Mimbar Mahasiswa

Menimbang Kembali Proyek Kereta Gantung Rinjani

Rian Arsyat - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 13:00 WIB
Pendaki Gunung Rinjani
Gunung Rinjani (Foto: Muhammad Asyraf/d'Traveler)
Jakarta -

Destinasi Taman Wisata Gunung Rinjani adalah salah satu ikon Nusa Tenggara Barat. Bukan saja pesona alamnya yang memanjakan mata, tetapi banyak tersimpan flora dan fauna yang tidak dapat ditemukan di daerah lain. Sifat gunung yang masih banyak dikeramatkan oleh masyarakat Sasak juga menjadi salah satu alasan gunung ini sangat dilindungi oleh masyarakat setempat.

Kata seorang mangku pendakian Gunung Rinjani Mamiq Ida Shaleh Sungkar, "Rrinjani ini adalah gunung para wali, di mana gunung ini adalah tempat sangkep (musyawarah) para wali. Gunung Rinjani adalah gunung suci. Ketika naik Gunung Rinjani kita harus membersihkan batin dan pikiran kita, sebab ini adalah tempat suci."

Selain itu Gunung Rinjani menurut keyakinan masyarakat adalah tempat berobat paling baik. Di sana banyak tempat pemandian-pemandian yang diyakini oleh masyarakat dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Ada Pancor Selaka, Pancor Mas, Pancor Putri, Pemandian Wong Menak, Cikar Rarat, Goa Taman, Goa Susu, dan lain sebagainya yang diyakini oleh masyarakat Sasak dapat mengobati penyakit.

Situs-situs dan cerita sejarah juga banyak terdapat di Gunung Rinjani. Salah satunya adalah ada yang disebut sebagai Lendang Pesilatan Cupak Gurantang serta goa tempat penyembuyian Putri Rengganis oleh raksasa dalam legenda rakyat Sasak Cupak Gurantang. Saya tahu sebab pernah mendaki bersama mangku Mamiq Ida pada 2015.

Sebentar lagi kekeramatan Gunung Rinjani ini akan tenggelam. Keramat itu hanya akan menjadi dongeng bagi anak cucu kita kelak, akan hanya tertulis dalam babat. Kekeramatan Gunung Rinjani akan berakhir pada 2021, sebab akan ada kereta gantung yang akan berlalu lalang di atas Rinjani yang keramat. Dan, Rinjani yang keramat akan segera tamat.

Gubernur Nusa Tengara Barat sudah menjamu investor dengan ramah, artinya dia sudah membuka pintu selebar-lebarnya agar segera membangun kereta gantung tersebut. "Senang menerima investor yang berencana membangun kereta gantung. Mudah-mudahan rencana ini bisa segera jadi nyata. Sehingga yang tak kuat mendaki bisa menikmati keelokan Gunung Rinjani dari atas,'' tulis Gubernur dalam sosial medianya.

Saya sangat kagum dengan Gubernur kita ini. Pemikirannya sangat maju dan modern. Dia berpikir ke masa depan. Tetapi, hari ini kekaguman saya sedikit teriris rasanya. Dalam hati kecil saya bertanya, apakah ini adalah salah satu solusi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Gunung Rinjani --dengan mengorbankan segala hal yang menjadi keyakinan masyarakat?

Masih Banyak Cara

Menurut mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat TGB Muhammad Zainul Majdi, masih banyak cara untuk memaksimalkan potensi Gunung Rinjani tanpa harus membangun fasilitas seperti kereta gantung. Bukan saja soal itu, tetapi menurut Gubernur NTB dua periode ini, pembangunan kereta gantung tersebut akan banyak melanggar undang-undang, salah satu di antaranya adalah tentang konservasi.

Saya sependapat dengan Gubernur NTB yang memiliki banyak prestasi dan penghargaan itu. Bahwa Gunung Rinjani tanpa ada kereta gantung pun sudah memiliki daya tarik yang sangat tinggi. Lalu, apa untungnya kita membangun kereta gantung tersebut? Sedangkan tanpa kereta gantung pun tiap tahunnya wisatawan yang melancong ke Gunung Rinjani terus meningkat.

Tercatat pada 2017 saja pendapatan yang bersumber dari wisatawan Gunung Rinjani mencapai Rp 10,57 miliar. Tentu ini bukan angka yang kecil --tanpa merusak alam, tanpa perlu melanggar undang-undang konservasi, serta mengorbankan apa yang menjadi kepercayaan masyarakat.

Pembangunan kereta gantung tentu akan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Meskipun menurut pemerintah tidak akan merusak apapun, karena pembangunannya akan menggunakan helikopter dan lain sebagainya. Tapi kan kita belum melihat bagaimana prosesnya itu. Semua itu hanyalah dalih rayuan mereka.

