Kolom

Yogyakarta dan Masa Depan Pariwisata Berbasis Budaya

Istanti - detikNews
Rabu, 05 Feb 2020 11:35 WIB
Suasana Imlek di Pekan Budaya Tionghoa di Kampung Ketandan
Pekan Budaya Tionghoa di Kampung Ketandan, Yogyakarta (Foto: Laras/detikcom)
Jakarta -

Pariwisata tumbuh menjadi masa depan pembangunan sektor ekonomi. Tahun 2019, Presiden Joko Widodo menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni dari 10,41 juta menjadi 20 juta. Sebagai provinsi tujuan wisata kedua setelah Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mencanangkan Visi Pembangunan Wisata 2012-2025 adalah mewujudkan Yogyakarta sebagai destinasi wisata berkelas dunia, berdaya saing, berwawasan budaya, berkelanjutan, mampu mendorong pembangunan daerah, dan pemberdayaan masyarakat.

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak akan berdampak berarti dengan goncangan ekonomi dunia seperti terjadinya krisis moneter. Kebutuhan refreshing, berhenti sejenak dari rutinitas dengan rekreasi, telah menjadi kebutuhan setiap masyarakat. Bahkan saat ini, tujuan wisata telah merambah ke edukasi sejarah, mengenal lebih jauh tentang kebudayaan. Data menunjukkan bahwa faktor pelestarian kebudayaan akan memberi sumbangan cukup penting dalam pariwisata.

Hasil penghitungan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) 2018 menempatkan DIY pada posisi pertama dengan skor 73,29 disusul oleh Provinsi Bali. Capaian IPK kedua provinsi ini jauh lebih tinggi dari angka nasional. Selain Provinsi Bali, destinasi DIY diprediksi menjadi matahari bagi dunia pariwisata di Indonesia

Kepedulian masyarakat DIY didukung pemerintah daerah dalam pelestarian kebudayaan sehingga kebudayaan terpelihara secara turun temurun. Hasil Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan 2018 memperlihatkan, sebanyak 11,56 persen penduduk berusia 5 tahun ke atas masih memainkan permainan rakyat/tradisional; 84,02 persen mengetahui dongeng/cerita rakyat; dan 75 persen lebih menggunakan produk tradisional.

Pelestarian budaya pun telah dilakukan oleh berbagai generasi. Dalam periode tahun yang sama sebanyak 1,82 persen rumah tangga masih menyelenggarakan upacara adat dan sebanyak 4,52 penduduk pernah ikut dalam pertunjukan seni. Berkaca dari negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, kebudayaan di negeri tersebut tetap dijunjung tinggi. Tujuannya adalah sama, yakni menjadikan budaya sebagai cermin pengambilan kebijakan pembangunan.

Tak heran bila dalam pengambilan kebijakan pembangunan di zaman modern ini tak boleh melanggar nilai-nilai budaya termasuk bangunan bersejarah. Seperti dalam pembangunan jalan tol yang melewati DIY tidak boleh mengganggu bangunan bersejarah yakni Sumbu Filosofi Yogya (Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Kraton, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan) yang sedang diajukan sebagai warisan dunia ke UNESCO.

Duta Pariwisata

Kehidupan masyarakat DIY telah mencerminkan pelestarian kebudayaan. Tempat bersejarah telah menjelma menjadi daya tarik wisatawan. Tercatat 33 wisata budaya memperkaya destinasi wisata DIY. Objek wisata ini berupa pertunjukan kebudayaan seperti tari-tarian, makanan tradisional, pakaian khas, bangunan bersejarah, dan sebagainya.

Bahkan dengan berbasis masyarakat lokal, saat ini telah ada 132 desa wisata. Tujuannya tak lain adalah agar masyarakat setempat langsung dapat menikmati keuntungan dengan pengembangan wisata. Pariwisata mampu menumbuhkan menggerakkan berbagai sektor ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memunculkan lapangan pekerjaan baru seperti perdagangan, akomodasi makan-minum, akomodasi penginapan.

Ditinjau dari pengeluaran wisatawan, rata-rata wisatawan pada 2018 membelanjakan uang untuk pengeluaran makan-minum sebesar Rp 249,10 ribu, diikuti dengan pengeluaran belanja Rp 114,31 ribu, dan pembelian cenderamata mencapai Rp 87,94 ribu. Tingkat pengangguran pun kian menurun hingga pada kisaran 1 persen sampai 3 persen jauh di bawah angka nasional yang masih di angka 5 persen.

Sebagai kota pendidikan, DIY semakin diuntungkan dengan munculnya duta pariwisata dari kalangan mahasiswa. Sebanyak 110 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan jumlah mahasiswa pada 2018 sebanyak 377,329 orang akan menjadi duta untuk mempromosikan keberadaan pariwisata DIY hingga ke penjuru Nusantara.

Mahasiswa yang berasal dari hampir semua wilayah di Indonesia akan menceritakan keindahan, keragaman daya tarik wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di DIY. Tiap kabupaten/kota punya objek wisata dengan ciri khas tersendiri. Kabupaten Gunung Kidul misalnya, dengan deretan pantai selatan yang indah ditambah gugusan gunung seribu serta gua-gua yang indah memukau.

Sementara Kabupaten Bantul selain menawarkan pantai selatan, juga kental dengan kebudayaan labuhan, makam raja-raja, industri batik dan kulit. Wilayah utara Kabupaten Sleman terdapat gunung aktif di dunia, ditopang dengan 25 wisata candi. Kota Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan adalah tempatnya bangunan bersejarah dari Tugu Yogya, Malioboro, Keraton Yogyakarta. Kabupaten Kulonprogo punya wisata alam, wisata pantai dengan keberadaan Bandara NYIA yang dilengkapi underpass sepanjang 1,3 km.

Konektivitas

Pengembangan pariwisata tentunya tak lepas dari penyediaan infrastruktur. Wilayah dengan luas 3.185,80 km persegi dan 5 kabupaten/kota telah dilengkapi dengan infrastruktur yang cukup menjangkau di seluruh wilayah DIY. Dengan panjang jalan 4366,62 km persegi, DIY kooperatif dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Pembangunan jalan lintas selatan terbentang dari Kabupaten Kulonprogo, Bantul, Gunung Kidul akan menghubungkan wilayah DIY dengan Provinsi Jawa Tengah bagian selatan. Sementara bagian utara juga telah dirintis jalan tol Yogya-Solo. Transportasi kereta api dan keberadaan dua bandara internasional yakni Bandara NYIA dan Bandara Adisucipto pun seyogianya akan memperlancar pencapaian visi pariwisata DIY.

Memelihara Kebudayaan

Dengan modal pariwisata DIY yang begitu kompleks, perwujudan DIY sebagai kota tujuan wisata akan terwujud bila masyarakat DIY mampu memelihara kebudayaan, menciptakan inovasi pengembangan wisata serta dapat menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak sektor ekonomi lainnya. Saatnya menurunkan kemiskinan dengan mempersempit ketimpangan antarwilayah antarpenduduk.

Bila saat ini gini rasio DIY masih di kisaran 0,423 dan target angka ketimpangan nasional 2020-2024 adalah antara 0,360-0,374, maka pembangunan sektor wisata berbasis budaya, karakteristik lokal, dan pemberdayaan masyarakat menjadi solusi yang patut diperhitungkan.

Istanti statistisi pada BPS Provinsi D.I. Yogyakarta

(mmu/mmu)