Sentilan Iqbal Aji Daryono

Para Orangtua yang Penuh Ambisi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 04 Feb 2020 16:40 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

"Mimpi mereka, atau mimpimu?"

Saya masih ingat kalimat pendek yang menampar itu. Pengucapnya adalah ibu keluarga Jackson, dalam film yang saya tonton di televisi belasan tahun silam. Entah apa judul film tersebut, saya tak ingat pasti. Kemungkinan besar The Jacksons: An American Dream.

Yang jelas, dalam adegan yang saya ingat, sang ibu melontarkan kalimat itu untuk men-"sekakmat" suaminya. Harap tahu, ayah para Jackson adalah sosok ayah yang berambisi agar anak-anak mereka jadi bocah-bocah super, dalam sebuah visi yang sekilas tampak mulia: "Ini semua demi mimpi mereka!"

"Oh. Mimpi mereka? Mimpi mereka, atau mimpimu?" Kalimat itu menghantam dengan telak sekali.

Belakangan, para Jackson memang moncer. Yang paling ngetop ya Si Michael. Tapi kita semua mendengar bahwa akhirnya dia tumbuh jadi sosok yang labil, penuh problem psikologis, tersiksa dalam banyak sisi dengan segala kemasyhurannya, dan ujung-ujungnya kecanduan obat penenang hingga maut menjemputnya.

Adegan di film itu terlintas di memori gara-gara akhir pekan lalu saya dan istri mengantarkan anak kami untuk ikut lomba di sebuah toserba, dalam rangka tahun baruan masyarakat Tionghoa. Pola kejadiannya nggak persis-persis amat sih, tapi ada sedikit miripnya.

***

Sebenarnya, kami berangkat cuma iseng saja. Awalnya istri saya belanja, lalu seorang karyawan di toko itu membujuknya agar anak kami ikut. "Bu, tolong anaknya diikutkan ya, Bu ini yang daftar sedikit sekali, khawatirnya nanti lombanya batal...." Jadilah jadwal saya tidur seharian di hari Minggu harus saya korbankan demi mengantar anak ke lokasi lomba.

Tiba di TKP, saya pastikan semua baik-baik saja. Segala peralatan sudah dibawa anak saya, tentu yang sesuai kebutuhannya untuk item lomba yang dia pilih, yaitu lomba menghias lampion. Saya pun pergi keluar meninggalkan anak dan istri untuk cari sarapan.

Baru beberapa menit menyeruput kopi dan memainkan asap rokok, datang kiriman Whatsapp dari istri saya. "Pak, anakmu bete, peserta yang lain pada dibikinkan sama ortu mereka."

Waks! Saya kaget, tapi bukan karena mendengar fenomena sosial absurd semacam itu. Kekagetan saya muncul lebih karena dua hal. Pertama, ternyata hari gini yang begituan masiiih saja ada. Kedua, saya sadar bahwa anak kami pasti baru pertama kali mengalaminya, pasti syok dibuatnya, dan sialnya saya sendiri lupa mengantisipasinya.

Kemarin-kemarin, saat anak kami itu berumur 4 hingga 8 tahun, kami tinggal di seberang lautan. Dia beruntung (atau sial?) karena tidak pernah terpapar dengan pemandangan seperti itu. Setelah kami pulang, dua tahun terakhir ini dia memang sempat ikut beberapa lomba di sekolahnya, tapi orangtua tidak ikut menunggu. Pernah satu kali dia jadi peserta lomba spelling bee di luar sekolah, tapi lomba jenis itu tak mungkin melibatkan para "joki".

Sekitar dua jam kemudian lomba menghias lampion selesai. Anak saya keluar lokasi, masih dengan wajah bersungut-sungut. Sejujurnya saya pun cemas. Anak itu punya bakat senang berkompetisi, senang tampil jadi juara, dan sering kecewa terlalu berat saat menghadapi kekalahan. Padahal bapaknya tidak cukup suka dengan kehidupan jenis begitu. Saya tak suka kompetisi, tidak obsesif dengan daya saing, pokoknya jenis manusia yang sangat tidak beraroma Nawacita.

Maka, dalam bayangan saya, saat anak saya kalah di hadapan lawan-lawan yang curang, dia menelan kepahitan ganda. Kasihan sekali. Lebih malang lagi kalau kemudian dia melihat orangtuanya sebagai sosok yang tak mampu membelanya dalam situasi seperti itu. Haduh. Sementara, saya merasa jijay banget kalau cuma untuk urusan seperti itu saja mesti protes ke panitia. Toh bisa dimaklumi kepentingan penyelenggara tak lebih dari meramaikan toko mereka, tidak ada urusan dengan hal-hal semacam pembangunan karakter bangsa hahaha.

