Kolom

Mengurangi Ketergantungan Dolar AS, Baik atau Buruk?

Rinaldi - detikNews
Kamis, 06 Feb 2020 15:00 WIB
The Eye of Providence pada 1 Dolar AS. (Danu Damarjati/detik.com)
Uang dolar Amerika (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta -

Ketidakpastian ekonomi di dunia dalam waktu dekat akan terjadi dikarenakan "guncangan" yang disebabkan adanya usaha dari beberapa negara besar untuk mengurangi penggunaan dolar Amerika (USD) yang saat ini merupakan mata uang yang paling dominan, menjadi mata uang mereka sendiri (local currency). Atau, paling tidak mengganti USD dengan mata uang digital yang saat ini mulai marak digunakan di beberapa transaksi besar terutama transaksi cross border.

Usaha yang dilakukan beberapa negara besar itu akan menciptakan keseimbangan dalam penggunaan mata uang antarnegara, namun tentu saja hal ini akan membuat Amerika menjadi pihak yang dirugikan. Dan, Amerika pasti tidak akan tinggal diam dalam menyikapi hal ini.

Dalam sebuah artikel di Majalah The Economist, 18 Januari 2020 disebutkan bahwa beberapa negara yang telah memulai aksi "mengguncang" dominasi dolar antara lain; pertama, Rusia dengan aksinya men-dedolarisasi neraca perdagangan, utang luar negeri, dan beberapa aset bank di Rusia, ditambah lagi beberapa perusahaan energi raksasa mereka juga telah memulai aksi ini, yaitu mulai menggunakan Rubel (mata uang Rusia) dalam melakukan transaksi ekonomi mereka.

Kedua, Rusia, China, dan India juga mulai melakukan perjanjian perdagangan antarnegara dengan menggunakan mata uang negara mereka masing-masing ketimbang menggunakan dolar. Ketiga, negara-negara Uni Eropa telah membangun Instex, yaitu sebuah instrumen yang memungkinkan perusahaan di Uni Eropa bisa bertransaksi dengan negara Iran tanpa harus memikirkan sanksi dari Amerika.

Beberapa Bank Sentral di Eropa dan China juga sudah mulai menggunakan mata uang digital publik terutama untuk melakukan pembayaran transaksi perdagangan lintas batas. Penggunaan mata uang digital sendiri diyakini dapat menurunkan biaya yang timbul akibat transaksi lintas batas ini.

Usaha mengguncang dolar ini pasti menimbulkan ketidakpastian baru dalam ekonomi global. Dalam jangka panjang keseimbangan yang timbul dalam penggunaan mata uang antarnegara akan menciptakan sistem ekonomi moneter yang bebas guncangan. Namun hal ini tentu tidak berlaku dalam jangka menengah.

Dalam jangka menengah, keseimbangan yang timbul oleh akibat keragaman mata uang yang digunakan justru akan mengakibatkan ketidakpastian ekonomi menjadi pasti. Dan, beberapa ekonom beranggapan bahwa kontraksi ekonomi cenderung ke arah resesi yang terjadi saat ini salah satunya karena mulai berkurangnya dominasi USD dalam transaksi global, sehingga kepastian ekonomi justru membawa dampak yang buruk terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Peluang bagi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang paling banyak menggunakan USD dalam melakukan transaksi perdagangan luar negeri dan juga transaksi dalam pasar keuangan. Pada 2018 Bank Indonesia menyebutkan bahwa penggunaan dolar AS sangat tinggi mencapai 95% dalam ekspor dan mencapai 76% dalam transaksi impor. Indonesia sudah mulai melakukan upaya mengurangi ketergantungan terhadap USD.

Pada April 2019, Indonesia dan tiga negara besar ASEAN lainnya yaitu Thailand, Malaysia, dan Filipina menandatangani kesepakatan untuk menyelesaikan transaksi perdagangan bilateral dengan menggunakan mata uang lokal. Hal ini tentu bisa mendorong penggunaan mata uang lokal lebih luas lagi terutama dalam lingkup antara negara di ASEAN.

Tensi Perang Dagang antara Amerika dan China diharapkan sudah mulai menurun pada 2020. Hal ini ditandai dengan disetujuinya pembelian barang Amerika senilai USD 200 miliar dalam jangka waktu dua tahun ke depan pada 15 Januari 2020. Ini tentu menjadi kabar baik bagi perekonomian Indonesia, mengingat perseteruan tarif kedua negara ini menjadi biang keladi perlambatan ekonomi global pada 2019.

Pada 2019 sendiri ekonomi global tercatat hanya tumbuh di kisaran 3%, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 tercatat tumbuh 5,0%. Dengan menurunnya tensi perang dagang Amerika-China, Indonesia paling tidak bisa berharap membaiknya neraca perdagangan yang defisit sebesar -2,7% dari PDB di kwartal ke-3 tahun 2019 menjadi seimbang atau bahkan surplus pada 2020.

Peluang akan baik bagi Indonesia bila penggunaan dolar Amerika dalam transaksi perdagangan internasional ini bisa dikurangi, mengingat volume perdagangan internasional Indonesia sampai dengan November 2019 mencapai USD 309.272 juta. Pengurangan USD dalam transaksi perdagangan ini paling tidak bisa memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah yang juga merupakan salah satu indikator utama makro yang digunakan sebagai acuan dalam menyusun berbagai komponen postur APBN.

(mmu/mmu)