Kolom

Fenomena Hijab Premium di Pasar Virtual

Dina Vara - detikNews
Jumat, 07 Feb 2020 13:17 WIB
Merk-merk busana terbesar di dunia mulai melirik bisnis hijab. Dilansir dari brandedgirls.com, Kamis (30/5), harga yang dibanderol tak main-main, ada yang mencapai Rp 15 juta!
Foto: Istimewa
Jakarta -
Perkembangan tren busana muslimah tampaknya memasuki babak baru. Beragam model, corak, dan warna ditawarkan di pasaran untuk menarik minat kaum hawa. Tak terkecuali penutup kepala berbahan kain yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Dewasa ini muncul istilah hijab premium, yang disematkan pada hijab dengan bahan premium, corak yang indah, dan embel-embel limited edition.

Pasar hijab premium di Indonesia sangat berkembang, bukan hanya diminati oleh muslimah dalam negeri, tetapi juga oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Maka, tak heran muncul banyak penjual hijab premium yang didominasi oleh anak-anak muda. Mereka menggunakan platform media sosial terutama Instagram untuk memasarkan produk mereka. Harga yang ditawarkan juga relatif cukup tinggi.

Sebagai perbandingan, jilbab dengan bahan yang sama di pasaran berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 100.000. Tetapi, terdapat penjual yang berani membandrol hijab premiumnya dengan harga Rp 200.000. Bahkan beberapa merk menghargai hijabnya di atas Rp 350.000. Harga yang cukup tinggi untuk selembar kain, bukan?

Tidak hanya itu, terkadang kita harus rela "mengatre" untuk bisa mendapatkan hijab premium. Biasanya setelah penjual meng-upload katalog dan menentukan waktu penjualan, calon pembeli akan menghubungi penjual melalui media chat seperti Whatsapp dan Line yang telah ditentukan, setelah terlebih dahulu mengisi data pembelian yang di dalamnya terdapat identitas pembeli beserta pesanan.

Selanjutnya, pembeli akan menunggu sampai chat tersebut dibalas sesuai urutan chat oleh penjual diikuti dengan informasi nominal yang harus ditransfer. Tak jarang peminat kehabisan produk karena "keduluan" oleh calon pembeli lainnya.

Lantas, bagaimana pengusaha hijab mampu mem-branding produk mereka, sehingga masyarakat mau bersusah payah membeli hijab tersebut dengan harga yang mahal pula. Menurut saya, hal ini tidak terlepas dari strategi marketing yang dilakukan oleh penjual. Di antaranya; pertama, menciptakan produk yang benar-benar premium untuk calon pembeli.

Ketika penjual memasarkan produknya, sudah tentu mereka membidik target pasar tertentu. Target pasar ini tentu saja rela membayar sejumlah uang untuk suatu produk yang memberikan sesuatu yang tidak dimiliki oleh produk substitusinya. Produk yang memiliki bahan yang baik sehingga nyaman jika digunakan, tegak di dahi dan tidak mudah kusut, desain yang khas, serta pemilihan warna yang tidak pasaran menjadi ciri khas hijab premium, yang tidak dimiliki oleh hijab biasa.

Kedua, bekerja sama dengan muse atau model yang memiliki banyak pengikut di media sosial. Bukan rahasia umum bahwa penjual hijab premium sering kali melakukan advertising produk mereka melalui endorse artis Instagram atau selebgram. Kemampuan para selebgram dalam mempengaruhi pasar sangat besar, karena mereka dapat mempresentasikan hijab dengan menarik. Selain itu, diharapkan pengikut setia mereka di media sosial akan membeli, dengan alasan ingin menggunakan hijab yang sama dengan idola mereka.

Ketiga, memberikan efek memorable seakan-akan produk mereka limited edition. Seringkali ketika suatu seri hijab dikeluarkan, penjual akan mendongengkan sebuah cerita tentang bagaimana hijab dibuat, peristiwa apa yang melatarbelakangi motif dan corak di balik hijab, serta penekanan bahwa seri hijab tersebut tidak akan pernah diproduksi kembali jika sudah habis terjual. Hal ini memberikan kesan limited edition.

Robert Cialdini dalam bukunya berjudul Influence: The Psychology of Persuasion mengatakan bahwa terdapat 6 pendekatan psikologis dalam teknik marketing, salah satunya adalah Scarcity Effect, di mana orang lebih cenderung menginginkan barang yang sifatnya limited edition, dan rela berebut untuk mendapatkannya.

Keempat, fenomena jastip-er. Alasan terbesar di balik cepatnya penjualan hijab premium adalah terdapat orang-orang yang membeli produk dalam jumlah yang banyak untuk selanjutnya dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Mereka yang menyediakan jasa titip atau jastip biasanya lebih berpengalaman dalam rebutan hijab premium.

Kelima, membentuk komunitas penggemar merk tertentu. Beberapa brand hijab premium membentuk suatu komunitas dengan memberikan fasilitas-fasilitas berupa info update produk terbaru, diskon khusus, voucher belanja, dan sebagainya.

Pertanyaan berikutnya, wajarkah berebutan untuk produk yang seharusnya dengan mudah didapatkan di pasaran, dengan harga yang tinggi pula? Sebagai seorang konsumen, tentu saja Anda harus bijak dalam berbelanja. Hijab premium memang memiliki kelebihan dibanding hijab biasa, namun fungsinya tidak berubah yaitu sebagai pelindung dan penutup aurat muslimah. Tetapi, jika Anda memiliki budget yang longgar, tidak ada salahnya membeli hijab premium yang cantik dan nyaman ketika digunakan.

(mmu/mmu)