penuh nafsu kepada buku-buku. Tapi saya bukan orang yang cukup tangguh untuk membacanya. Dari sekian ribu buku yang saya miliki, rasanya baru seperempatnya yang sudah saya baca. Bahkan mungkin jauh lebih sedikit lagi. Entahlah. Saya takut memastikan angkanya, sebagaimana saya takut memeriksa lagi angka kolesterol jahat yang melesat tanpa ampun di sekujur jaringan pembuluh darah saya.

Saya takut menyadari kenyataan. Takut menemukan fakta bahwa selama belasan tahun saya hanya menabung kesia-siaan, serta menjalani ribuan hari hanya dalam rangkaian panjang rencana dan keinginan.

Dari sudut-sudut rak buku saya, rintihan itu terdengar samar. Buku-buku itu terisak-isak bersama lelehan kepedihan yang menetes hingga ke lantai. Mereka meratap-ratap, mengemis-ngemis, memohon agar segera dibacai, satu demi satu.

***

Suatu pagi, lebih dari 15 tahun lalu. Di sebuah koran Minggu, saya membaca resensi buku Warisan Arung Palakka karya sejarahwan Leonard Andaya. Buku dengan sampul hijau dipadu biru muda itu tentang pahlawan Bone yang jadi rival Sultan Hasanuddin van Makassar. Perspektif yang ditulis di sana, menurut resensi itu, meruntuhkan semua klaim sejarah resmi tentang heroisme Hasanuddin, yang selama ini diajarkan di buku-buku sekolah.

Begitu senang saya membaca resensi itu. Mungkin karena konten sejarah kritis yang diangkat relatif baru untuk ukuran waktu itu, anti-mainstream, dan tidak Jawa-sentris. Rasanya keren dan rebel, gitu. Yang jelas, saya bertekad bulat harus memilikinya. Harus.

Maka perburuan pun saya lakukan ke toko-toko buku di Jogja. Tapi gagal. "Nggak ada tuh, Mas," jawab mbak-mbak di toko buku Social Agency yang memang pada nggak ngerti soal buku itu. Saya keliling lagi ke toko lain, dan tetap nihil. Belakangan saya paham bahwa kasusnya sederhana, yaitu karena buku itu belum dikirim ke Jogja dari penerbitnya di Makassar, sementara yang ke Jakarta malah lebih duluan tibanya.

Selama masa penantian, saya masih selalu menyempatkan diri mampir dan memeriksa toko-toko buku, kalau-kalau buku biru muda itu sudah nongol. Berkali-kali saya kecewa, berkali-kali juga saya mengecas tekad agar tetap menyala.

Lalu, ini yang paling mengerikan. Buku biru laut bergambar kapal pinisi itu sampai-sampai muncul dalam mimpi saya! Ini benar-benar keterlaluan. Rasanya seumur-umur baru kali itu sebuah buku mengganggu lelap ngorok saya.

Maka demikianlah, tatkala akhirnya pada sebuah sore yang suci saya berhasil menimang buku impian itu di toko buku Social Agency Sagan, Anda bisa membayangkan bagaimana riuhnya puting beliung menghantam-hantam dada saya.

Nah, tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ya, saya membawanya pulang. Membuka-buka sedikit halaman-halamannya. Memajangnya di rak buku saya. Lalu... tidak pernah membacanya. Sampai hari ini.

Kadang saya memang membaca buku sampai tuntas, dengan kecepatan baca kelas siput. Namun, kasus sebodoh Warisan Arung Palakka itu terus saja berulang, terus saja terjadi. Kali ini menimpa novel Taiko karya Eiji Yoshikawa, buku termahal yang saya beli pada masa itu.

