Kolom

Menyusuri Situs Patenggeng

Ratna Ning - detikNews
Sabtu, 08 Feb 2020 13:00 WIB
situs patenggeng
Situs Patenggeng (Foto: jabarpublisher)
Jakarta -

Situs Sejarah Patenggeng adalah tempat cagar budaya yang sejak tahun 1985 sudah dinyatakan dan diakui Pemerintah Daerah Kabupaten Subang sebagai salah satu suaka cagar budaya. Patenggeng yang berada di wilayah Desa Margasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang adalah suatu tempat yang disinyalir pernah terjadi peradaban atau adanya siklus kehidupan yang berlangsung di abad silam.

Hal itu terbukti dengan ditemukanannya potongan ptongan keramik tembikar, batu granit, dan beberapa benda bekas peradaban zaman dulu yang tergali di tempat itu. Ditemukannya peninggalan purbakala di Patenggeng berkat observasi dan ekskavasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama Badan Arkeologi sejak pertama pada sekitar tahun 1976, ekskavasi kedua pada 2004, dan ekskavasi ketiga pada 2014.

Dari hasil ekskavasi tersebut ditemukan benda-benda purbakala seperti pecahan-pecahan keramik china, batu andesit, kerak besi hitam, alat bantu serpih dan gerabah lainnya, serta batu bata yang diperkirakan berasal dari abad 10-15. serta keramik dari Dinasti Han (220 SM - 202 M)

Di bagian barat Situs Patenggeng terdapat sebuah makam yang dianggap keramat oleh penduduk. Berdasarkan laporan tim arkeologi Universitas Indonesia, pun seperti yang diceritakan oleh juru kunci dan para pini sepuh serta cerita dari mulut ke mulut masyarakat setempat, dikatakan makam itu adalah makam Mbah Brajadikeling atau Raden Kalangsungging.

"Raden Kalangsungging itu adalah patih yang berkuasa di kawasan Patenggeng. Sedangkan Rajanya adalah Raden Purbawisesa, seorang raja yang ditugaskan oleh kerajaan Pajajaran Kuno," demikian Ki Sanen, juru kunci situs Patenggeng memberikan keterangan. Senada dengan keterangan Ki Sanen, Ali warsa selaku Kepala Desa Margasari sekaligus Ketua Lembaga Adat Waringin Putra memberikan keterangan yang sama.

Patenggeng yang berada di puncak datar sebuah bukit yang jika digambarkan berbentuk intan terbalik, di sebelah timurnya terdapat Sungai Ciasem. Konon sungai tersebut dahulunya merupakan sungai yang lebar. Ini terbukti dari letak sawah di pinggiran bantaran sungai yang lebih tinggi dari permukaan air, tetapi lebih rendah dari tanah perkampungan di sebelahnya. Diperkirakan sungai tersebut dahulu merupakan pelabuhan yang besar, tempat kapal-kapal sebagai alat transportasi hilir mudik dan bermuara di hulu yang ada di Patenggeng.

Ironisnya, Patenggeng yang sudah diakui sejak terangkatnya benda-benda purbakala pada observasi tahun 1976 tersebut, keberadaannya sebagai tempat situs cagar budaya yang dilindungi pemerintah sangat memprihatinkan. Situs sejarah di atas bukit itu tidak terawat dan tidak pantas disebut sebagai tempat cagar budaya yang sudah dilindungi pemerintah, dalam hal ini pemerintah kabupaten Subang.

Masih berada di atas tanah berstatus tanah adat milik seorang warga desa seluas sekitar 2800 meter persegi, situs tersebut nyaris tidak tersentuh perawatan dan pelestarian. Satu-satunya ciri hanyalah belitan kain putih pada sebatang pohon Kihiang yang dipercayai sebagai ciri makam Raden Kalangsungging. Ada sebuah saung sederhana dan terbuka, itu pun sumbangan dari seorang donatur yang berkunjung ke sana.

Ketika hal itu dikonfirmasikan kepada Kepala Desa, Ali Warsa menceritakan ihwal situs tersebut. "Disbudpar (waktu itu) masih belum bisa menentukan, berasal dari peradaban mana sejarah yang pernah terjadi di sana. Karena berdasarkan hasil penelitian, mereka belum bisa menyimpulkan tentang identitas dari benda-benda yang ditemukan itu berasal, yang kemudian bisa dijadikan acuan ataupun panduan untuk menentukan identitas Situs Patenggeng."

Alhasil, situs yang diperkirakan sebagai tonggak sejarah tertua di Subang itu sampai saat ini identitasnya belum terkuak. Namun ketika di sana telah diadakan beberapa observasi dan terangkat berbagai benda-benda bernilai sejarah --bahkan bendanya ada yang dikonservasi ke Australia, sementara tempat terjadinya observasi sudah dinyatakan sebagai situs cagar budaya itu status dan perawatannya ditelantarkan-- maka patutlah kiranya hal ini dipertanyakan.

Sejarah telah tergali, bukan saja dari benda-benda sebagai buktinya tapi dari cerita dan tempatnya itu sendiri. Maka sebagai bangsa yang besar sudah sepantasnya bisa menjaga dan melestarikannya. Bukan masa lalu yang akan terus kita tengok, tapi dari masa lalu itu kita semua bisa bercermin untuk menentukan masa depan. Jika Patenggeng terbuka, situsnya dipelihara, maka ada beberapa sektor dan peluang yang bisa digali. Salah satunya adalah untuk lebih meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

(mmu/mmu)