Sebagai obat sebel, saya pun kemudian menceritakan peristiwa itu ke teman-teman saya. Biasa, di Facebook. Dan, oh Tuhan Yang Maha Esa, ternyata peristiwa seperti itu dialami oleh banyak sekali orang, mungkin hampir semua teman saya! Ya, hampir semua, sejak zaman dulu kala!

Saya tidak ingin menuliskan ilustrasi kasus-kasus yang dialami teman-teman saya, takutnya nanti dibilang menjiplak cerita buat bahan tulisan hehehe. Pendek kata, mulai lomba-lomba semacam yang diikuti anak saya, hingga lomba melukis dan semacamnya, tak pernah lepas dari perilaku para orangtua yang "mendukung" anak mereka dengan dukungan yang jorok dan memalukan.

Jadi, alih-alih mengajak anak untuk masuk ke dalam iklim persaingan sehat dan sportif, atau agar anak belajar tangguh dalam menerima kegagalan, yang tampak telanjang malah orang-orang yang ingin anak mereka meraih kemenangan dengan cara apa saja. Ya, dengan cara apa saja! Dan yang lebih mencengangkan, fenomena seperti ini ternyata berjalan dengan masif, di mana-mana se-Indonesia Raya!

Saya sempat menduga, hadiahlah tujuannya. Tapi, ketika kemarin saya melihat sendiri beberapa ortu peserta pulang dengan mobil-mobil mewah mereka, tentu piala kecil dan uang senilai 250 ribu sama sekali tak layak jadi motivasi mereka. Berarti, jelas bukan hadiah-hadiah itu tujuannya. Lalu apa?

Segeralah kemudian terlintas bayangan perilaku paling lazim di era empat kosong. Bisa jadi, para orangtua itu cuma ingin anak mereka dapat piala, lalu piala itu mereka jepret dengan kamera HP cap apel krowak keluaran terbaru, untuk kemudian fotonya diunggah di akun Instagram dilengkapi caption indah: "Alhamdulillah, anak kebanggaan Mama. Tetap rendah hati dan selalu bersyukur dalam segala prestasimu ya, Nak."

Bisa jadi, bisa jadi. Masalahnya, sejak jauh sebelum Instagram hadir di muka bumi, kelakuan seperti itu tadi pun sudah mewabah. Lalu sebenarnya ini apa? Apakah para orangtua itu yang miskin prestasi, lalu dendam bawah sadar mereka itu di-titip-paksa-kan kepada anak-anak mereka, tanpa pengajaran nilai kerja keras dan kehormatan sedikit jua? Artinya, apakah sebenarnya ini mimpi-mimpi para orangtua yang haus eksistensi belaka, dengan cara meraih yang bahkan jauh lebih mengerikan dari cara Pak Jackson di film garapan sutradara Karen Arthur itu?

Atau, jangan-jangan memang betul para orangtua itu sungguh-sungguh sedang mengajari anak mereka untuk menghalalkan segala cara, demi kejuaraan dan piala-piala, dan bahkan nantinya demi apa saja yang mereka hasratkan dalam hidup mereka?

Seriously?

***

Parade orangtua yang menyuruh anak-anak untuk terus menetek dan ngumpet di ketiak mereka itu terus berlangsung. Kita melihat para pejabat yang tanpa malu memfasilitasi anak-anak mereka untuk maju jadi calon ini-itu, mumpung bapak mereka masih punya kuasa dan massa. Kita bengong ketika mengetahui menantu pejabat W ternyata memegang proyek X, di saat keponakannya diserahi mengelola lahan Y, dan iparnya diselipkan untuk jadi komisaris di perusahaan Z.

Hebatnya, dengan sangat permisif dan penuh kebijaksanaan kadangkala kita memberikan segunung permakluman.

Bisa jadi, para pejabat itu dan keluarganya, juga para pendukungnya, adalah alumni paling sukses dari lomba-lomba menggambar dan dekorasi lampion, yang membiarkan para orangtua turun tangan menyelamatkan anak-anak mereka hanya demi piala dan secuil eksistensi. Hahaha. Bisa jadi, bisa jadi.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)