Kolom

Selamat Jalan, Profesor Sumarlin!

Rizal Mallarangeng - detikNews
Jumat, 07 Feb 2020 16:10 WIB
Mendiang JB Sumarlin
JB Sumarlin meninggal dunia, Kamis (6/2) (Foto: Anisa Indraini/detikcom)
Jakarta -

Di kalangan kaum teknokrat Orde Baru, JB Sumarlin (1932-2020) termasuk sosok yang pendiam. Mohamad Sadli dan Emil Salim lebih outspoken, pandai mengemukakan gagasan secara lugas dan menarik.

Tapi dalam soal kebijakan, Sumarlin mungkin sosok yang paling lincah. Dan, bersama Radius Prawiro juga paling berani.

Hal itu terlihat, misalnya, dalam gebrakan Sumarlin dan berbagai paket deregulasi 1988, khususnya di sektor finansial. Waktu itu Sumarlin menjabat sebagai Ketua Bappenas dan Menkeu ad interim. Gebrakan dan berbagai paket ini berhasil menyelamatkan nilai tukar rupiah dan, lebih penting lagi, menggairahkan dunia perbankan dan Bursa Eefek Jakarta (BEJ).

Khusus tentang BEJ, bisa dikatakan bahwa sejak saat itulah lembaga ini mulai memainkan peran penting dalam dunia perekonomian kita.

Gebrakan dan paket kebijakan ini adalah bagian dari the era of deregulation yang berlangsung dalam kurun 1983-1993. Hasilnya adalah transformasi ekonomi Indonesia: ketergantungan pada minyak bumi berkurang drastis, sektor manufaktur dan finansial tumbuh pesat, kaum swasta lebih bergairah.

Sumarlin, tentu saja, tidak bergerak sendiri. Ia adalah bagian dari Mafia Berkeley, julukan yang diberikan oleh David Ranson, wartawan kiri, pada awal tahun 1970-an. Entah kenapa, julukan ini menjadi populer dan melekat pada kaum teknokrat Orde Baru di bawah pimpinan Widjojo Nitisastro.

Sebagai tokoh dalam dunia kebijakan, Mafia Berkeley dianggap berhasil. Dalam literatur pembangunan, mereka kerap dijadikan sebagai contoh positif peranan kaum teknokrat di negara-negara sedang berkembang.

Bagi saya, Widjojo, Sumarlin, Ali Wardhana, Sadli, Emil Salim, Subroto, Radius Prawiro dan kaum teknokrat lainnya memang berjasa besar. Gebrakan dan paket deregulasi di atas adalah salah satu "karya" mereka. Sebelumnya, sejak lahirnya Orde Baru, mereka juga telah membantu berbagai kebijakan yang sampai hari ini masih kita rasakan manfaatnya. Pencapaian Indonesia memang tidak setinggi Jepang, Korea Selatan dan Singapura. Namun dalam ukuran negara berkembang lainnya, pencapaian kita sudah sangat lumayan.

Bagi kita sekarang, sosok Sumarlin dan peran Mafia Berkeley harus menjadi bahan pelajaran berharga, antara lain dalam soal konsistensi dan langkah kreatif serta keberanian untuk melakukan terobosan kebijakan.

Selain itu, kita juga masih harus meneruskan perjuangan mereka dalam menyusun perimbangan yang pas dan produktif antara peran negara dan pasar dalam sistem ekonomi kita. Ini adalah semacam warisan historis yang harus terus dirumuskan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Saat ini, di awal periode kedua Presiden Jokowi, kita melihat berbagai upaya untuk meneruskan perjuangan panjang tersebut, mungkin tanpa disadari sepenuhnya. Rasionalisasi BUMN, reformasi birokrasi, deregulasi berbagai aturan yang mengikat kaki kita sendiri: semua ini, jika berhasil diwujudkan, akan mengubah perimbangan negara dan pasar ke arah yang lebih baik lagi, suatu hal yang memudahkan kita untuk memajukan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat jalan, Profesor!

Rizal Mallarangeng Wakil Ketua Umum Partai Golkar

(mmu/mmu)