Sebagai mahasiswa Sastra Jepang yang juga belajar sejarah dan budaya Jepang, saya mewajibkan diri membaca Taiko. Novel super-tebal itu berlatar sejarah zaman feodal di Jepang pada abad ke-16. Jadilah, dengan memantapkan tekad, saya mulai membacanya. Ada sekitar 1.100 halaman yang saya hadapi, dengan tiap halaman lumayan lebar dan baris-baris yang rapat. Ingin saya mengulang hari-hari indah ketika saya begitu larut dan akhirnya dengan happy ending menuntaskan Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, dua atau tiga tahun sebelumnya.

Seratus halaman pertama. Tiga ratus halaman pertama. Lima ratus. Enam ratus. Entah sudah berapa hari berlalu, atau bahkan berapa minggu. Tujuh ratus. Sembilan ratus. Seribu. Saya ingat, pada sekitar halaman ke-1000 itulah saya melirik sebuah buku lain, tergoda membuka-bukanya, lalu membacanya, melanjutkannya sampai jauh, pindah ke buku lain, pindah lagi ke buku yang lain lagi, sampai kemudian Taiko yang tinggal tersisa seratus halaman itu tak pernah terselesaikan lagi. Sampai hari ini.

Ah, mungkin saya memang ditakdirkan sebagai seorang aquarian yang rapuh, tak tahan godaan, dan selalu gagal menolak keindahan.

Saya sangat suka buku-buku sejarah, meski tidak pernah berhasil menguasai dan mengingat isinya. Saya membeli banyak sekali buku sejarah Nusantara, mulai karya De Graaf, Ricklefs, Robert Cribb, sampai Rudolf Mrazek. Dengan koleksi sebanyak itu, alangkah nistanya jika saya belum punya buku legendaris Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak. Sialnya, waktu saya mau memburu buku itu pada tahun pertama lulus kuliah, benda itu sangat langka. Saya mencarinya, tak ada di mana-mana. Hingga kemudian suatu hari saya menjumpainya di sebuah pameran! Saya terkesiap. Kaki-kaki rohani saya gemetar hebat. Namun kemudian saya tercenung. Saya teringat sesuatu.

Hari-hari itu, saya dekat dengan seorang gadis. Kedekatan itu berpotensi besar mengantarkan kami sampai ke pelaminan. Sementara, saya tahu pasti bahwa si gadis tersebut punya buku Zaman Bergerak! Sontak, muncullah pertanyaan paling filosofis dalam dada saya: untuk apa kami nantinya punya dua buku yang sama, di rumah yang sama?

Sejarah bergulir persis seperti bayangan saya. Satu atau dua tahun setelah hari itu, saya menikah dengan gadis itu. Saya bukan hanya mendapatkan hatinya, namun juga buku Zaman Bergerak-nya!

Tapi, pernikahan menciptakan kesibukan-kesibukan baru. Buku itu saya taruh di rak buku saya, sudah saya klaim sepihak sebagai milik saya, saya jejer-kan dengan buku-buku sejarah yang lainnya. Dan, persis seperti yang Anda duga: saya belum juga selesai membacanya. Sampai hari ini.

***

Masih ada belasan kisah saya yang lain tentang buku-buku. Sebagian manis, namun kebanyakan konyol dan pahit. Tak terkecuali kisah yang awalnya manis namun lambat laun menjadi pahit. Misalnya tentang akuisisi puluhan buku berbahasa Inggris dari seorang kawan pengamat politik yang tidak sempat packing saat pulang dari Australia, lalu saya kirimkan buku-bukunya itu ke Jogja dengan ongkos jutaan rupiah, dan ternyata setelah tiga tahun berlalu belum ada satu pun yang saya sentuh.

Saya tak tahu, kapan saya akan mampu menebus semua dosa ini. Bahkan dari hari ke hari, saya justru semakin yakin bahwa buku-buku itu mustahil saya baca tuntas semuanya sampai saya mati.

Ini mengerikan sekali. Ini mengerikan sekali. Saya tak tahan lagi. Saya tak kuat mendengar rintihan-rintihan itu lagi. Apalagi sejak rintihan itu menambahkan satu bisikan, bahwa setiap buku yang kita beli adalah satu janji kepada pohon-pohon yang terus ditebangi....

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)