Dari sisi ekonomi juga akan mengakibatkan banyaknya usaha UMKM mati. Adanya kereta gantung tentu akan mengurangi jasa-jasa rental tenda dan jasa porter. Wisatawan akan mengurangi biaya penginapan di hotel maupun home stay. Semuanya akan lari ke pendapatan kereta gantung. Sebelumnya, dari jasa-jasa itu, anak-anak guide, porter dapat bersekolah dari hasil menjadi guide dan porter. Nanti, semua itu akan hilang. Beralih penghasilan itu ke pemodal kereta gantung.

Mengingat pula bahwa kereta gantung ini dibangun bukan dari APBD pemprov atau APBD pemerintah kabupaten, melainkan ini adalah dana dari investor, artinya pun pendapatan dari kereta gantung itu juga akan banyak diterima oleh investor. Kita hanya akan kecipratan pendapatan secuil saja. Sementara pendapatan yang lain seperti porter, guide, usaha UMKM home stay dan lainnya kita abaikan.

Sebenarnya kereta gantung ini untuk ekonomi rakyat atau ekonomi kapital? Hanya penguasalah yang tahu. Saham pemodal dan saham pemrpov pun tentu tidak mungkin akan lebih banyak dari pada saham pemodal.

Bukan Solusi

Sudahlah, kereta gantung bukan solusi untuk meningkatkan wisatawan yang akan melancong ke taman nasional Gunung Rinjani. Mari kita berkaca pada Nepal dengan pendakian Gunung Everest0nya. Pada 2018 sekitar 1.173.072 pendakian di Nepal tanpa ada yang merusak alam, mengikir lahan konservasi, dan yang jelas tanpa kereta gantung. Tinggal dibayangkan saja berapa pendapatan negara tersebut. Bahkan disebutkan pendapatan Nepal 7,8% bersumber dari pariwisata tersebut.

Bukan itu saja, gaji para pemandu wisata di sana juga sangat fantastis, bisa mencapai setara Rp 141 juta. Semestinya pemerintah memperhatikan Gunung Rinjani sebagaimana pemerintah Nepal memperhatikan Gunung Everest. Pemerintah provinsi juga harus memperhatikan pemandu wisatanya seperti porter, guide dan lain-lain sebagaimana pemerintah Nepal memperhatikan gaji para pekerja pemandu wisata.

Seperti kata pepatah, untuk mendapatkan mutiara, maka harus berani menyelami samudera. Maka untuk menikmati indahnya panorama alam Rinjani harus berani bersusah payah dan menikmati rasa lelah yang kita sebut sebagai pengorbanan. Tidak usah jauh-jauh ambil contoh ke Nepal, lihat saja Pulau Dewata Bali. Apakah di Bali ada kereta gantung? Kita percaya magnet pariwisata Bali bukanlah modernitasnya, tetapi culture and nature-nya.

Tinggal pemerintah memutar otak memikirkan bagaimana branding pariwisata yang baik tanpa mengorbankan banyak pihak. Bukankah itu adalah suatu kebijakan yang baik? Gunung Rinjani harus di-branding sebagaimana Nusa Tengara Barat yang sebelumnya telah berhasil di-branding sebagai Best Destination Halal Tourism dan Best Destination Honeymoon tanpa melukai hati rakyat, tanpa mengorbankan sisi sosial, ekonomi, dan kondusivitas politik. Tanpa ada kereta gantung.

Kereta gantung hanya akan menciptakan pengangguran baru. Kita akan mendukung pemerintah provinsi ataupun daerah setempat apabila; pertama, pembangunan kereta gantung menggunakan modal dari daerah. Kedua, pemilik sah saham 100% dari kereta gantung adalah pemerintah daerah ataupun pemprov. Ketiga, kereta gantung di kelola oleh BUMD dan hasilnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat sesuai amanat UUD 45.

Keempat, pemerintah daerah harus menyiapkan pekerjaan pengganti kepada pengusaha yang tercatat dalam usaha trekking Rinjani seperti porter, rental tenda, dan lain-lain. Dan kelima, pemerintah harus memberdayakan masyarakat setempat sebagai pengelola atau pihak yang akan mendapatkan buah manis dari kereta gantung, seperti memberikan modal usaha untuk berdagang di sekitar area pintu gerbang kereta gantung.

Tapi pembangunannya jangan di atas hutan dan melewati lahan konservasi dan hutan lindung maupun di atas Taman Nasional Gunung Rinjani. Buat saja percobaan dulu misalnya dengan rute Islamic Center ke Senggigi. Mampukah pemprov dan kabupaten yang ngebet membangun kereta gantung itu untuk menyiapkan semua itu?

Rian Arsyat Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Sosial Politik NTB

(mmu/mmu)